Analisis referensial

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Dalam Semantik, terdapat teori-teori yang berkaitan dengan makna, seperti pengertian makna, relasi makna, jenis-jenis makna, perkembangan makna dan sebagainya. Kata makna dalam ilmu semantik sering disebut ‘tanda’ (dalalah). Syihabuddin (dalam Taufiqurrochman, 2008: 24) kata makna secara etimologi berasal dari عنى yang salah satu maknanya adalah melahirkan. Karena itu, makna diartikan sebagai perkara yang dilahirkan dari tuturan. Perkara tersebut ada di dalam benak manusia sebelum diungkapkan dalam sarana bahasa. Sarana ini berubah-ubah sesuai dengan perubahan makna tersebut di dalam benak. Perkara yang terdapat di dalam benak disimpulkan sebagai hasil pengalaman yang diolah akal secara tepat.
Dalam memahami kata, baik yang terucap maupun tertulis, kita seringkali salah menafsirkan makna dari simbol/bunyi kata tersebut. Ini merupakan hal yang wajar terjadi karena informasi yang dimiliki setiap individu berbeda-beda, maka makna/penafsiran yang dihasilkan pun berbeda-beda. Dalam semantik terdapat beberapa teori yang dapat digunakan untuk menganalisis makna dari sebuah simbol/kata. Dalam makalah ini akan dijelaskan beberapa teori tersebut.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud analisis referensial?
2. Apakah yang dimaksud analisis komponen makna?
3. Apakah yang dimaksud analisis kontekstual lingual?

1.3 Tujuan Masalah
1. Untuk mengetahui definisi dan cara kerja analisis referensial
2. Untuk mengetahui definisi dan cara kerja analisis komponen makna
3. Untuk mengetahui definisi dan cara kerja analisis kontekstual lingual
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Analisis Referensial (Nadzariyah Isyariyah)
Dalam melakukan analisis referensial, kita menggunakan teori referensial. Teori Referensial/Isyariyah adalah teori pertama yang berusaha memahami hakekat makna. Teori ini berpendapat bahwa makna sebuah ungkapan kata/kalimat ialah apa yang dirujuknya atau untuk apa ungkapan dipakai. Misalnya, ungkapan “Si Manis”, merujuk pada kucing yang bernama si Manis. Makna yang dihasilkan disebut makna referensial. Pengertian makna referensial dalam semantik adalah hubungan ekspresi linguistik dengan suatu hal yang menjadi acuannya di dunia nyata atau di dunia konseptual. Dalam pengertian yang lebih sempit, istilah referensi didefinisikan sebagai hubungan antara kata atau frasa dan objek spesifik tertentu secara khusus, misalnya hubungan antara frasa mobil Pak Harun dengan “mobil Pak Harun di dunia nyata”. Referensi yang dimaksud pada pengertian makna referensi pertama yang lebih luas biasa disebut referensi semantis (semantic reference) atau referensi kata (word reference). Dan referensi yang dimaksud pada pengertian kedua yang lebih sempit biasa disebut referensi penutuir (speaker’s reference).
Namun demikian, terdapat beberapa ahli yang menolak pembedaan referensi seperti di atas. Bagi mereka, referensi yang dimaksud dalam arti luas, yaitu semantic reference atau word reference, bukanlah referensi, tetapi denotasi. Sebab, referensi bagi mereka lebih mengacu kepada referensi dalam arti sempit, yaitu penggunaan ekspresi linguistik untuk mengacu kepada hal yang bersifat ekstralinguistik secara khusus.
Makna referensial disebut juga makna kognitif karena memiliki acuan. Makna ini memiliki hubungan dengan konsep, sama halnya dengan makna kognitif. Makna referensial memiliki hubungan dengan konsep tentang sesuatu yang telah disepakati bersama oleh (masyarakat bahasa), seperti terlihat dalam hubungan antara konsep (referens) dengan acuan (referent). Hubungan antara kata (lambang), makna (konsep atau referens dan sesuatu yang diacu (referent) adalah hubungan tidak langsung karena kata merupakan lambang (simbol) yang menghubungkan konsep dengan acuan. Misalnya, kata “kamus” mengacu kepada jenis buku tertentu, kata “tebal” mengacu kepada suatu kualitas benda tertentu. Kata-kata seperti “jika, meskipun”, adalah kata-kata yang tidak bermakna referensial karena kata-kata itu tidak mempunyai referens (acuan), atau disebut juga kata bermakna “non referensial” (memiliki makna, tetapi tidak mempunyai acuan).
Berkenaan dengan acuan ini, ada sejumlah kata yang disebut kata-kata deiktik, yang acuannya tidak menetap pada satu wujud, melainkan dapat berpindah dari wujud yang satu ke wujud yang lain. Kata-kata deiktik ini adalah kata-kata seperti pronomina, misalnya dia, saya, kamu; kata-kata yang menyatakan waktu, seperti sekarang, besok dn nanti; kaata-kata yaang disebut kata petunjuk, misalnya ini dan itu. Contoh pronomina kata saya pada kalimat berikut yang acuannya tidak sama.
a. “Tadi pagi saya bertemu dengan Ustadz”, kata Ani kepada Ali.
b. “O, ya?”, sahut Ali, “Saya juga bertemu beliau tadi pagi”.
c. “Dimana kalian bertemu beliau?”, tanya Amir, “”Saya sudah lama tidak jumpa dengan beliau”.
Pada kalimat (a) kata saya mengacu kepada Ani, pada kalimat (b) mengacu pada Ali, dam pada kalimat (c) mengacu kepada Amir.
Menurut teori referensial, sebuah makna tergantung pada sesuatu/acuan yang ditunjukkan oleh kata/kalimat, dan sesuatu itu berada di luar kata/bahasa. Acuan/sesuatu yang berada di luar, jelas tidak terbatas. Oleh karena itu, teori ini berupaya membatasi acuan dengan cara mengklasifikasikan dalam beberapa hal, yaitu:
a. Isim Alam, yaitu acuan berupa benda tunggal yang telah tertentu (mu’ayyan) yang berada di luar bahasa.
b. Kata Kerja, yaitu acuan berupa peristiwa (huduts) yang berada di luar bahasa.
c. Kata Sifat, yaitu acuan berupa karakteristik/sifat benda yang berada di luar bahasa.
d. Ahwal, yaitu acuan berupa karakteristik peristiwa yang terjadi di luar bahasa.
e. Isim Jenis, yaitu acuan pada sesuatu yang belum tertentu, seperti kata pohon, berarti semua pohon yang berada yang diacu di luar bahasa.
Namun, teori referensial ini memiliki kelemahan, yaitu adanya ketidaksamaan antara kata dan acuan. Berikut beberapa kekurangan teori referensial, antara lain:
1. Adanya beberapa kata yang tidak memiliki acuan di luar bahasa, yaitu:
a. Al-Adawaat, seperti إن (sesungguhnya), لعل (semoga), لكن (tetapi), dan sebagainya.
b. Kata-kata yang bermakna kognitif, seperti الصدق (jujur), الصبر (sabar), ظن (mengira), dan sebagainya.
c. Benda-benda tahayul, sperti kuntilanak, tuyul, sundel bolong, dan sebagainya.
d. Benda-benda gaib, seperti jin, malaikat, ifrit.
2. Adanya perbedaan antara makna dan acuan. Terkadang, ada 2 makna tetapi acuannya satu. Misalnya, kata نجمة الصباح (bintng pagi) dan نجمة السماء (bintang sore), kedua kata ini mengacu pada satu benda langit. Contoh lain, ada satu orang, tetapi ia bisa dipanggil dengan beberapa nama/kata misalnya ayah, saudara, paman dan kakek.
3. Jumlah makna ada satu, tetapi acuannya banyak. Misalnya, kata ganti (dhamir) dan kata isyarat, yang secara bahasa semuanya telah memiliki makna tertentu, akan masing-masing isim dhamir/isyarat bisa diacu kepada sejumlah individu/acuan.
4. Terkadang, sebuah acuan telah lenyap dan tinggal maknanya, seperti “Pusat Perdagangan Internasional”, “Istana Babilonia”, “Perpustakaan Iskandariyah”, dan sebagainya.
2.2 Analisis Komponen Makna
Chaer (dalam Hidayatullah, 2008: 43) setiap kata, leksem, atau butir leksikal itu terdiri dari sejumlah komponen yang dinamakan komponen makna, yang membentuk keseluruhan makna kata, leksem, atau butir leksikal tersebut. Komponen makna ini dapat dianalisis, dibutiri, atau disebutkan satu per satu berdasarkan “pengertian-pengertian” yang dimilikinya.
Melalui analisis komponen makna, kita dapat menemukan kandungan makna kata atau komposisi makna kata. Prosedur menemukan komposisi makna kata disebut pula dekomposisi kata. Untuk menemukan komposisi unsur-unsur kandungan makna kata, kita oerlu mengikuti prosedur sebagai berikut:
1. Pilihlah seperangkat kata yang secara intuitif kita perkirakan berhubungan.
2. Temukanlah analogi-analogi di antara kata-kata yang seperangkat itu.
3. Cirikanlah komponen semantik atau komposisi semantik atas dasar analogi-analogi tadi.
Sebagai contoh biasanya dipilih perangkat kata yang menunjukkan atau berhubungan dengan nasbah keluarga. Ambillah perangkat kata “pria, wanita, putra dan putri”. Satu analogi yang dapat dibentuk dari perangkat ini tergambar seperti di bawah ini:
Pria : wanita :: putra : putri
Jika analogi kita shahih, maka perbedaan di dalam dua subperangkat kata itu pertama adalah seks. “Pria dan putra” dikatakan +Jantan, “wanita dan putri” dikatakan –Jantan. Keempat kata itu cocok dengan analogi kedua itu dapat digambarkan seperti di bawah ini:
Pria : putra :: wanita : putri
Analogi kedua yang menunjukkan perbedaan antara perangkat nasabah sejenis kelamin ini ialah kedewasaan. “Pria dan Wanita: secara intuitif adalah +Dewasa sedangkan “putra dan putri” –Dewasa. Hasil analisis komponen semantik kita akan berbentuk sebagai berikut:
Pria wanita putra putri
+Jantan -Jantan +Jantan -Jantan
+Dewasa +Dewasa -Dewasa -Dewasa
Dekomposisi semantik kata itu dapat dilanjutkan sampai dengan penemuan komponen makna yang terkecil yang membedakan dua kata atau lebih . dekomposisi di atas bersifat sederhana dan tradisional. Kita dapat menambahkan komponen kandungan ‘insani, bernyawa, terbatas’.
Analisis komponen makna kata dapat membawa beberapa manfaat untuk analisis semantik, baik semantik kalimat maupun semantik ujaran. Kami dapat menggambarkan manfaat analisis komponen seperti di bawah ini.
1. Analisis komponen semantik makna kata dapat memberi jawab mengapa beberapa kalimat benar, mengapa beberapa kalimat lain tidak benar, dan mengapa beberapa kalimat bersifat anomali. perhatikanlah kalimat-kalimat contoh berikut ini.
Kalimat yang kebenarannya berlaku di mana-mana atau dikataakan kalimat analitis benar atau singkatnya kalimat analitis:
1. Suaminya seorang laki-laki.
2. Ibu saya seorang perempuan.
3. Tetangga kami yang hamil itu seorang wanita.
Kalimat yang bertentangan dalam dirinya atau kalimat berkontradiktoris in terminis:
4. Pria itu melahirkan.
5. Paman saya seorang perempuan.
6. Tetangga kami yang hamil itu seorang pria.
Kalimat yang bersifat anomali:
7. Tebing itu jantan.
8. Ibu saya dirakit.
9. Tetangga kami yang hamil itu geomatris.
Kita dapat mengatakan bahwa kalimat-kalimat itu analitis, kontradiktoris, dan anomali karena komponen-komponen makna kata dalam kalimat itu berkecocokan, bertentangan, dan tidak berhubungan/berkecocokan.
2. Dengan analisis komponen atau komposisi makna kata, kita meramal hubungan antara makna. Hubungan antara makna dibedakan secara umum atas lima tipe, yitu kesinoniman, keantoniman (kontradiktoris dan kontrer), keberbalikan, dan kehiponimian.
3. Pakar semantik seperti Bierwisch (1970), Katz (1972), dan Leech (1974) telah mendesain satu sistem logika yang memungkinkan komponen semantik dipakai sebagai alat uji bahwa kalimat-kalimat (1) sampai dengan (3) bersifat analitis, (4) sampai dengan (6) bersifat kontradiktoris in terminis, dan kalimat (7) sampai dengan (9) bersifat anomali. Jika kita mendengar kalimat (10) “Sekretarisnya seorang pria”, maka secara logis dengan dasar komponen/komposisi semantik kata “pria”, kita akan berkesimpulan bahwa sekretarisnya itu “dewasa” dan “berseks jantan”.
Demikian sekilas gambaran tentang manfaat analisis komponen semantik dalam analisis semantik. Akan tetapi, analisis komponen juga mempunyai keterbatasan. Analisis komponen tidak dapat diterapkan pada semua kata karena komponen/komposisi semantik kata berubah-ubah, bervariasi, bertumpang tindih baik pada kata-kata intrabahasa maupun antarbahasa. Selain itu, analisis komponen bahasa lebih banyak dilakukan pada kelas kata nomen. Sedangkan belum banyak dilakukan pada kelas kata verbum dan adjektif.
Klasifikasi semantik verbum atau analisis komponen verbum telah dilakukan oleh Wallace Chafe. Wallace Chafe membedakan/mengelompokkan verbum secara semantis atas verbum keadaan, verbum proses, verbum aksi, dan verbum verbum aksi proses. Kita dapat membedakan “Udara sekarang panas” dan “Udara sekarang memanas”. Kalimat pertama menggambarkan keadaan dan kalimat kedua melukiskan satu proses. Kita perlu mempertimbangkan kelompok verbum untuk nomen insani, nomen noninsani, dan nomen noninsani nonnyawa. Verbum “tumbang” bahasa Indonesia dipakai untuk nomen noninsani nonnyawa, misalnya “Pohon tumbang”. Dengan klasifikasi semantik verbum atau dekomposisi semantik verbm, kita kelak dapat menjelaskan metafora dalam stufdi semantik.
Analisis komponen/komposisi semantik adjektif belum banyak dilakukan dalam studi semantik linguistik. Salah satu ciri komponen semantik adjektif ialah rentang positif dan negatif, misalnya “baik-jahat, benar-salah, panjang-pendek”. Rentang semantik adjektif positif-negatif ini telah menarik perhatian beberapa pakar psikologi dlam penelitian mereka untuk menggali penilaian yang bersembunyi dari subjek-penelitian.
2.3 Analisis Kontekstual Lingual (Nadzariyah Siyaqiyah)
Menurut teori ini, cara untuk memahami makna bukan dengan melihat, mendeskripsikan, atau mendefinisikan acuan/benda. Akan tetapi, makna dipahami melalui konteks kebahasaan (siyaq lughawi) yang digunakan dan konteks situasi-kondisi (siyaq hal-mawqif) pada saat ungkapan itu terjadi. Oleh karena itu, studi tentang makna perlu menganalisis konteks kebahasaan dan konteks situasi-kondisi secara sekaligus, tepat dan cermat.
Konteks (siyaq) menurut bahasa berarti kesesuaian dan hubungan. Di sini, konteks berarti lingkungan kebahasaan (intra-lingual) dan luar-kebahasaan (ekstra-lingual) yang meliputi wacana dan mengungkap maknanya.
a. Konteks Bahasa (Siyaq Lughawi)
Yaitu lingkungan kebahasaan (intra-lingual) yang mencakup bagian-bagian bahasa seperti kosakata, kalimat dan wacana. Unsur-unsur intra-lingual dibedakan menjadi enam aspek, yaitu:
1. Struktur Fonem (Tarkib Shauti)
Yaitu konteks/kesesuaian fonemik yang membentuk makna. Misalnya, kalimat نام الولد (anak itu tidur). Dari aspek fonemik, kedua kata yang membentuk kalimat ini dapat dibatasi maknanya berdasarkan fonem sehingga makna ungkapan ini bisa dibedakan dengan ungkapan lain.
2. Struktur Morfologis (Tarkib Sharfi)
Yaitu perubahan struktur morfem pada sebuah kata, juga dapat mengubah makna. Morfem kata الولد pada contoh نام الولد adalah kata benda tinggal, mudzakkar, marfu’. Kata الولد tidak sama dengan الولادة، لمولودا، الوالد، الأولاد، الولدان dan seterusnya, sebab masing-masing morfem memiliki konteks makna yang berbeda.
3. Struktur Sintaksis (Tarkib Nahwi)
Struktur sintaksis di sini dibedakan menjadi dua macam, makna sintaksis umum dan makna sintaksis khusus. Makna sintaksis umum adalah makna gramatikal secara umum yang dapat dipahami dari sebuah kalimat atau ungkapan. Misalnya:
– أحمد مسافر (makna sintaksis: kalimat berita ‘Ahmad pergi’).
– لم يسافر أحمد (makna sintaksis: kalimat negatif ‘Ahmad tidak/belum pergi’).
– متى يسافر أحمد؟ (makna sintaksis: kalimat tanya ‘Kapan Ahmad pergi?’).
Sedangkan makna sintaksis khusus adalah makna gramatikal khusus yang dipahami melalui kedudukan kata dalam kalinat. Contoh:
– الولد نام (makna sintaksis khusus dari الولد adalah fail/subyek).
– الولدَ ضربتُ (makna sintaksis khusus dari الولد sebagai maf’ul bih atau obyek).
Lebih daripada itu, sebuah ungkapan yang secara gramatikal berbeda dengan ungkapan lain, juga bisa membedakan makna. Perhatikan kedua contoh berikut ini.
– ما ضربتُ زيدًا (artinya: Aku tidak memukul Zaid).
– ما زيدا ضربتُ (artinya: Bukan Zaid yang ku pukul).
Kalimat pertama adalah kalimat negatif yang menjelaskan bahswa kamu tidak melakukan pemukulan terhadap Zaid dan tidak mengisyaratkan adanya korban lain. Sedangkan informasi pada kalimat kedua menjelaskan bahwa kamu tidak memukul Zaid, namun dari ungkapan yang mendahulukan obyek ini menunjukkan bahwa kamu memukul orang lain, jadi kamu tetap melakukan pemukulan, tetapi bukan terhadap Zaid.

4. Struktur Leksikal (Tarkib Mu’jami0
Yaitu hal yang berkaitan dengan kosakata kamus (leksim) dan karakteristik bidang makna pada kata/leksem tersebut. Dengan kata lain, setiap leksim memiliki karakter makna yang bisa membedakan dengan leksem lainnya. Misalnya, ungkapan نام أبوك (ayahmu tidur). Leksem نام tidak sama maknanya dengan نعش، جلس، استيقظ، صحا dst. Demikian juga, leksem أبو berbeda dengan عمّ، جدّ dst.
5. Unsur Idiomatik (Mushahabah)
Yaitu keberadaan makna sebuah kata/leksem masih tergantung dengan kata lain yang selalu menyertainya. Disebut juga dengan idiom. Misalnya, kata أنف berarti ‘hidung’, bisa berubah makna ketika kata أنف bersamaan atau beridiom dengan kata lain. Contoh: أنف القوم (pemimpin kaum), أنف النهار (awal waktu siang), أنف الدهر (abad pertama) dst.
6. Unsur Pragmatik (Uslub)
Yaitu perbedaan unsur gaya bahasa (uslub) yang berada dalam wacana dapat memberi arti lain sebuah ungkapan. Contoh:
– عمرو يقدم رجلا ويؤخر رجلا (berarti: Amr sedang bingung)
– زيد كثير الرماد (berarti: Zaid seorang dermawan)
– أحمد لا يضيع عصا الترحال (berarti: Ahmad sering bepergian)
b. Konteks Situasi-Kondisi (Siyaq Mawqif-Haq)
Makna leksikal (arti kamus) tidak bisa mencakup maakna utuh sebuah ungkapan, sebab unsur-unsur lain di luar bahasa juga memberi andil besar dalam memahami makna. Misalnya, unsur kepribadian penutur, pribadi pendengar, hubungan antar kedua pihak, situasi dan kondisi pada saat ungkapan terjadi seperti pakaian, tempat, mimik wajah, dan sebagainya, semua turut mempengaruhi makna sebuah ungkapan.
Teori konseptual berpendapat, mempercayai makna hanya sebatas pada ungkapan bahasa merupakan pemahaman yang salah, sebab antara ungkapan bahasa dan konteks bahasa adalah dua unsur yang mesti ada dan keduanya saling melengkapi. Aspek konteks yang perlu dipertimbangkan dalam memahami makna, antara lain:
1) Bahasa Perbuatan (Al-Kalam Al-Fi’li)
Yaitu peristiwa/situasi pada saat terjadinya ungkapan.
2) Karakter Penutur Bahasa (Thabi’ah Al-Mutahadditsin)
Yaitu sifat-sifat yang dimiliki para penutur bahasa pada saat ungkapan terjadi. Misalnya, pembicaraan anak kepada orang tua, majikan kepada pembantu, dan sebagainya.
3) Karakter Tema Pembicaraan (Thabi’ah Al-Asyya’)
Yaitu tema pembicaraan yang berlangsung. Misalnya, seseorang bertanya, “Apakah kamu membawa uang?”, lalu pendengar menjawab, “Waktunya tidak tepat”. Tema pembicaraan tidak bisa dipahami tanpa mengetahui karakter penutur bahasa dan tema pembicaraan yang berlangsung.
4) Aksi/Situasi Bahasa (Al-Af’al Al—Mushahabah li Al-Kalam)
Yaitu aksi atau sikap penutur di saat ungkapan bahasa berlangsung, apakah ia sedang marah? Bercanda? Dan seterusnya.
5) Waktu Pembicaraan (Zaman Al-Kalam)
Yaitu waktu berlangsungnya pembicaraan, apakah di pagi hari? Siang? Malam? Dan seterusnya. Misalnya, ketika seorang teman akan menuangkan air kopi ke gelas andaa, lalu anda berkata: “Aku akan rapat pada jm 07.00, kopi ini bisa mengusir rasa kantuk”. Jika ungkapan ini terjadi 1 jam sebelum rapat berlangsung, berarti anda ingin minum kopi. Tetapi, jika ungkapan ini terjadi 7 jam sebelum rapat, mungkin saja anda tidak ingin minum kopi sebab anda akan beristirahat atau melakukan persiapan lainnya.
c. Konteks Sosial-Budaya (Siyaq Tsaqafi-Ijtima’i)
Yaitu situasi sosial atau budaya pada saat ungkapan bahasa terjadi. Mkna sebuah ungkapan dapat berubah karena perbedaan aspek sosial atau budaya. Misalnya, kata جذر bagi ahli tumbuhan berarti “benih”, lain halnya bagi ahli bahasa ia berarti “asal kata”, sedangkan ahli matematika memahaminya “akar pangkat”.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
a. Analisis referensial berpendapat bahwa makna sebuah ungkapan kata/kalimat ialah apa yang dirujuknya atau untuk apa ungkapan dipakai.
b. Makna yang dihasilkan disebut makna referensial, yang mana didefinisikan sebagai hubungan antara kata atau frasa dan objek spesifik tertentu secara khusus.
c. Komponen makna adalah setiap kata, leksem, atau butir leksikal itu terdiri dari sejumlah komponen, yang membentuk keseluruhan makna kata, leksem, atau butir leksikal tersebut.
d. Analisis komponen makna menganalisis komponen-komponen yang terdapat dalam suatu/beberapa kata untuk menemukan perbedaan antar kata.
e. Analisis kontekstual lingual adalah cara untuk memahami makna bukan dengan melihat, mendeskripsikan, atau mendefinisikan acuan/benda. Akan tetapi, makna dipahami melalui konteks kebahasaan (siyaq lughawi) yang digunakan dan konteks situasi-kondisi (siyaq hal-mawqif) pada saat ungkapan itu terjadi.

DAFTAR PUSTAKA

Taufiqurrochman, H.R. Leksikologi Bahasa Arab. Malang: UIN Malang Press. 2008
Subuki, Makyun. Semantik Pengantar Memahami Makna Bahasa. Jakarta: Transpustaka. 2011
Parera, J.D. Teori Semantik. Jakarta: Erlangga. 2004
Hidayatullah, Moch. Syarif. “Analisis Komponen Makna dan Makna Leksem dalam Kontruksi Kalimat Uli Al-Amr dan Amir Al-Mu’minin. Al-Turats, Vol. XIV, No. 1, Januari 2008.
http://file.upi.edu/Direktori/DUAL-MODES/KEBAHASAAN_I/BBM_7.pdf
https://id.scribd.com/doc/186666234/Makna-Referensial-Dan-Makna-Konseptual

Please rate this

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.