KAJIAN SASTRA BANDINGAN (ARAB-PERSIA)

Oleh : WAHYU

A. Pendahuluan

Seseorang yang menelusuri sejarah sastra suatu bangsa, maka dia akan menemukan adanya interaksi antara sastra bangsa tersebut dengan sastra bangsa lainnya.

Bahasa Arab merupakan bahasa yang memiliki keistimewaan tersendiri dibanding dengan bahasa lainnya. Salah satu keistimewaannya adalah bahwa bahasa tersebut merupakan Bahasa kitab suci Al-Quran yang terjaga dari tahrif dan tabdil.

Meskipun demikian, bukan berarti bahasa arab tidak terpengaruh sama sekali oleh bahasa lainnya. Dalam hal ini Bahasa Persia mempunyai andil besar dalam memberikan pengaruh terhadap Bahasa arab. Sebaliknya, Bahasa arab juga mempunyai andil besar dalam mempengaruhi bahasa Persia. Begitu pula keterpengaruhan dalam hal kesusastraan kedua bangsa. Hal tersebut tentunya disebabkan beberapa faktor, salah satunya adanya interaksi antara kedua bangsa disamping letak geografis antara kedua bangsa yang saling berdekatan.

Tulisan ini akan memaparkan akan sejarah perkembangan dan karakteristik sastra arab dan sastra Persia, hubungan kedua bangsa secara historis, serta keterpengaruhan kedua Bahasa.

B. Perkembangan dan karakteristik sastra Arab dan Persia

  1. Sastra Arab

Sastra Arab sudah ada dan terus berkembang sejak awal kemunculan bahasa tersebut. Sastrawan di setiap zaman mewarnai perkembangan sastra tersebut. Mereka berasal dari berbagai latar belakang budaya. Ada yang berasal dari budaya Mesir, Persia, Yunani, dan banyak lagi.

Pada zaman Arab pra-Islam, puisi Arab menjadi fondasi utama dan dipandang sebagai sandaran dalam kaidah berpuisi. Dari sudut pandang prosodic, secara praktik, semua memang merujuk pada masa tersebut. Model puisi yang lazim pada masa itu adalah puisi dengan enam belas bahr, dengan qofiyah (rima tunggal). Genre yang sering ditulis dan menjadi domain puisi zaman pra-Islam adalah : Kepahlawanan (fakhr).

Dengan kelahiran Islam, muncul beberapa perubahan dalam tatanan hidup dan ideologi bangsa Arab. Perkembangan penting setelah berdirinya agama baru tersebut adalah munculnya model puisi-puisi baru, terutama pada masa dinasti Umayyah yaitu puisi cinta, juga melahirkan penyair-penyair Naqa’id, seperti Jarir dan Farazdaq yang sampai beberapa tahun saling berdebat lewat puisi-puisi mereka. Pada masa Dinasti ini, muncul pula tema-tema politik dan polemik yang menggambarkan pergulatan politik dan aliran keagamaan. Pada masa ini tugas utama penyair istana adalah menggubah puisi yang berkisah tentang prestasi yang telah dicapai oleh para pembesar kerajaan dan mengabadikan nama mereka di dalamnya.

Sastra Arab berkembang di bawah kekuasaan Abbasiyah yang berkuasa di Baghdad pada pertengahan abad kedelapan. Pada masa ini muncul genre deskriptif, terutama dalam puisi-puisi Abu Nawas dan model puisi-puisi alam yang menggambarkan pemandangan gurun. Selain itu masa ini berkembang pula puisi sufistik yang mencapai puncaknya dalam karya penyair Mesir, Ibnu-Farid (1182-1235). Selain itu Prosa Arab mulai mengambil tempat disamping puisi. Prosa Arab pada waktu itu banyak dikembangkan oleh al-Jahiz (776-869 M).

Pada masa Mamalik dan Utsmany, para penyair lebih terfokus pada bentuk dan area ekspresi, kelihaian verbal mereka pada akhimya mengalami degradasi dan jatuh dalam akrobat kata-kata semata. 

2. Sastra Persia

Kebudayaan Persia merupakan salah satu kebudayaan tertua di dunia, begitu pula kesusasteraan nasionalnya. Pada awalnya bahasa yang dipergunakan ialah Bahasa Avesta, yaitu satu daripada dialek bahasa Iran Purba yang digunakan untuk penulisan kitab suci agama mereka. Pada zaman berikutnya bahasa Pahlewi (Bahlawiyyah) yang dipergunakan dalam penulisan.

Pada tahun 651 M kemaharajaan Persia di bawah kekuasaan Bani Sassan berakhir. Bangsa Arab di bawah kepimpinan Bani Umayyah menakluki negeri Persia dalam peperangan besar yang berlangsung lebih kurang sepuluh tahun lamanya. Kedatangan bangsa Arab dan Islam membuat kedudukan bahasa Persia dan huruf Pahlewinya tenggelam, diganti oleh bahasa Arab. Bahasa Persia tidak digunakan lagi sebagai bahasa resmi dan huruf Pahlewi diganti oleh huruf Arab. Walaupun demikian tidak berarti bahasa Persia tidak dipergunakan lagi dalam percakapan sehari-hari. Kerana besarnya pengaruh bahasa dan huruf Arab, lama kelamaan bahasa Persia banyak mengambil kosa kata Arab dan tumbuh menjadi bahasa baru dengan menggunakan huruf Arab. Bahasa Persia yang dipengaruhi bahasa Arab inilah yang kemudian berkembang menjadi bahasa Persia baru dan dipergunakan sebagai bahasa kesusasteraan baru.

Pada awal abad ke-8 M, pergerakan kebangsaan mulai Persia muncul. Pergerakan ini dipelopori oleh beberapa cendekiawan terkemuka. Salah satu misi pergerakan ini ialah menghidupkan kembali kesesusasteraan dalam bahasa Persia. Pergerakan ini berjasa menghidupkan semula perkembangan bahasa dan kesusasteraan Persia.

Pada tahun 750 M dinasti umayyah runtuh. Tampuk pemerintahan diambil oleh dinasti Abbasiyyah. Pada zaman inilah semakin ramai cendekiawan Persia memainkan peranan penting dalam pendidikan, kegiatan keagamaan, ilmu pengetahuan, filsafat dan kesusasteraan. Kesusasteraan Persia terus berkembang, dan dapat menandingi perkembangan kesusasteraan Arab.

Pada saat runtuhnya kekhalifatan Abbasiyah oleh Mongol, kesusasteraan Arab mengalami kemerosotan di negeri Islam sebelah timur. Sebaliknya kesusasteraan Persia mulai menapak zaman kejayaannya. Antara abad ke-13 sampai abad ke-17 karya-karya bercorak Islam yang dihasilkan para penulis Persia lebih banyak dibandingkan karya-karya sejenis yang dihasilkan oleh penulis Arab.

Seperti halnya perkembangan kesusasteraan dunia yang lain, perkembangan kesusasteraan Persia juga dimulai dengan perkembangan puisinya. Penyair yang dipandang paling awal menulis dalam bahasa Persia Islam ialah Abu al-Abbas. Beliau menulis qasidah yang dipersembahkan kepada Sultan Makmun pada tahun 809 M.

Setelah era Abu al-Abbas, para penyair Persia mulai ramai bermunculan. Di antaranya ialah Hanzala, Mahmud Warraq, Abu Salik Jurjani, Muhammad bin Wasif Sukri, Firouz Masyriqi dan lain-lain. Penyair-penyair ini menulis qasidah, sajak-sajak cinta dan kepahlawanan (fakhr), serta sajak-sajak kritikan sosial.

Pada abad ke-10 M, puisi Persia mulai mencapai zaman kematangannya. Bani Samman yang memegang tampuk pemerintahan selama lebih kurang 90 tahun merupakan pelindung utama kebudayaan dan kesusasteraan Persia. Dalam istana beliau, berpuluh-puluh sastrawan dan cendekiawan bekerja mengembangkan kebudayaan Persia dan pendidikan agama Islam. Diantara penyair-penyair penting pada zaman Bani Samman ialah Rudagi yang berasal dari Samarkand. Beliau menghasilkan banyak sajak, beliau juga mengubah kisah Kalilah wa Dimnah menjadi puisi naratif yang panjang dan sangat indah penyajiannya.

Walaupun agak lambat perkembangannya dibanding puisi, prosa juga telah mulai ditulis pada abad ke-9 oleh penulis-penulis Persia. Di antara karya prosa awal yang muncul dalam bahasa Persia Islam ialah Hikayat Pembrontakan Hamzah menentang khalifah Abbasiyah.

Pada zaman pemerintahan Bani Ghaznawi, kematangan kesusasteraan Persia semakin nampak. Sastrawan yang terkenal salah satunya ialah Abu al-Qasim al-Firdawsi. Karya beliau Shah-Namah yang ditulis dalam bentuk puisi naratif yang indah, menceritakan kepahlawanan raja-raja Persia lama, terutama raja-raja Bani Sassan.

Perkembangan kesusasteraan yang subur pada zaman Bani Ghaznawi disokong pula oleh perkembangan sains, filsafat dan tasawuf. Karenanya tidak mengherankan apabila sebagian besar hasil-hasil kesusastraan Persia sejak abad ke-17 sampai masa modern sangat dipengaruhi oleh tasawuf dan filsafat.

C. Keterpengaruhan Kedua Sastra

  1. Hubungan Historis Antara Persia dan Arab

Hubungan antara kedua bangsa ini sebenarnya sudah sangat lama sekali, hal ini tidak lepas dari letak geografis kedua bangsa yang saling bersampingan. Sejarah mencatat bahwa bangsa pertama yang berinteraksi dengan bangsa Persia adalah bangsa Arab.

Hubungan antara kedua bangsa ini semakin erat pada masa daulah Assasaniyyah, sampai-sampai salah seorang raja Sasani yang bernama Yazdajard mengutus putranya yang bernama Bahramakur ke daerah Alhaerah untuk mengawasi kinerja para pemimpin di sana. Disitulah Bahramakur belajar budaya Arab, menunggang kuda, dan belajar merangkai syair Arab. Bahramakurlah orang yang pertama kali merangkai syair dalam bahasa Persia.

Hubungan antara kedua bangsa ini semakin erat setelah masuknya islam ke Persia. Para penduduk Persia masuk agama islam dan meninggalkan agama mereka sebelumnya,  disaat itu pula bangsa Persia menjadi bagian dari ummat islam. Mereka mulai belajar Al-qur’an, dan mengganti bahasa mereka dengan bahasa Arab. Hal itu mereka lakukan dengan berbagai alasan antara lain:

  1. Agar mereka mampu membaca Al-qur’an
  2. Mampu berinteraksi dengan orang Arab yang menyebarkan islam di Persia
  3. Mampu menjadi pegawai di pemerintahan yang notabene dipimpin oleh orang-orang Arab.

Interaksi bangsa Persia dengan bahasa Arab ini berlangsung sampai penghujung dinasti bani Umayyah dan awal berdirinya dinasti Abbasiyyah. Setelah itu mereka mulai kembali ke bahasa mereka terdahulu yang hampir dua abad mereka tinggalkan yaitu Bahasa Pahlewi. Kendati demikian, aroma Bahasa Arab masih terasa kental pada Bahasa Pahlewi kali ini. Hal ini dapat dilihat dengan tetap dipakainya beberapa kosa kata dan istilah-istilah Bahasa Arab pada Bahasa Pahlewi “wajah baru” ini.

Disaat bangsa Mongolia menguasai wilayah islam yang ditandai dengan runtuhnya ibukota dinasti Bani Abbasiiyah yaitu Baghdad ditangan Mongolia, maka wilayah Persia, Jazirah Arab, dan wilayah Asia menjadi satu wilayah dibawah kekuasaan bangsa Mongolia. Hal ini semakin memperkuat interaksi antara bangsa Persia dan bangsa Arab.

Adapun di era modern, yaitu era setelah runtuhnya dinasti Turki Usmani, dan berakhirnya masa kolonial bangsa barat, hubungan bangsa Persia dalam hal ini bangsa Iran dengan bangsa Arab masih kuat. Hal ini dapat di buktikan dengan adanya saling tukar budaya antara kedua belah bangsa berupa tulisan maupun majalah dan lainnya.

Dengan demikian terdapat hubungan yang erat antara bangsa arab dan Persia sejak sebelum islam datang sampai di era modern.     

2. Hubungan Antara Sastra Arab dan Sastra Persia

Hubungan antara sastra Arab dan sastra Persia sejatinya sudah  terjalin sejak kedua bangsa berdekatan. Sastra Persia lah sastra pertama yang berinteraksi dengan sastra Arab. Bahasa Arab digunakan secara meluas di Persia diberbagai forum. Hal ini tentunya berdampak pada “punah”nya bahasa asli mereka yaitu Bahasa Pahlewi. Keadaan ini berlangsung kurang lebih selama dua abad. Dan ketika bangsa Persia ingin kembali kepada Bahasa mereka yang asli, mereka menemukan banyak sekali kendala terutama mereka sendiri sudah lupa akan Bahasa mereka sendiri, sehingga pada beberapa kosakata, mereka terpaksa “meminjam” kosa kata dari bahasa Arab.

Puncaknya adalah masa keemasan Islam sampai akhir abad pertengahan. Banyak para intelektual muslim Persia melanjutkan studi ke kota Baghdad yang saat itu menjadi kiblat pengetahuan. Salah satu yang cukup dikenal, pakar bahasa Arab bernama Sibawaih asal Shiraz yang banyak berjasa dalam menyusun tata bahasa Arab dengan karya fenomenalnya yang diberi nama “Alkitab”

Bahasa Persia juga memakai wazan-wazan puisi dan rima (qofiyah)nya bahasa Arab, dan juga terdapat istilah-istilah ilmu ‘arudl seperti fasilah shugro dan fashilah kubro, al-autad dan lain sebagainya. Karenanya, syair-syair Persia hampir mirp dengan syair-syair Arab.

Dalam bidang qosos (hikayat/ cerita), kisah-kisah yang Persia angkat juga meniru kisah-kisah yang diusung oleh hikayat sastra Arab seperti kisah keadilan umar bin khottob, keadilan umar bin abdul aziz, kezaliman al-Hajjaj dan yang lainnya.  

Adapun pengaruh Bahasa Persia terhadap bahasa Arab sejatinya juga sudah ada sebelum datangnya islam, hal ini dapat kita lihat pada puisi al-A’sya yang pada salah satu syairnya sempat menyinggung daulah sasan dan istana kisra:

فما أنت إن دامت عليك بخالد ### كما لم يخلد قبل ساسا ومورق

وكسرى شهنشاه الدي سار ملكه ### له ما اشتهى راح عتيق وزنبق

Beberapa kalimat bahasa Arab diyakini diserap dari bahasa Persia. Seperti kata: بستان، نرجس، قیروان، قهرمان، تاج  Dari sini dapat kita pahami bahwa terdapat pengaruh Bahasa Persia dalam bahasa arab.

Puncaknya ketika munculnya para penyair Arab yang notabene mempunyai darah keturunan Persia seperti Abu Nawas, Basyar bin Burd dan lainnya. Disana kita akan menemukan beberapa puisi yang ditulis dalam bahasa Arab namun maknanya lebih dekat dengan bahasa Persia. Contohnya puisi Abu Nawas yang berbunyi:

تدار علينا الراح في عسجدية … حبتها بأنواع التصاوير فارس

قرارتها كسرى وفي جنباتها … مهاً تدريها بالقسي الفوارس

فللخمر ما ذرت عليه جيوبها … وللماء ما دارت عليه القلانس

Lalu ada pula seorang penyair yang bernama Sa’di al-Syirazi membuat puisi dalam dua bahasa Arab dan Persia. Begitu pula jalaluddin el Rumi juga membuat syair dengan dua Bahasa dalam satu bait yaitu:

جملة كفتند أي حكيم باخبير ### الحذر دع ليس يغني من القدر

تاتوا في دم مزن اندر فراق #### أبغض الأشياء عندي  الطلاق

Hal ini menegaskan bahwa terdapat keterpengaruhan antara sastra Arab dan sastra Persia.

Daftar Bacaan

  • Al-Hufi, Ahmad Muhammad, Tayyaaraat Tsaqaafiyya Baina al-Arab wa al-Furs, Mesir: Dar an-Nahdhah, 1978
  • ‘Azzam, ‘Abdul Wahhab, As-Silaat Baina al-Arab wa al-Furs wa Adabiha fi al-Jahiliyyati wa al Islam, kairo: Muassasah Hindawi, 2013
  • Faisal, Husein, Ma Baina al-Adab al-Arabi wa al-Farisi Haula Qissoti laila wa al-Majnun, al-Quds: Majallah al-Quds University, 2007
  • Kamil, Sukron Teori Kritik Sastra Arab Klasik dan Modern, Jakarta: Rajawali Pers, 2009
  • Nada, Toha, al-Adab al-Muqaran, Kairo: Dar al-Ma’arif, 1980

Please rate this

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.