MAKALH KAJIAN MAKNA

Latar Belakang
Keberadaan bahasa pada dasarnya tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia, terutama dalam kehidupan bermasyarakat yang menuntut manusia tersebut berhubungan dan bekerja sama dengan sesamanya, sehingga untuk memenuhi hasratnya sebagai makhluk sosial yang perlu berinteraksi dengan orang lain, maka manusia memerlukan alat yang disebut bahasa. Bahasa memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia, dengan bahasa manusia dapat menyampaikan berbagai gagasan, pikiran, dan perasaannya.
Selain itu, bahasa juga merupakan sistem tanda. Hal ini mengandung arti bahwa bahasa yang digunakan itu mewakili hal atau benda yang berkaitan dengan segala aspek kehidupan masyarakat. Secara eksplisit, bahasa itu memiliki makna. Dengan demikian, bahasa dapat digunakan untuk fungsi komunikatif kepada sesama pengguna bahasa. Ujaran yang secara struktur bunyi, dan morfologis-sintaksis sama, tidak selalu mempunyai tujuan dan fungsi sama. Misalnya, seorang guru mengatakan “Wah, papan tulisnya kotor sekali Nak.” Ujaran tersebut memang berupa kalimat deklaratif, namun ketika ujaran itu disampaikan di kelas bisa jadi memiliki makna suruhan. Hal-hal semacam inilah yang akan dikaji melalui makalah ini. Dalam makalah ini akan membahas sebagian kecil dari tindak tutur. Dalam memaknai suatu wacana terdapat dua hal yang kontroversial satu diantaranya adalah semantik tindak tutur dan yang kedua adalah semantik kondisi kebenaran. Keduanya adalah pendekatan untuk memaknai suatu wacana.
Tindak tutur mendekati makna wacana dengan menekankan pada aspek Sosio psikologis sedangkan kondisi kebenaran mendekati makna wacana berdasarkan kondisi kebenaran. Sebuah pernyataan mempunyai arti Apabila ada kondisi kebenaran yang menjamin kebenaran pernyataan tersebut.
Hampir di setiap disiplin ilmu terdapat kontroversi dalam pemaknaan suatu pernyataan. Dari kontroversi inilah kemudian lahir perbedaan-perbedaan di suatu cabang ilmu contohnya dalam cabang agama lahir mazahib al arba’ah kemudian dalam cabang linguistik lahir kontroversi antara kubu phusis dan thesis .
Pada dasarnya kontroversi ini sangat mendukung perkembangan ilmu pengetahuan atau teori yang dalam perkembangannya bersifat akumulatif.
Kontroversi semacam ini lah yang kemudian memberikan angin segar bagi para peneliti untuk selalu mengkaji menguji dan menemukan teori-teori baru dalam kontroversi ini paradigma dari masing-masing kubu kemudian dicarikan benang merahnya untuk saling melengkapi dan menyempurnakan kekurangan yang ada pada masing-masing paradigma usaha penyempurnaan ini atau usaha untuk menyempurnakan paradigma ini kemudian menghasilkan peningkatan kualitas teori yang sedang dianut Selain itu perbedaan ini disikapi secara objektif jika dioksidasi secara objektif akan menciptakan kondisi sosial yang saling menghargai menghormati dan saling mengakomodasi.
Di bidang semantik dalam memaknai wacana ada dua kubu yang berbeda yang pada dasarnya disebabkan adanya perbedaan pendapat pendekatan dalam memaknai wacana tersebut seperti dituliskan di atas dua kubu tersebut adalah Semantik kondisi Kebeneran dan Semantik Tindak Tutur; kubu yang pertama menekankan pada fakta konkrit sedangkan kubu yang kedua lebih menekankan pada aspek aspek Sosio psikologis.
2. Pembahasan
A. Semantik Kondisi Kebenaran
Teori ini dikenalkan oleh seorang ahli logika bernama Traski. Traski menyatakan bahwa suatu kebenaran suatu wacana atau suatu pernyataan dikatakan bermakna Apabila ada kebenaran kondisi kebenaran yang menjamin kebenaran pernyataan tersebut jika tidak maka tidak bermakna apa-apa.Abdul Wahab dalam suatu makalah yang disajikan pada seminar nasonal Semantik I di UNS Solo menyatakan bahwa sebuah pernyataan mempunyai arti bila ada kondisi kebenaran yang menjamin kebenaran pernyataan itu, jika kondisi kebenaran itu tidak ada maka pernyataan tersebut tidak bermakna apa-apa .
Dalam melogikakan teorinya Traski menggunakan rumus sebagai berikut;
(1) SBenar jika dan hanya jika p
Di mana S adalah makna kalimat dan P adalah kondisi kebenaran yang menjamin kebenaran kalimat itu. Contoh ilustrasi yang digunakan untuk menjelaskan teorinya adalah :
Snow is white benar, jika dan hanya jika salju itu putih
Kalimat tersebut memiliki kondisi kebenaran makna karena memang salju hanya berwarna putih.
Sedangkan kalimat :
Kuning adalah warna pelangi
Jika dilihat dengan kacamata Traski maka kalimat ini tidak memliki kebenaran makna, karena tidak memiliki kondisi yang menjamin pernyataan tersebut bahwa pelangitidak hanya berwarna kuning melainkan ada warna lain selain kuning .
Agaknya Traski dipengaruhi oleh aliran positivisme yang menyatakan Eitherp or not p dalam konsep Rudlof Carnaf. Konsep ini berasumsi bahwa pernyataan dianggap bermakna jika ada data sensenya jika tidak dijamin oleh bukti-bukti yang dapat dipersepsi dengan Indra maka pernyataan itu dianggap tidak bermakna, ini adalah salah satu kelemahan yang disematkan pada Semantik bentuk ini. Sedangkan kelemahan kedua seperti yang dikatakan Abdul Wahab adalah berkaitan dengan kondisi yang dipakai untuk menjamin kebenaran kebenaran suatu pernyataan karena pernyataan aslinya dipakai lagi sebagai kondisi yang menjamin kebenaran itu sendiri. Bahkan berkaitan dengan kelemahan kedua ini Kempson dalam teori semantik menyesatkan teori Traski ini .

B. Tindak Tutur (Act de Parole)
Masyarakat pemakai bahasa secara sadar atau tidak sadar, menggunakan bahasa yang hidup dalam masyarakat berkaitan dengan pemakai bahasa. Menurut Trudgil, ada dua aspek dalam tingkah laku bahasa, yaitu fungsi bahasa dalam mengadakan hubungan sosial dan peran yang dimainkan oleh bahasa sebagai pembawa informasi tentang pembicara . Salah satu wujud bahasa adalah tuturan. Tuturan disebut juga ujaran, yang merupakan sebuah tindakan. Kalimat-kalimat tuturan tidak semata-mata mengatakan sesuatu dengan mengungkapkan tuturan tersebut tetapi juga bertujuan supaya mitra tutur melakukan suatu tindakan. Tindak tutur merupakan tuturan yang di dalamnya terdapat tindakan.Dengan mengucapkan sesuatu, penutur juga melakukan sesuatu.
Dengan menuturkan sebuah ujaran, penutur memiliki tujuan yang ingin dicapai dari mitra tuturnya. Teori ini dikenalkan oleh Austin seorang filsuf berkebangsaan Inggris pada tahun 1962 . Menurutnya kalimat dapat digunakan untuk mengungkapkan berbagai hal dan setiap ujaran dipengaruhi oleh konteks. Katanya “In which to say something is to do something or in which by saying or in saying something we are doing something”, “di dalam mengatakan sesuatu, kita juga melakukan sesuatu”. Dengan kata lain, peristiwa tutur adalah kejadian yang berlangsung saat terjadinya proses komunikasi antara pembicara dengan pendengar yang disadari oleh konteks dan situasi pendengar
Dalam peristiwa tutur terdapat tindak tutur. Tindak tutur atau tindak ujaran merupakan objek kajian pragmatik. Bentuk dan fungsi tindak tutur ini dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, seperti berdiskusi, ceramah agama melalui tanya jawab, dan bercengkerama.
Austin membagi tindak tutur menjadi tiga macam tindakan, yaitu, tindakan menginformasikan atau menyatakan sesuatu “The act of saying something”, yang disebut dengan tindak lokusi/locutionary act, tindakan menghendaki mitra tuturnya untuk melakukan sesuatu “The act of doing something” (tindak ilokusioner/illocutionary act), dan tindakan memberikan pengaruh kapada mitra tutur atau menghendaki adanya reaksi atau efek atau hasil tertentu dari mitra tutur “The act of affecting someone’’ (tindak perlokusi/perlocutionary act).

a) Tindak Tutur Lokusi
Tindak tutur lokusi adalah makna dasar dan referensi dari suatu ujaran yakni tindak tutur untuk menyatakan sesuatu. Maknatuturan yang disampaikan biasanya adalah sebuah fakta atau keadaan yang sebenarnya. Dalam tindak tutur lokusi, informasi yang disampaikan adalah yang sebenarnya . Tindak tutur ini tidak mengandung makna tersembunyi dibalik tuturanya dan tidak menghendaki adanya suatu tindakan atau efek tertentu dari mitra tuturnya. contoh:
“Ikan paus adalah binatang menyusui”.
Tuturan diatas diujarkan semata-mata untuk mengatakan sesuatu (lokusi), tanpa maksud untuk melakukan sesuatu (ilokusi), apalagi mempengaruhi mitra tuturnya (perlokusi). Informasi yang dituturkan pada contoh diatas berupa penyampaian sebuah fakta, bahwa Ikan Paus tergolong dalam jenis binatang mamalia.

B. Tindak Tutur Ilokusi
Seperti yang telah disampaikan di atas, tindak ilokusi adalah tindakan yang tidak sekedar menyampaikan makna sebenarnya dari sebuah ujaran, tetapi juga memiliki tujuan lain dari penyampaian ujaran tersebut. Dengan kata lain, ketika seseorang mengatakan sesuatu, dia juga melakukan sesuatu . Menurut Ibrahim tindak ilokusi dilakukan dengan mengatakan sesuatu, yang mencakup tindakan-tindakan seperti bertaruh, berjanji, menolak dan memesan . Sejalan dengan Ibrahim, Nadar mendefenisikan; tindak ilokusi adalah apa yang ingin dicapai oleh penuturnya pada waktu menuturkan sesuatu dan dapat merupakan tindakan menyatakan, berjanji, minta maaf, mengancam, meramalkan, memerintah, meminta dan lain sebagainya.
Perhatikan tuturan di bawah ini:
“Saya tidak bisa datang”.
Tuturan ini apabila dituturkan oleh seseorang kepada temannya yang baru saja merayakan ulang tahun atau mengadakan resepsi pernikahan, tidak hanya berfungsi untuk menyampaikan sesuatu (lokusi), tetapi juga untuk melakukan sesuatu (ilokusi) yaitu meminta maaf. Tuturan ini secara lokutif (makna yang sebenarnya) menyatakan atau mengkonfirmasi bahwa penutur tidak dapat datang, sedangkan secara ilokutif, penutur memiliki maksud lain yang diutarakan secara tersirat, yang dapat diartikan sebagai permintaan maaf karena penutur tidak dapat datang.

Fanny: hey kamu! dari pada diam di sana tanpa melakukan apa-apa, sini dong.
Cesar: aku gak diam, aku membaca koran!

Dialog di atas terjadi di sebuah cafe, pada pagi hari. Fany sedang sibuk melayani
para pelanggan. Fanny cukup kerepotan melayani pelanggan yang cukup banyak,
ia pun meminta suaminya Caesar untuk membantunya.
Tuturan pada contoh ini, memiliki dua makna yaitu makna lokusi dan makna ilokusi. Secara lokusi (makna yang sebenarnya), makna yang terkandung yaitu Fanny bertanya pada Cesar, sedangkan maksud yang dikehendaki/ makna tersirat (ilokusi) dari tuturan bercetak tebal di atas adalah bahwa Fanny meminta Cesar membantunya.

Berdasarkan contoh-contoh di atas dapat disimpulkan bahwa dalam sebuah tuturan/ujaran setidaknya terkandung dua makna di dalamnya, yaitu makna lokusi dan makna ilokusi. Wijana dan Rohmadi menegaskan bahwa tindak tutur ilokusi adalah tindak tutur yang selain berfungsi untuk menyatakan sesuatu juga berfungsi untuk melakukan sesuatu, di dalam sebuah tuturan paling tidak mengandung dua makna, misalnya memberitahukan (lokusi)dan menyuruh melakukan sesuatu (ilokusi) .
Kemudian Austin mengkategorikan tindak tutur ilokusi menjadi beberapa kategori yaitu: verdiktif (verdictives), eksersitif (exersitives), komisif (commissives), behabitif (behabitives), dan ekspositif (expositives).

1) Verdiktif (verdictives)
Verdiktif merupakan tindak tutur yang menyatakan keputusan atau penilaian.contoh:
(a) Kami menyatakan terdakwa tidak bersalah.
Tuturan pada contoh ini termasuk dalam tindak ilokusi verdiktif yang mengandung makna menyatakan keputusan, karena pada contoh di atas penutur menyampaikan sebuah keputusan yang menyatakan bahwa terdakwa tidak bersalah.

2) Eksersitif (exersitives)
Eksersitif merupakan tindak tutur yang menyatakan perjanjian, nasihat, peringatan dan sebagainya. Contoh:
(a) Harap pelan-pelan, banyak anak-anak.
Tuturan di atas adalah contoh ilokusi eksersitif berupa peringatan. Karena dalam kategori tindak ilokusi eksersitif yang mengandung makna peringatan, karena penutur memperingatkan kepada pengendara sepeda, motor, mobil, dan sejenisnya, untuk mengurangi kecepatannya ketika melintas di jalan tersebut, karena di daerah tersebut terdapat banyak anak-anak yang berlalu lalang sehingga rawan kecelakaan.
(b) ‘’Silahkan pilih jalur lain.’’
Tuturan di atas adalah contoh tindak tutur eksersitif yang mengandung makna menyarankan karena penutur pada contoh tersebut menyarankan mitra tutur untuk memilih jalur lain karena sedang ada perbaikan jalan.
3) Komisif (commissives)
Komisif merupakan tindak tutur yang dicirikan dengan perjanjian. Penutur
berjanji dengan mitra tutur untuk melakukan sesuatu. Contoh:
(a) Andri : Besok sore kita menonton pertandingan basket ya?
Riki : Oke.
Tuturan pada contoh termasuk dalam tindak ilokusi komisif yangmengandung makna berjanji, karena penutur dan mitra tutur berjanji untuk melakukan sesuatu, yaitu penutur dan mitra tutur berjanji untuk menonton pertandingan basket besok sore.
(b) ‘’Saya akan mampir besok, kira-kira jam 12.’’
Tuturan ini adalah contoh tindak ilokusi komisif yang mengandung makna perjanjian, karena penutur berjanji kepada mitra tutur untuk mampir besok siang.
4) Behabitif (behabitives)
Behabitif merupakan tindak tutur yang berhubungan dengan tingkah laku
sosial karena seseorang mendapat keberuntungan atau kemalangan. contoh:
(a) Saya mengucapkan selamat atas pelantikan anda menjadi mahasiswa teladan.
Tuturan pada contoh di atas merupakan tindak ilokusi behabitif, karena penutur pada contoh tersebut mengekspresikan perasaannya kepada mitra tutur yang mendapatkan keberuntungan yaitu penutur mengucapkan selamat kepada mitra tutur yang dilantik sebagai mahasiswa teladan.
(b) ’Selamat atas kemenangan kamu dalam pertandingan bulutangkis.’’
Tuturan di atas terjadi di dalam ruang pertandingan bulu tangkis, setelahpertandingan selesai. Seorang teman mengucapkan ucapan selamat kepada temannya yang memenangkan pertandingan. mengekspresikan perasaannya dengan mengucapkan selamat kepada mitra tutur yang telah memenangkan pertandingan bulu tangkis.
5) Ekspositif (expositives)
Ekspositif merupakan tindak tutur yang berhubungan dengan pemberian
penjelasan, keterangan atau perincian kepada seseorang. contoh,

(a) Saya jelaskan kepada anda bahwa dia tidak mengambil barangitu.
Tuturan pada ini termasuk dalam tindak ilokusi ekspositif yang mengndung makna menjelaskan karena penutur menjelaskan kepada mitra tutur bahwa orang yang dimaksud tidak mengambil barang yang dimaksud oleh penutur.

(b)‘’Saya telah kehilangan laptop dan uang di rumah.
Tuturan di atas terjadi di kantor polisi. Penutur melaporkan kepada petugas polisibahwa rumahnya telah kecurian dan penutur kehilangan laptop dan sejumlah
uang. Tuturan pada contoh (18) termasuk dalam tindak tutur ekspositif berupa
pemberian keterangan, karena tuturan tersebut berupa penjelasan atau pemberian
keterangan bahwa penutur telah kehilangan laptop dan uangnya.

Sedanglkan Searle membagi kategori tindak tutur ilokusi sebagai berikut :

1. Representatif
Representatif adalah tindak tutur yang menyatakan keadaan atau peristiwa,
seperti pernyataan, tuntutan, laporan. Tindak tutur ini mengikat penutur pada
kebenaran terhadap ujaranya. Tindakan-tindakan yang termasuk di dalam kategori
ini misalnya, melaporkan, menyetujui, menolak, memutuskan, meyakinkan dan
sebagainya. Sebagai contoh:
(a) “Adik selalu menjadi juara umum di sekolahnya”.
Tuturan tersebut termasuk tindak tutur representatif, sebab berisi informasi yangpenuturnya terikat oleh kebenaran isi tuturan tersebut. Penutur bertanggung jawab bahwa tuturan yang diucapkan itu memang fakta dan dapat dibuktikan di lapangan bahwa adik selalu menjadi juara umum di sekolahnya.
(b) ‘’Dia (perempuan) akan datang besok.’’
Teman Marie dariluar kota akan berkunjung ke rumah Marie. Marie pun menginformasikan pada suaminya bahwa temanya akan datang berkunjung besok.
Contoh di atas termasuk dalam tindak tutur representatif yang mengandung makna melaporkankarena berisi informasi yang penuturnya terikat oleh kebenaran isi tuturantersebut. Penutur bertanggung jawab bahwa tuturan yang diucapkan itu memang fakta dan dapat dibuktikan bahwa dia (perempuan) benar-benar akandating besok.
2. Direktif
Tindak tutur direktif adalah tindak tutur yang dimaksudkan agar mitratutur melakukan sesuatu setelah mendengar ujaran penutur. Seperti tindakan melarang, memerintah, meminta, memohon, mengizinkan dan sebagainya. Contoh:
(a) Silahkan duduk!
(b) Kenapa kamu tidak menutup jendela itu?
Kedua contoh di atas termasuk ke dalam tindak tutur direktif karena penutur
memaksudkan agar mitra tutur melakukan tindakan yang dikehendaki, yaitu duduk dan menutup jendela.

3. Komisif
Tindak tutur Komisif adalah tindak tutur yang meyakinkan bahwa penuturakan melakukan sesuatu nanti, seperti janji atau ancaman. Sebagai contoh:
(a) Kalau kalian tidak berhenti berkelahi saya panggil polisi.
(b) Saya akan ajak kau nonton film, besok.
Contoh (a) dan (b) termasuk dalam kategori tindak tutur komisif, karena kedua tuturan tersebut mengikat penutur untuk melakukan sesuatu seperti yang telah diujarkanya. Yaitu, pada contoh (a) penutur mengancam akan memanggil polisi bila mitra tutur tidak berhenti berkelahi. Sedangkan contoh (b) penutur berjanji akan mengajak mitra tutur untuk menonton film.
4. Ekspresif
Ekspresif adalah tindak tutur sebagai pengungkapan dan sikap penutur
terhadap sesuatu, seperti permintaan maaf, mengadu, mengucapkan terima kasih,
memberi salam, marah, takut, menuduh, dll. Sebagai contoh:.
(a) Makanan ini lezat sekali.
Tuturan ini merupakan contoh tindak tutur ekspresif berupa pujian, karena padacontoh tersebut penutur mengungkapkan atau mengekpresikan perasaan terhadap rasa makanan yang dimakannya.
(b) ‘’Saya minta maaf bu, saya datang terlambat.’’
Tuturan pada contoh ini termasuk dalam kategori tindak tutur ekspresif, karena pada contoh di atas penutur mengekspresikan rasa bersalahnya terhadap mitra tuturdengan meminta maaf karena terlambat datang.
5. Deklaratif
Tindak tutur deklaratif adalah tindak tutur yang mengubah keadaan di dunia.Tindak tutur ini merupakan tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya untukmenciptakan hal (status, keadaan, dan sebagainya) yang baru. Yang tergolong kedalam tindak tutur ini misalnya pemberian nama sebuah kapal, menjatuhkanhukuman terhadap terdakwa, meresmikan sebuah pernikahan, dll.
contoh :
(a) Dalam upacara peresmian ataupun suatu acara seremonial: “dengan bacaan bismillah kita buka acara pada pagi hari ini”.
Ajakan di atasadalah tindak tutur deklaratif. Dengan diujarkannya pernyataan tersebut maka acara yang sebelumnya diisi dengan hiburan praacara berubah menjadi acara inti dan suasanapun akan berubah. Tindak tutur deklaratif tidak dapat diujarkan oleh setiap orang. Tindak tuturini hanya dapat dideklarasikan oleh orang yang berkaitan dengan tuturan tersebut,misalnya hukuman hanya dapat dijatuhkan oleh hakim dalam sebuah persidangan.

Selanjutnya, Ibrahim membagi tindak tutur ilokusi menjadibeberapa kategori, masing-masing kategori memiliki makna ilokusi yang berbeda- beda, tergantung pada kehendak atau maksud yang ingin dicapai oleh penutur.
Kategori ilokusi menurut Ibrahim tersebut adalah:

1. Konstatif (constatives)
Konstatif merupakan ekspresi kepercayaan yang dibarengi dengan ekspresi maksud sehingga mitra tutur membentuk (atau memegang) kepercayaan
yang serupa. Kategori konstatif yang dikemukakan oleh Ibrahim ini, sama dengan kategori representatif yang dikemukakan oleh Searle.
contoh:
(a) Saya tidak setuju apabila harga BBM naik lagi, kasihankan samaorang yang tidak mampu. Saya yakin hidup rakyatmiskin pasti tambah sulit. Kalau benar-benar naik, saya mau ikutdemo.
Pada contoh di atas penutur percaya bahwa dengan naiknya harga BBM hidup rakyat miskin akan tambah susah. Melalui ujarannya penutur memiliki maksudagar mitra tuturnya dapat setuju dengan pendapat penutur yang tidak setuju dengan naiknya harga BBM.

2. Direktif (direktives)
Direktif yaitu mengekspresikan sikap penutur terhadap tindakan prospektif oleh mitra tutur dan kehendaknya terhadap tindakan mitra tutur.
contoh:
(a) Tolong hapus papan tulisnya !
Dengan mengujarkan contoh di atas penutur berharap mitra tutur melakukan yang dikehendaki oleh penutur. Penutur ingin agar mitra tutur melakukan perintah yangdiberikan yaitu mitra tutur segera menghapus papan tulis.

3. Komisif (comissives)
Komisif yaitu tindakan yang berupa mengekspresikan kehendak dan kepercayaan penutur sehingga ujaranya mengharuskannya untuk melakukan sesuatu (mungkin dalam kondisi-kondisi tertentu). Tindak tutur dalam kategori ini ditandai dengan adanya perjanjian antara penutur maupun mitra tutur untuk melakukan sesuatu.
Promis: mewajibkan penutur ataupun mitra tutur untuk melakukan sesuatu, offers: usulan untuk mewajibkan seseorang melakukan sesuatu.
Komisif dibedakan menjadi dua tipe yaitu:
1). Promises (menjanjikan, mengutuk, bersumpah) mengandung makna ilokusi:promise, contract (kontrak), bet (bertaruh), swear that, guarantee that, surrender, invite.
2). Offers (menawarkan, mengusulkan) mengandung makna ilokusi: offers, dan volunteer (sukarela). contoh:
A: Jagoin klub mana?
B: Klub B dong, kamu?
A: Aku, jelas J lah.
B:Berani taruhan? Kalau J menang, aku beliin sepatu yangkemaren kamu mau. Tapi kalau B yang menang, tas barukamu buat aku.
A: Oke.
B: Sepakat.
Pada contoh di atas, B (penutur) mengekspresikan kehendaknya kepada mitratutur (A), yaitu berupa ajakan bertaruh untuk klub yang akan menang pada sebuahpertandingan sepak bola. Karena sebuah pertaruhan, penutur dan mitra tutur harusmelakukan sesuatu atas taruhanya, yaitu memenuhi sesuatu yang telah menjaditaruhannya, bila klub yang dijagokan B menang, A harus menyerahkan tas barunya kepada B. Begitu pula sebaliknya, bila klub yang dijagokan A menang, Bharus membelikan A sepatu yang diinginkan oleh A.

4. Acknowledgments
Acknowledgments adalah tindakan yang mengekspresikan perasaanmengenai mitra tutur (baik yang berupa rutinitas ataupun yang murni), atau dalamkasus-kasus dimana ujaran berfungsi secara formal, kehendak penutur bahwaujaranya memenuhi kriteria harapan sosial untuk mengekspresikan perasaan dankepercayaan tertentu. Kategori Acknowledgement yang dikemukan oleh Ibrahimini sama dengan tindak tutur ekspresif yang dikemukan oleh Searle. MenurutWijana dan Rohmadi, tuturan ekpresif adalah tindak tutur yang dilakukan denganmaksud agar ujaranya diartikan sebagai evaluasi tentang hal yang disebutkan didalam ujarannya itu, (misalnya: memuji, mengucapkan terimakasih, mengkritk
dan sebagainya).
Aknowledgements memiliki makna ilokusi, yaitu: apologize (permintaan maaf), condole (belasungkawa), congratulate (mengucapkan selamat), greet (penyampaian salam), dan thanks (berterimakasih). Contoh :
A: Selamat atas kelahiran putra pertama anda.
B: Terimakasih Pak.
Ucapan selamat yang dituturkan oleh A, masuk ke dalam kategori tindak tutur aknowledgements yang memiliki makna ilokusi congratulate (mengucapkanselamat) yaitu berupa ucapan selamat dari A kepada B. A mengucapakan selamatkepada B atas kelahiran anak pertama B. Dalam menuturkan ujaran di atas, penutur mengekspresikan perasaan turut berbahagianya terhadap keadaan mitra tuturdengan mengucapkan selamat. Dalam kehidupan bermasyarakat, untuk memenuhikriteria harapan sosial sudah selazimnya seseorang mengucapkan selamat kepadaorang yang mendapatkan kebahagiaan.

D. Komponen Tutur
Dalam kajian pragmatik konteks yang melatarbelakangi terjadinya, ujarantidak dapat dipisahkan, termasuk kajian tentang tindak tutur ilokusi. Wijana danRohmadi mengatakan bahwa maksud yang diutarakan oleh seseorang tidak selamanya disampaikan secara langsung/tersurat, akan tetapi adakalanya diutarakan secara tersirat/tidak langsung.
Agar dapat menafsirkan maksud tersirat dalam tuturan seseorang, maka mitra tutur atau pendengar harus memperhatikan konteks yang melingkupi tuturan tersebut. Oleh karena itu, untuk dapat mengkaji kemudian menentukan kategori dan makna ilokusi sebuah ujaran dengan tepat, konteks sebuah ujaran sangat berperan penting. Searle menyebutkan “Pragmatics is concerned with the way in which theinterpretation of syntactically defined expression depends on the particularcondition of their use in context’’, “Pragmatik berkaitan dengan interprestasi suatu ungkapan yang dibuat mengikuti aturan sintaksis tertentu dan caramenginterprestasi ungkapan tersebut dalam konteks”.
Leech Geoffrey menjelaskan bahwa konteks merupakan suatupengetahuan latar belakang yang sama-sama dimiliki oleh n (penutur) dan t(petutur/mitra tutur) dan yang membantu t (petutur/mitra tutur) menafsirkan makna tuturan . Sependapat dengan Leech, Wijana dan Rohmadi mengatakan bahwa konteks itu pada hakikatnya adalah semua latar belakangpengetahuan (background knowledge) yang dipahami bersama oleh penutur dan lawan tutur.
Konteks yang melatarbelakangi sebuah ujaran memuat beberapa komponen komponen-komponen tutur tersebut dikenal dengan istilah S.P.E.A.K.I.N.G: Setting dan Scene (waktu dan tempat), Participant (pesertatutur), Ends (tujuan), Act of Sequence (urutan/alur), Keys (cara),Instrumentalities (media), Norm (norma), dan Genres (jenis).

(a) Setting dan Scene, setting berkenaan dengan latar waktu dan tempat terjadinyatuturan sedangkan Scene berkenaan dengan suasana atau situasi terjadinyatuturan termasuk kondisi psikologis dan budaya saat terjadinya tuturan.
(b) Participants merujuk pada pihak-pihak yang terlibat dalam percakapan(peserta yang terlibat), yaitu penutur, mitra tutur dan pendengar.
(c) Ends merupakan maksud atau tujuan yang ingin dicapai dari tuturan tersebut.
(d) Act of sequence adalah urutan tindakan yang mencakup bentuk dan isi pesan(bagaimana pesan disampaikan dan apa pesan yang disampaikan), termasukkata-kata yang digunakan, hubungan antara apa yang dikatakan dengan topikpembicaraan. Act of sequence juga tindakan nyata/pesan yang dikehendakioleh penutur terhadap mitra tuturnya, seperti berjanji, meminta maaf,menyatakan sesuatu, dll.
(e) Keys adalah berkaitan dengan sikap, cara, nada suara dan penjiwaan padasaat mengujarkan sesuatu. Berhubungan juga dengan aspek psikologis danhubungan timbal balik antara penutur dan mitra tutur, misalnya penutur danmitra tutur memiliki hubungan pertemanan, pasangan, professional kerja, saudara, dll. pada tuturan.
(f) Instrumentalities, mengacu pada bentuk atau gaya berbicara, seperti bakuatau tidaknya, formal atau informal, lisan atau tulisan dll.
(g) Norms adalah Peraturan sosial atau norma yang berlaku saat tuturan diucapkan.
(h) Genre, Mengacu pada jenis tuturan, dapat berbentuk puisi, pantun, narasi,pidato, ceramah, dialog, surat, monolog, novel, dll.

Pada contoh percakapan antara dosen dengan mahasiswa
Dosen : udaranya panas hari ini!!
Mahasiswa : oh ya pak, kemudian membukakan jendela ruang kuliah
Setting dan scene : di ruang kuliah
Participants : dosen dan mahasiswa
Ends : bukakan jendela atau nyalakan ac
Act of sequence : mahasiswa membuka jendela
Keys : dengan Bahasa santai namun ada unsur perintah yang tersirat.
Instrumentalities : pernyataan yang diucapkan dengan bahasa informal dan santai.
Norms : dalam situasi pada contoh di atas ada peraturan sosial dimana mahasiswa seharusnya peka.
Genre : yang digunakan pada contoh adalah dialog.

E. Penggunaan tindak tutur dalam alquran

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ ۖ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا ۗ وَيَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ قُلِ الْعَفْوَ ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ
Artinya:“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: “Yang lebih dari keperluan”. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir”

Menurut Ash-Shabuni latar belakang diturunkan ayat ini adalah ketika para sahabat anshar bersama Sayyiduna Umar mendatangi Sayyiduna Rasulullah Mereka meminta fatwa kepada Rasulullah tentang khamar dan Judi yang benar-benar telah merusak akal dan dapat menguras harta benda.
sebagai jawaban atas pertanyaan tersebut turunlah ayat 219 yang isinya adalah bahwa baik judi maupun minuman keras ada manfaat dan bahayanya akan tetapi bahayanya atau dosanya lebih besar daripada manfaatnya dari aspek formal nya atau makna semantik nya hal tersebut berbentuk deklaratif atau kalam khabari, akan tetapi maksud yang tersirat atau tindak ilokusi dari ayat tersebut adalah larangan bagi pelakunya.
Khithob ini memberikan Efek kepada manusia agar meninggalkan minuman keras dan Judi, pemberian larangan dalam bentuk tidak langsung sebagaimana tersirat pada ayat 219 surat al-baqarah tersebut karena secara sosio kultural pada saat itu bangsa Arab sangat kecanduan terhadap minuman keras dan judi. Dalam kondisi masyarakat seperti ini bentuk larangan secara langsung terhadap minuman keras dan Judi dapat diperlakukan seketika itu akan tetapi harus ada proses atau tahapan yang dalam terminologi agama disebut prinsip tadarruj.

Kesimpulan
Hakikat tindak tutur itu adalah tindakan yang dinyatakan dengan makna atau fungsi (maksud dan tujuan) yang melekat pada tuturan. Tindak tutur merupakan unit terkecil aktivitas bertutur (percakapan atau wacana) yang terjadi dalam interaksi sosial.
Austin membedakan atau mengklasifikasi tindak tutur menjadi tiga jenis berdasarkan daya atau kekuatan yang dimilikinya. Ketiga jenis tindak tutur tersebut sebagai berikut.
v Lokusi adalah makna dasar dan makna referensi (makna sebenarnya yang diacu) oleh tuturan itu. Dengan kata lain lokusi adalah tindak tutur dengan kata, frasa, dan kalimat, sesuai dengan makna yang dikandung oleh kata, frasa, dan kalimat itu sendiri.
v Ilokusi adalah fungsi atau maksud dan tujuan penggunaan tuturan itu. Dengan kata lain ilokusi adalah tindak melakukan sesuatu dengan maksud dan fungsi tertentu di dalam kegiatan bertutur yang sesungguhnya.
v Perlokusi adalah hasil atau dampak maksud dan tujuan penggunaan tuturan itu terhadap pendengar, baik yang sesuai dengan yang diharapkan maupun yang tidak sesuai dengan yang diharapkan. Dengan kata lain perlokusi adalah tindak menumbuhkan pengaruh kepada sang mitra tutur oleh penutur.

Daftar Pustaka

Yule, George. 2006. Pragmatik, Terjemahan dari Indah Fajar Wahyuni, Yogyakarta: Pustka Pelajar
Ibrahim A.S. 1993. Kajian Tindak tutur. Surabaya: Usaha Nasional.
Leech Geoffrey, 1993. Principles of Pragmatics. New York
Moh. Ainin dan Imam Asrori.2014. Semantik Bahasa Arab, Malang: Bintang Sejahtera Press cet. 3
Susilo, Supardo. 1998. Bahasa Indonesia dalam Konteks. Jakarta: Depdikbud.
Wahab, A . Makalah disajikan pada seminar nasonal Semantik I di UNS Solo di Solo pada 26-27 Februari 1999

Wijana dan Rohmadi, Semantik: teori dan analisis. Surakarta: Yama Pustaka

 

By : akhlis , magister sasra arab UIN Jakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here