1. pencatatan dan pengumpulan naskah

Apabila kita telah menentukan untuk meneliti sesuatu naskah maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah mencatat naskah dan teks cetakan yang berjudul sama atau berisi cerita yang sama, yang termuat dalam katalogus di berbagai perpustakaan, terutama dipusat-pusat studi Indonesia di seluruh duna. Disamping itu, perlu dicari naskah-naskah yang mungkin maish tersimpan dalam koleksi perseorangan.

            Untuk mendapat bahan penelitian yang lengkap guna penafsiran teks yang setepat-tapatnya dari berbagai segi, perlu pula dikumpulkan ulasan-ulasan mengenai teks naskah itu seluruhnya atau sebagian dalam karya-karya lain, nukilan teks dalam bunga rampai dan bila ada tradisi lisannya. Dalam hal yang terakhir ini, perlu di cari tukang-tukang cerita atau orang tua yang segar menyimpan cerita-cerita itu dalam ingatannya.             Apabila teks terdapat dalam jumlah besar naskah maka perlu diadakan perbandingan. Tindakan selanjutnya adalah resensi atau pensahihan, yaitu penetuan arketip (naskah mula) berdasarkan perbandingan naskah yang termasuk satu stema (sislsilah). Setelah itu dilakukan emendasi, yaitu pembetulan dalam arti mengembalikan teks kepada bentuk yang dipandang asli yang dilakukan melalui keritik teks.

2. Metode Kritik Teks

Berdasarkan edisi-edisi yang telah ada, dapat dicatat beberapa metode yang pernah diterapkan.

A. Metode Infuitif

yaitu dengan cara mengambil naskah yang dianggpa paling tua. Di tempat-tmpat yang dipandang tidak betul atau tidak jelas, naskah itu diperbaiki berdasarkan naskah lain dengan memakai akal sehat, selera baik, dan pengetahuan luas. Metode ini disebut pula metode subjektif dan bertahan sampai abad ke-19.

B. Metode Objektif

yaitu meneliti secara sistematis hubungan kekluargaan antara naskah-nakah sebuah teks atas dasar perbandingan naskah yang mengandung kekhilafan bersama. Apabila dari sejumlah naskah ada beberapa naskah yang selalu mempunyai kesalahan yang sama pada beberapa naskah yang selalu mempunyai kesalahan yang sama pada tempat yang sama pula, dapat disimpulkan bahwa naskah-naskah tersebut berasal dari satu sumber (yang hilang). Dengan memperhatikan kekeliruan-kekeliruan bersama dalam naskah tertentu, dapat ditentukan silsilah naskah. Seseudah itu, barulah dilakukan kritik teks yang sebenarnya. Metode objektif yang sampai kepada silsilah naskah disebut metode stema.

C. Metode Gabungan

yaitu apabila nilai naskah menurut tafsiran filologi semuanya hampir sama. Perbedaan antar naskah tidak besar. Walaupun ada perbedaan tetapi hal itu tidak mempengaruhi teks. Pada umumnya yang dipilih adala bacaan mayoritas atas dasar perkiraan bahwa jumlah naskah yang banyak itu merupakan saksi bacaan  yang betul. Denagan metode ini, teks yang disunting merupakan teks baru yang merupakan gabungan  bacaan dari semua naskah yang ada.

D.Metode landasan

yaitu apabila menurut tafsiran ada satu atau segolongan naskah yang unggul kualitasnya dibandingkan dengan nakha-naskah lain yang diperiksa dari sudut bahasa, kesustraaan, sejarah, dan  lain sebagainya sehingga dapat dinyatakna sebagai naskah yang mengandung paling banyak bacaan yang baik. Oleh karena itu, naskah itu dipandang paling baik untuk dijadikan landasan atau induk teks untuk edisi. Varian-variannya hanya dipakai sebagai pelengkap atau penunjang. 

E.Metode Edisi Naskah Tunggal

yaitu apabila hanya ada naskah tunggal dari suatu tradisi sehingga perbandingan tidak mungkin dilakukan, dapat ditempuh dua jalan. Pertama, Edisi diplomatik, yaitu menerbitkan satu naskah seteliti-telitinya tanpa mengadakan perubahan. Kedua, edisi standar atau edisi kritik yaitu menerbitkan naskah dengan membetulkan kesalahan-kesalahan kecil dan ketidakajegan, sedang ejaanya disesuaiakan dengan ketentuan yang berlaku.

3. Susunan Stema

Naskah-naskah yang diperbandingkan diberi nama dengan huruf besar latin: A,B,C,D, dan seterusnya. Dalam hubungan kekeluargaan nakah-naskah ada naskah yang berkedudukan sebagai arketip atau induk dan ada yang sebagai hiparketip atau subinduk.

            Arketip adalah nenek moyang naskha-naskah yang tersimpan, dapat dipandang sebagai pembagi persekutuan terbesar dari sumber-sumber tersimpan. Hiparketip adalah kepala kaluarga naskah-naskah dan mebahawi naskah-naskah seversi.  Arketip kadang-kadang diberi nama dengan huruf yunani omega dan hiparketip dinamakan alpha, beta, dan gamma.

            Contoh metode stema yang sederhana tampak pada bagian berikut:

Otograf

Bagian di atas menggambarkan garis keturunan dari atas ke bawah, dari nenek moyang naskah kepada keturunannya. Bagan tersebut dapat dibalik apabila kita ingin menggambarkan prosedur penanganan naskah dari sejumlah naskah melalui pengelompokkan dan perbandingan sampai kepada arketip seperti gambar berikut.

Arketif

Sudah barang tentu metode stema hanya dapat diterapkan apabila teks disalin satu demi satu dari atas ke bawah, dari contoh ke salinan. Penurunan semacam ini berlangsung secara vertikal artinya menurut satu garis keturunan (tradisi tertutup). Adakalanya seorang penyalin menemui kesulitan dalam menghadapi kesalahan-kesalahan yang terdapat dalam teks sehingga ia berusaha mendapatkan bacaan yang paling baik dengan memakai lebih dari satu naskah dalam salinannya. Dengan demikian, terjadi penularan secara “horisontal” antara beberapa naskah atau terjadi perbauran antara beberapa tradisi naskah yang disebut kontaminasi. Hubungan antarnaskah betambah rumit apabila si pengarang sendiri sudah membuat perubahan dalam teks setelah teks itu selesai disalin. Dengan demikian, terjadi percampuran yang mengakibatkan timbulnya versi baru.

4. Rekonstruksi Teks

Setelah tersusun stema, teks direkonstruksi secara bertahap sambil melakukan emendasi. Berdasarkan pengertian bahwa salah satu bacaan salah maka yang salah ini dibetulkan menurut bacaan yang benar, yang terdapat dalam naskah-naskah lain. Apabila terdapat perbedaan bacaan dalam jumlah naskah yang sama sehingga tidak ada bacaan mayoritas yang dianggap benar, pembetulan dilakukan berdasarkan pengetahuan dari sumber lain sehingga bacaan yang satu dibetulkan dengan mengikuti bacaan yang lain.

            Bacaaan yang terdapat dalam semua naskah dipandang sebagai bacaan arketip. Akan tetapi, bacaan boleh dibetulkan berdasarkan pengetahuan dari sumber lain supaya mendekati bacaan asli yang “hipotesis” teks yang sudah direkonstruksi ataudipugar dipandang paling dekat dengan teks yang ditulis pengarang.

Baca Juga :

Please rate this

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.