nilai-nilai pragmatik

Pendahuluan

Pragmatik merupakan kajian linguistik yang mengkaji bahasa secara nonformal. Teori ini muncul karena adanya ketidakpuasaan peneliti bahasa yang hanya mengkaji bahasa secara formal atau hanya pada bentuk saja. Ilmu ini menekankan kajiannya dari tindak tutur para pengguna bahasa karena bahasa juga mendapat peranan penting penggunannya dan lingkungan masyarakat itu sendiri. Komunikasi .dan performance dari tindak tutur seseorang merupakan kajian dari pragmatik
untuk mengetahui makna, maksud, serta tanda yang muncul dalam peristiwa berbahasa. Interpretasi tindak tutur dalam pragmatik memuat gejala-gejala bahasa yang berbeda dengan bahasa yang dikaji secara formal. Selain itu, pragmatik melihat performance bahasa dari penggunanya, ada juga pragmatik wacana yang mengkaji dialog atau tuturan dalam media tulis.

1. Pragmatik

Pragmatik muncul diilhami oleh faktor ketidakpuasan para ahli bahasa aliran fungsional terhadap aliran tata bahasa tradisional dalam menganalisis bahasa secara struktural. Istilah “pragmatik” sendiri sebagai bidang kajian di dalam ilmu linguistik diberi batasan yang berbeda-beda oleh pakar-pakar linguistik.
Dalam perkembangan ilmu bahasa terutama pragmatik, ilmu ini menjadi sebuah kajian yang sangat berbeda dari teori-teori sebelumnya mengenai linguistik.. Kebanyakan para ahli bahasa meneliti bahasa sebagai subjek penelitian dan tidak melihat bahasa itu muncul sebagai media komunikasi. Dengan adanya ilmu pragmatik kajian di luar bahasa (tindak tutur) menjadi pembahasan utama dalam pragmatik, terutama dalam komunikasi atau bertindak tutur.
Konsep pragmatik ini untuk pertama kali diperkenalkan oleh Charles Morris yang memiliki perhatian terhadap ilmu semiotik. Dalam semiotik, Charles membedakan tiga konsep dasar yaitu sintaksis, semantik dan pragmatik. Sintaksis mempelajari hubungan formal antara tanda-tanda bahasa dan makna struktural dalam kalimat, semantik mempelajari hubungan antara tanda dengan objek, dan pragmatik mengkaji hubungan antara tanda dengan penafsir (Habib, 2007: 212).
Levinson menjelaskan bahwa pragmatik adalah studi tentang hubungan antara bahasa dan konteksnya. Sementara Geofery Leech memberikan definisi bahwa pragmatik adalah studi mengenai makna dalam hubungannya dengan situasi ujar. Ringkasnya, pragmatik merupakan ilmu yang mempelajari bagaimana bahasa digunakan dalam komunikasi, dan bagaimana pragmatik menyelidiki makna sebagai konteks, bukan sebagai sesuatu yang abstrak dalam komunikasi (Leech via Habib 2007: 212)

Yule dalam bukunya Pragmatik (2006: 155-156) menerangkan pragmatik yang paling luas ialah bahwa pragmatik merupakan studi pemahaman terhadap tindakan manusia yang disengaja. Jadi, studi ini melibatkan penafsiran tindakan-tindakan yang diasumsikan dilakukan untuk mendapatkan beberapa tujuan. Dengan demikian, gagasan-gagasan utama dalam pragmatik pasti melibatkan keyakinan, maksud (atau tujuan), perencanaan, dan tindakan. Yule berasumsi bahwa cara untuk mencapai tujuan melibatkan komunikasi, pragmatik masih mencakup semua jenis alat komunikasi, termasuk alat yang tidak konvensional, tidak verbal.
Yule (2006: 5) juga menerangkan manfaat dari belajar pragmatik ialah bahwa seseorang dapat bertutur kata tentang makna yang dimaksudkan orang, asumsi mereka, maksud dan tujuan mereka, dan jenis-jenis tindakan tindak tutur. Dengan demikian, ilmu pragmatik ialah ilmu yang mempelajari bahasa yang muncul dalam peristiwa tindak tutur yang di dalamnya terdapat tujuan tuturan, maksud tuturan, makna tuturan serta melihat ekspresi, performance dari tindakan-tindakan dan gagasan-gagasan yang muncul dalam tindak tutur, sehingga kita dapat menafsirkan, mengasumsikan sebuah tuturan yang akhirnya memberikan efek-efek dalam berkomunikasi sebagai media sosial yang sangat berpengarauh dalam kehidupan manusia.

2. Tindak Tutur

Teori mengenai tindak tutur pertama kali dicetuskan oleh Austin (1911-1960). Dalam bukunya How to Do Thing with Words (1962) ia mencetuskan teori tentang tindak tutur (Speech Act Theory). Menurut Austin, ketika bertutur seseorang tidak hanya bertutur tapi juga melakukan sesuatu tindakan. Austin pada dasarnya memandang bahwa manusia, dengan menggunakan bahasa dapat melakukan tindakan-tindakan yang disebut tindak tutur (speech Act) (Suko, 2012: 206). Dengan kata lain, peristiwa tutur adalah kejadian yang berlangsung saat terjadinya proses komunikasi antara pembicara dengan pendengar yang disadari oleh konteks dan situasi pendengar (Suyono via Yuliza, 2013: 3).
Dalam peristiwa tutur terdapat tindak tutur. Tindak tutur atau tindak ujaran merupakan objek kajian pragmatik. Bentuk dan fungsi tindak tutur ini dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, seperti berdiskusi, ceramah agama melalui tanya jawab, dan bercengkerama. Dengan kata lain, segala aspek yang berkaitan dengan berbahasa merupakan tindak tutur.
Yule (2006: 81) menerangkan bahwa tindak tutur merupakan usaha untuk mengungkapkan diri mereka, orang-orang tidak hanya menghasilkan tuturan yang mengandung kata-kata dan struktur gramatikal saja, tetapi mereka juga memperlihatkan tindakan-tindakan melalui tuturan-tuturan itu.
John R. Searle (via Rahardi (2005: 35-36) dalam bukunya Speech Act

: An Essay in The Philosophy of Language menyatakan bahwa dalam praktik penggunaan bahasa terdapat setidaknya tiga macam tindak tutur. Ketiga macam tindak tutur itu sebagai berikut: (1) tindak lokusioner (locutionary acts), (2) tindak ilokusioner (illocutionary acts), (3) tindak perlokusioner (perlocutionary acts).

1) Tindak lokusioner adalah tindak bertutur dengan kata, frasa, dan kalimat sesuai dengan makna yang dikandung oleh kata, frasa, dan kalimat itu. Tindak tutur ini dapat disebut sebagai the act of saying something atau hanya sekedar berujar tanpa ada tindakan apa-apa atau hanya melakukan pernyataan saja. Jadi, kalau dengan mengujarkan Saya haus seseorang mengartikan “saya” sebagai orang pertama tunggal (yaitu si penutur), dan “haus” sebagai mengacu ke “tenggorokan kering perlu dibasahi”, tanpa bermaksud untuk meminta minum, misalnya, orang ini dikatakan melakukan lokusi.
2) Tindak ilokusioner adalah tindak melakukan sesuatu dengan maksud dan fungsi tertentu pula. Tindak tutur ini dapat dikatakan sebagai the act of doing something dengan maksud tindak tutur yang tidak hanya berfungsi untuk menginformasikan sesuatu namun juga untuk melakukan sesuatu. Di sini berbicara tentang maksud, Jadi “Saya haus” yang dimaksudkan untuk meminta minum. atau pernyataan “Inem, lihat lantai teras ini!” yang diucapkan oleh seorang ibu yang baru datang dari berpergian manakala melihat lantai teras yang kotor. Tanpa memikirkan makna masing-masing kata yang diucapkan majikannya, Inem langsung bisa menangkap maksud ucapan itu dengan serta merta mengambil sapu dan membersihkan teras itu. Inem benar-benar menyadari bahwa majikannya itu tidak sekedar menyuruhnya untuk melihat lantai teras, tetapi lebih dari itu, ia bisa menangkap bahwa majikannya tengah marah, jengkel, dan menginginkan agar membersihkan teras itu (Santoso, 2003: 13).

3) Tindak perlokusi adalah tindak menumbuhkan pengaruh (effect) kepada mitra tutur. Tindak tutur ini dapat disebut dengan the act of affecting someone. Bisa juga Tindak perlokusi sebagai hasil atau efek yang ditimbulkan oleh ungkapan itu pada pendengar sesuai dengan situasi dan kondisi pengucapan kalimat. Dalam perlokusi, kalimat atau kata “Saya haus” penutur memberikan efek kepada pendengar untuk melakukan tindakan sesuai apa yang dikhendaki penutur semisal mengambilkan air minum untuk penutur karena sedang haus.

3. Konteks Situasi

Pengetahuan dan kemampuan menganalisis konteks pada waktu menggunakan bahasa sangat menentukan makna sebuah tuturan. Cummings, (via Wahyudin, 2008: 29-30) menjelaskan bahwa pembaca atau pendengar tidak bisa mendapatkan definisi yang lengkap dan jelas tentang sebuah tuturan bila konteksnya tidak disebutkan. Sebagai contoh, berdasarkan konteksnya tuturan di bawah ini dapat memiliki bermacam- macam makna.
(1) “Saya ke Surabaya besok”.

Makna tuturan di atas bergantung pada konteksnya. Tuturan yang dinyatakan seperti tuturan di atas dapat bermakna sebagai janji, informasi, pernyataan maksud, ancaman, dan menduga atau meramalkan kegiatan yang akan datang (ini bisa disebut tindak tutur). Dengan demikian, jelas bahwa tuturan di atas masih ambiguitas dan bermakna ganda apabila tidak disertai dengan konteks penggunaanya.
Dalam tiap-tiap peristiwa percakapan tutur itu, selalu terdapat faktor- faktor atau unsur-unsur konteks tuturan yang mengambil peranan dalam peristiwa tutur itu, Lubis, (2011: 88-96) menjelaskan mengenai komponen-komponen tutur yang merupakan ciri-ciri konteks, ada delapan macam yaitu: (1) pembicara, (2) pendengar, (3) topik Pembicaraan,
(4) setting (latar peristiwa), (5) channel (penghubung), (6) code (kode), (7) message form (bentuk pesan tertulis atau tidak tertulis), (8) event (peristiwa tutur).

1) Pembicara

Mengetahui si pembicara pada suatu situasi akan memudahkan untuk menginterpretasikan pembicaraanya. Umpamanya saja, seseorang dengan mengatakan: ‘Oprasi harus dilaksanakan’. Kalau yang berbicara adalah seorang dokter tentu akan lebih mudah dipahami bahwa yang dimaksudkanya dengan operasi itu adalah operasi terhadap manusia atau hewan. Berbeda apabila sang penutur adalah polisi, operasi yang dimaksud adalah pemeriksaan surat keterangan.

2) Pendengar

Kepentingan mengetahui si pembicara sama dengan kepentingan mengetahui si pendengar; terhadap siapa ujaran itu ditunjukkan akan memperjelas makna ujaran itu. Berbeda-beda penerima ujaran itu akan berbeda pulalah tafsirannya terhadap mitra tuturnya (pendengar). Contoh kalimat “Jangan angkat, itu berat (kira-kira 1 kg)”. Pendengar atau yang diajak bicara di sini tentulah seorang anak yang masih kecil, berumur sekitar 2-3 tahun. Kalau yang diajak itu berumur 20-30 tahun atau orang dewasa jelas pengertian jauh dan berat pada kalimat itu bukanlah 1kg, tetapi mungkin kg.

3) Topik Pembicaraan

Dengan mengetahui topik pembicaraan akan memudahkan bagi seseorang yang mendengar atau yang membaca untuk memahami
pembicaraan atau tulisan. Banyak kata-kata yang mempunyai makna lain dalam bidang-bidang tertentu. Kata jatuh mempunyai makna-makna yang berbeda-beda dalam ujian mahasiswa, dalam bidang ekonomi atau dalam bidang tentara. Jatuh bagi mahasiswa artinya kalah, jatuh dalam bidang ekonomi dapat bermaksud tentang harga atau perusahaan atau bangkrut, jatuh dalam bidang ketentaraan dapat berarti dikuasai. Dengan mengetahui topik pembicaraan atau setingginya, pemahaman-pemahaman tentang apa yang dibicarakan akan lebih mudah ditangkap atau diketahui.

4) Setting (Latar Peristiwa)

Yang dimaksud dengan setting di sini adalah soal waktunya, tempat pembicaraan itu dilakukan. Termasuk juga dalam setting ini, hubungan antara si pembicara dan si pendengar, gerak-gerik tubuhnya, gerak-gerik roman mukanya.
‘ini ‘kan sudah jam satu.

Kalau kita ketahui setting-nya atau latar peristiwanya, seperti di kost putri, jam telah menunjukkan jam 01.00 dini hari, dan yang berbicara itu marah, hubungannya antara ibu kost dan tamu pria, tentulah dapat kita terka bahwa yang dibicarakan itu adalah soal kunjungan tamu pria tersebut yang sudah melampaui batas waktu.

5) Channel (Penghubung)

Untuk memberikan informasi seorang pembicara dapat mempergunakan berbagai cara, bisa dengan lisan, tulisan, telegram, dan lain- lain. Inilah yang dinamakan channel atau penghubung. Pemilihan channel itu tentu bergantung kepada beberapa faktor yang kepada siapa ia berbicara, dalam situasi yang bagaimana (dekat atau jauh). Kalau dekat, tentu dapat secara lisan, tetapi kalau jauhn tentulah harus dengan tulisan atau telegram. Kalau sesuatu yang hendak disampaikan itu harus dirahasiakan dan tidak boleh didengar oleh orang lain, si penyampai informasi itu tentu akan berbisik.

6) Code (Kode)

Kalau channel-nya itu lisan, kodenya dapat dipilih antara salah satu dialek bahasa itu. Penyampaian berita via surat kabar dapat dilakukan dengan bermacam-macam register seperti register-register: tajuk, iklan, pojok, ilmiah, ekonomi, dan bahasa.

7) Message Form (Bentuk Pesan)

Pesan yang hendak kita sampaikan haruslah tepat karena bentuk pesan ini bersifat fundamental dan penting. Banyak pesan yang tidak sampai kepada pendengar karena bentuk pesannya tidak sesuai dengan konteks situasi si pendengar. Bentuk pesan itu haruslah umum, kalau pendengarnya itu banyak dan khusus (bentuk pesan) kalau pendengarnya orang-orang tertentu saja. Isi dan bentuknya haruslah sesuai karena bila antara keduanya tidak sesuai, jelaslah pesan itu atau informasi itu susah dicerna oleh si pendengar.

8) Event (Peristiwa Tutur)

Peristiwa tutur yang dimaksud di sini adalah peristiwa tutur tertentu yang mewadahi kegiatan bertutur, misalnya pidato, percakapan, seminar, sidang pengadilan, konfrensi, acara kenduri, dan lain-lain. Peristiwa tutur tersebut dapat menentukan bentuk dan isi wacana yang akan dihasilkan.

4. Maksud dalam Pragmatik

Maksud merupakan elemen luar bahasa yang bersumber dari pembicara yang bersifat subjektif (Wijana dan Rohmadi, 2011: 10). Maksud ditentukan dan dirumuskan oleh penutur berdasarkan kehendak masing- masing individu. Jika dilihat dalam perspektif hubungan antara pembicara dan pendengar atau antara penulis dan pembaca, maksud sangat bergantung pada kehendak pembicara atau penulis. Dalam hal itu, pendengar atau pembaca tidak bisa menafsirkan secara objektif kehendak pembicara atau penulis itu, kecuali hanya berdasarakan kebiasaan atau kelaziman yang berlaku di dalam tatanan kehidupan masyarakat tuturannya (Santoso, 2003: 13).
Untuk memeperjelas lagi tentang maksud dalam pragmatik, berikut contohnya:

1. Anak itu memang pandai. Nilai matematikanya 9.
2. Anak itu memang pandai. Nilai matematikanya saja 4,5.

Kata “pandai” dalam kalimat (1) bermakna “pintar” karena secara internal memang kata “pandai” bermakna demikian. Kata “pandai” dalam kalimat (2) yang bermakna internal “pintar” dimaksudkan secara subjektif oleh penuturnya sebagai pengungkapan bahwa dia bodoh. Pengungkapkanya yang bersifat subjektif inilah yang disebut maksud. “Pandai” yang menyatakan “pintar” dalam kalimat (1) disebut makna linguistik, sedangkan “pandai” yang menyatakan “bodoh” pada kalimat (2) disebut makna penutur (maksud) (Wijana dan Rohmadi, 2011: 10).

DAFTAR PUSTAKA

Lubis, A. H. Hasan. 2011. Analisis Wacana Pragmatik. Bandung: Angkasa.
Rahardi, R. Kunjana. 2005. Pragmatik: Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia.
Jakarta: Penerbit Erlangga.
Santoso, Joko. 2003. Diktat Pegangan Kuliah Semantik. Yogyakarta: UNY.
Suko, Raharjo. 2012. “Implikatur Tindak Tutur Deklarasi: Sebuah kajian Pragmatki Sebagai Fenomena Pasuwitan Pada Masyarakat Samin di Pati, Jawa Tengah oleh Dosen Jurusan Akuntansi Politeknik Negeri Semarang”. Jurnal Pengembangan Humaniora, Vol. 12, Nomor 3, Agustus 2012, hlm. 205-212.
Wijana, I D. Putu., dan Rohmadi, M. 2011. Semantik: Teori dan Analisis.
Surakarta: Yama Pustaka.
Yule, George. 2006. Pragmatik, Terjemahan Dari Indah Fajar Wahyuni.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Yuliza. 2013. Kesantunan Berbahasa Indonesia Dalam Tindak Tutur Ilokusi Para Dai di Masjid Nurush Siddiq Kelurahan Gunung Pangilun Kecamatan Padang Utara. Skripsi S1. Universitas Negeri Padang: Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni

BAHASA SEBAGAI MEDIA KOMUNIKASI : PRAGMATIK DAN NILAI-NILAI NYA

Disusun Sebagai Tugas Mata Kuliah Kajian Makna dan Kontruksi Sosial

Dosen Pembimbing:
Prof. Dr. A. Bachmid
Dr. Moch Syarif Hidayatullah
Dr. Zubair

Oleh:
M. Fadhilah Akbari
21170222000006

PROGRAM STUDI BAHASA DAN SASTRA ARAB
FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA
UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here