PENGARUH SASTRA ARAB-PERSIA PADA SASTRA ISLAM NUSANTARA DALAM SYAIR HAMZAH FANSURI

PENGARUH SASTRA ARAB-PERSIA PADA SASTRA ISLAM NUSANTARA DALAM SYAIR HAMZAH FANSURI

A. Pendahuluan
Ketika kita membicarakan pengaruh kesusastraan Arab atau Persia dalam kesusasteraan Islam Nusantara, kita harus melihat sastra Nusantara dari masa lalu hingga masa kini. Sebagai langkah awal, kita dapat melayangkan pandangan jauh ke belakang, ke masa Hamzah Fansuri mula bersyair dan bernazam atau ke zaman Nuruddin Ar-Raniry ketika melahirkan Bustanul Sallatin (Taman Raja-Raja) dan ketika Raja Ali Haji melahirkan Bustanul Katibin (Taman Para Penulis). Hasil kesusastraan di zaman itu lebih sering disebut sebagai bagian dari sastra lama Nusantara dan dilanjutkan dengan sastra baru (modern) Indonesia yang dimulai sejak munculnya percetakan di Hindia Belanda dan diramaikan oleh kelompok Pujangga Baru. Meskipun demikian, patut diketahui bahwa sastra baru Indonesia pun sudah dipelopori oleh penulis Tionghoa peranakan yang mula pertama memperkenalkan cerpen dalam kesusastraan Indonesia modern.
Karya sastra Indonesia (Nusantara) lama itu sudah dimulai sejak abad ke-16 pada zaman Hamzah Fansuri, Nuruddin Ar-Raniry, dan Syamsuddin Al-Sumatrani hingga periode para wali di Jawa yang banyak menghasilkan suluk sebagai pengaruh budaya Islam. Namun, di Jawa jauh sebelum Islam masuk pun sudah memiliki karya sastra kakawin yang mendapat pengaruh dari India. Kesusastraan asing yang paling berpengaruh dalam kesusastraan Indonesia lama adalah kesusastraan Arab dan Parsi (Persia). Jejaknya itu dapat kita baca pada naskah lama yang ditulis dalam aksara Arab Melayu dan tersebar luas hingga ke seluruh wilayah Nusantara. Karya sastra dari Arab dan Parsi itu banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu serta meninggalkan bentuk hikayat, syair, gazal, rubai, gurindam, masnawi, dan barzanzi dalam khazanah sastra Indonesia lama.
Seperti halnya sastra tulis lain di dunia, sastra Islam Nusantara tumbuh dan berkembang sebagai hasil dari proses interaksi penulis-penulis muslim Nusantara dengan sumber-sumber dari luar dalam jangka masa yang panjang sebagaimana dengan sumber-sumber dari dalam. Dalam sastra Islam Nusantara sumber-sumber dari luar yang paling dominan pada masa pembentukannya ialah sastra Arab dan Parsi, atau tepatnya sastra Arab-Parsi. Ini bukan suatu kebetulan, melainkan disebabkan oleh faktor-faktor sejarah yang tidak terelakkan. Abad ke-12 dan 13 M ketika dunia pelayaran dan perdagangan antara kepulauan Nusantara dan dunia Islam di Asia Barat atau Timur Tengah sedang pesat berkembang, para ulama, cendekiawan dan budayawan Parsi memainkan peran penting pula dalam penyebaran Islam dan tradisi intelektualnya.
Untuk mengetahui pengaruh sastra Arab-Persia terhadap sastra Islam Nusantara maka pembahasan dibatasi meliputi sastra Arab, sastra Islam, Hamzah Fansuri, dan pengaruh sastra Arab-Persia pada syair karya Hamzah Fansuri.

B. Sastra Arab dan Karakteristinya
Dalam bahasa Arab, sastra disebut adab. Secara leksikal, kata adab memiliki arti sastra, etika, tata cara, filologi, kemanusiaan, kultur, dan ilmu humaniora. Saat ini sastra memiliki arti bahasa yang memiliki estetika bentuk dan isi baik lisan maupun tulisan. Oleh karena itulah, kata adab selain memiliki arti sopan santun juga memiliki dua makna: ilmu humaniora sebagai makna umum dan juga sastra sebagai makna khusus.
Secara bahasa, adab memiliki minimal tiga arti: sopan santun, ilmu humaniora, dan satra. Dalam pengertian sastra, adab (sastra) terbagi ke dalam dua bagian besar: al-adab al-wasfi (sastra deskriptif/nonimajinatif) dan aI-adab al-insya’i (sastra kreatif). Al-adab al-wasfi‘ sering disebut juga dengan Al-’ulum aI-Adabiyyah. AI-adab al-wasfi terdiri dari tiga bagian: sejarah sastra (tarikh adab), kritik sastra (naqd al-adab), dan teori sastra (nazariyah al-adab). Sementara itu, al-adab al-insya’i adalah ekspresi bahasa yang indah dalam-bentuk puisi, prosa, atau drama yang menggunakan gaya bahasa yang berbeda dari gaya bahasa biasa, karena mengandung aspek estetika bentuk dan makna (memuat rasa, imajinasi, dan pikiran), yang karenanya memengaruhi rasa dan pikiran penikmatnya (pembaca atau pendengar), serta kekuatan isi sebagiannya mengajak mereka pada hal-hal etis. Al-Adab al-insya’i (sastra kreatif Arab) dibagi ke dalam tiga bagian besar: puisi (as-syi’r), prosa (nasr), dan drama (al-masrahiyyah).
Kata syair merupakan hasil pengadopsian dari bahasa Arab, yaitu الشعر, bentuk jamaknya الأشعار, kata al-Syi’r berasal berarti yangشعر– يشعر– شعرا وشعورا kata dari mengetahui, merasakan, sadar dan mengkomposisikan atau mengarang sebuah (syi’r). Sedangkan syair menurut para sastrawan Arab adalah kata-kata fasih yang memiliki wazan (musikalitas) dan qafiyah (sajak) yang mengekspresikan bentuk-bentuk imajinasi yang indah. Menurut pandangan bangsa Arab syair itu adalah sebagai puncak keindahan dalam sastra, sebab syair itu merupakan suatu bentuk gubahan yang dihasilkan dari kehalusan perasaan dan keindahan daya khayal. Oleh karena itu, bangsa Arab lebih menyukai syair dibandingkan dengan sastra lainnya.
Syi’r merupakan salah satu bentuk karya sastra, maka sebuah ungkapan dapat dikatakan sebagai karya sastra apabila memenuhi empat unsur. Adapun unsur-unsur tersebut, yaitu:
1. ‘Atifah (rasa/perasaan)
Istilah ini sering disamakan oleh para sastrawan dengan feeling dan emosi. Feeling adalah sikap sang penyair terhadap pokok permasalahan atau objek. Sedangkan emosi adalah keadaan batin yang kuat, yang memperlihatkan kegembiraan, kesedihan, keharuan, atau keberanian yang bersifat subjektif. ‘Atifah dalam sastra merupakan salah satu unsur sastra yang sangat penting, karena rasa sastra inilah yang membedakan antara karya sastra dengan karya lainnya.
2. Khayal (imajinasi)
Imajinasi merupakan suatu bentuk kemampuan menciptakan citra dalam angan-angan atau pikiran tentang sesuatu yang tidak diserap oleh panca indra atau yang belum pernah dialami dalam kenyataan. Imajinasi adalah unsur yang sangat penting dalam karya sastra.Ia dapat membantu sastrawan dalam merekam peristiwa yang telah berlalu dan yang akan datang.
3. Fikrah (gagasan)
Fikrah merupakan patokan utama untuk mengetahui karya sastra atau juga disebut dengan tema sastra. Jika sebuah karya sastra tidak memiliki gagasan, maka sastra itu merupakan sastra yang mati, tidak dikenal, dan lemah. Sastra tidak hanya ungkapan semata, melainkan ia harus memberikan informasi baru tentang alam dan kehidupan, eksistensi, dan manusia.
4. Surah (bentuk)
Bentuk adalah sarana yang digunakan oleh seorang sastrawan dalam mentransformasikan pikiran dan perasaannya kepada para pembaca atau pendengar.

Adapun bentuk dari sasran dalam mengungkapkan pikiran dan perasaan melalui bahasa. Dalam karya sastra, khususnya syi’r seorang penyair pastinya memiliki tujuan tertentu dalam mengungkapkan pikiran dan perasaannya. Tujuan syi’r tersebut disebut juga dengan istilah aghrad al-syi’r. Jika kondisi atau keadaan sesuatu berupa rasa belas kasihan terhadap sesama, maka sastranya bertemakan kemanusiaan. Jika kondisinya berupa kecintaan dan keagungan terhadap Tuhan, maka, sastranya bertemakan ketuhanan, dan lain sebagainnya. Berikut ini merupakan tujuan-tujuan syi’r Arab:
1. Al-Fakhr, yaitu tema syair yang membangga-banggakan kelebihan yang dimiliki oleh penyair atau kelompoknya.
2. Al-Madh, yaitu tema syair berupa puji-pujian kepada seseorang, terutama mengenai sifat-sifat baiknya, akhlaknya yang mulia, atau tabiatnya yang terpuji.
3. Al-Ritsa’, yaitu tema syair yang mengungkapkan rasa putus asa, kesedihan dan kepedihan seseorang.
4. Al-Hija’, yaitu tema syair yang berisikan tentang kebencian, kemarahan, atau ketidaksukaan penyair terhadap seseorang atau kelompok lain.
5. Al-Wasf, yaitu tema syair dengan mendeskripsikan keadaan alam yang ada disekitar penyair.
6. Al-Ghazal, yaitu tema puisi yang membicarakan tentang wanita,dengan menggambarkan tentang wajahnya, matanya, tubuhnya dan lain sebagainnya.
7. Al-‘Itizar, yaitu tema syair yang menyatakan permintaan maaf agar diampuni segala kekeliruannya. Biasanya berupa ungkapan penyesalan atas ucapannya yang tidak berkenan dan melukai perasaan seseorang.
8. Zuhdiyyah, yaitu tema syair tentang kezuhudan, yang terkait dengan kehidupan para sufi.
Sastra Arab selalu mengalami perkembangan dari masa ke masa dengan munculnya corak baru pada sastra khususnya syi’r. Namun, perkembangan syi’r- syi’r spritual berkembang pada masa daulah ‘Abbasiyyah, yang dikenal dengan al- syi’r al-wujdani (syi’r spritual). Corak baru dari syi’r pada masa ‘Abba siyyah, seperti Zuhdiyyat (zuhud), Khamriyyat (minuman keras), Tardiyyat (perburuan) deskripsi tentang makanan, pemandangan, taman-taman bunga dan lain sebagainya. Sastra sufi mencapai puncak perkembangan pada abad ke-12 sampai abad ke14 M dengan munculnya banyak ahli tasawuf yang juga penyair besar, seperti, Ibn ‘Arabi, Farid al-Din al- ‘Attar, Jalal al-Din al-Rumi, Iraqi, Hafiz dan Jami.
Menjelang dan sesudah jatuhnya kekhalifahan Baghdad akibat serbuan bangsa Mongol, tasawuf memainkan peranan yang penting dalam pemikiran, kehidupan, dan kegiatan keagamaan kaum muslimin. Dan juga memainkan peranan utama dalam penyebaran agama Islam, khususnya di Asia Selatan, Asia Tengah, Afrika Utara, dan Asia Tenggara. Syi’r sufi merupakan bagian dari syi’r religi Islam yang bersifat mistis, karena lebih banyak dipengaruhi oleh aspek-aspek batin dibandingkan logika. Hal ini dapat kita amati, dimana sebagian sufi dalam menciptakan syi’r-syi’rnya, selain dari unsur emosi juga menggunakan aspek logika dalam syi’r mereka, bahkan terkadang tampak mendominasi, terutama pada hal-hal yang bersifat simbolis.
1. Perkembangan Syi’r Sufi
Pembahasan mengenai kemunculan dan perkembangan syi’r sufi Arab, terbagi kedalam beberapa fase, yaitu:
a. Fase pertama atau fase awal dari sejarah kemunculan dan perkembangan syi’rsufi dimulai pada tahun 100-200 H, pada masa khilafah ‘Abbasiyyah. Syi’r sufi pada masa ini masih sangat sedikit sekali, hanya terdiri dari beberapa bait saja. Penyair sufi pada masa ini adalah Rabi‘ah al-Adawiyyah (185 H).
b. Fase kedua sekitar abad ke-3 sampai abad ke-4 H. Pada fase ini syi’r sudah mulai mengalami perkembangan dan kemajuan. Penyair sufi pada masa ini adalah Abu Turab ‘Askari Ibn al-Husain al-Nakhshabi (245 H), Abu Hamzah al-Khurasani, al-Mutanabi, Sharif Rida, dan sebagainya.
c. Fase ketiga sekitar tahun 400-600 H. Pada fase ini syi’r sufi didominasi oleh corak al-hubb al-Ilahi (cinta Ilahi), madh al- Rasul (pujian kepada Rasul), al-shawq ila al-amakin al-muqaddasah (kerinduan pada tempat-tempat yang suci), dan ajakan kepada keutamaan ajaran Islam. Penyair sufi pada masa ini adalah al-Sahrawardi al-Shami (586 H), al-Rifa‘i (587), ‘Abd al-Qadir al-Jailani, Abu ‘Abdillah Muhammad Ibn Ahmad al-Andalusi, dan al-Bara’i.
d. Fase keempat pada abad ke-7 H. Pada periode ini syi’r sufi berada pada puncak kejayaannya. Penyair sufi pada masa ini adalah Ibn al-Farid (632 H), Jalal al-Din al-Rumi, Muhyidin Ibn ‘Arabi (638 H), al-Busairi (690 H), Ibn ‘Ata‘illah al-Iskandari (707 H), dan lain sebagainya.
e. Fase kelima dimulai pada abad ke8 H sampai sekarang. Penyair sufi terkenal adalah al-Sha‘rani (898-973 H), al-Nabalsi (1143 H), dan lain sebagainya.
2. Karakteristik Syi’r Sufi
Syi’r sufi dan syi’r Arab dari aspek fisik atau bentuknya memang tidak memiliki perbedaan, namun jika dilihat dari aspek kandungan isinya ada beberapa ciri khusus yang membedakan antara syi’r sufi dan syi’r Arab, adapun corak khusus dari syi’r sufi, yaitu: 37
a. Syi’r sufi lebih banyak berbicara tentang jiwa dibandingkan dengan aspek lainnya, sehingga lebih bersifat mistis daripada logis.
b. Dilihat dari aspek gaya bahasa dan tema syi’r sufi lebih banyak menggunakan simbol atau lambang.
c. Syi’r sufi banyak mengungkapkan tentang cinta, terutama cinta Ilahi (al-hubb alIlahi). Dalam ungkapan cintanya tersebut, penyair selalu menghubungkan dengan dunia ruhani, dunia langit, cahaya dan kemulian Tuhan.
d. Syi’r sufi sarat dengan makna, imajinatif, kreatif dalam menggunakan kata untuk berbagai dan memiliki pengetahuan yang luar biasa dalam mengilustrasikan sesuatu, kemudian merangkainya dengan cermat.
e. Sastra pada dasarnya merupakan ungkapan emosi sang penyair, keadaan penyair itu sendiri, serta gejolak perasaan terdalam yang dirasakan. Sedangkan sastra sufi hakekatnya adalah sastra emosional murni, untuk itu dari segi makna ia termasuk pada corak sastra romantis iluminasi spritualis.
f. Semua syi’r sufi yang berkembang berkaitan erat dengan paham tasawuf yang dianut oleh seorang penyair sufi.

C. Mengenal Hamzah Fansuri
Singkil memiliki sejarah yang unik dan bahkan dianggap oleh orang Singkil sebagai kota Batuah. Hal ini mengingat bahwa di daerah tersebut lahir beberapa orang ulama yang terkenal tidak hanya di Aceh (Nusantara), melainkan juga dikenal di dunia Erapa antara lain Syeikh Abdurrauf al-Singkily, Syamsuddin al-Sumatrany dan Syeikh Hamzah Fansuri. Hamzah Fansuri adalah seorang tokoh intelektual dan tokoh agama terkemuka pada zamannya. Dia dilahirkan di tanah Fansur atau Barus yang sekarang terletak daerah Singgil, dan diperkirakan hidup antara pertengahan abad ke-16 M dan 17 M sejak akhir abad ke-16 M tanah kelahirannya masuk ke dalam wilayah kerajaan Aceh Darussalam. Bersama saudaranya Ali Fansuri, dia mendirikan sebuah dayah (pesantren) besar di Singgil, tidak jauh dari tempat kelahirannya.
Mula-mula Hamzah Fansuri mempelajari tasawuf setelah menjadi anggota terekat Qadiriyah yang didirikan oleh Syeikh Abdul Qadir Jilani dan dalam terikat ini pula dia dibaiat. Setelah mengembara ke berbagai negara Islam seperti Baghdad, Mekkah Madinah dan Yerusalem, di kembali ke tanah airnya serta mengembangkan ajaran tasawuf sendiri. Ajaran tasawuf yang dikembangkannya banyak dipengaruhi pemikiran wujudiyah Ibn’Arabi, Sadrudin al-Qunawi dan Fakhruddin ‘Iraqi. Sedangkan karangan-karangan sastranya banyak dipengaruhi Fariduddin al-Aththar, Jamaluddin al-Rami dan Abdur Rahman al-Jami.
Sehubungan dengan itu Hamzah Fansuri di samping sebagai pemula penciptaan syair-syair dalam sastra Melayu Islam, juga menjadi tonggak sejarah penyebaran Islam di Indonesia. Kehidupan Hamzah Fansuri tidak terlepas dari penyebaran Islam di Indonesia. Kehidupannya mempunyai alur historis secara langsung atau tidak langsung terkait dengan kondisi perjalanan Islam di nusantara, alur historis yang terjadi dalam hubungannya dengan kehidupan sufi, sastrawan dan cendekiawan sejak masa penyebaran agama Islam di Aceh di mana terjadinya interaksi antara muslim nusantara dan muslim Timur Tengah, Persia dan India khusus berkaitan dengan pesatnya perdagangan, menurut H.T. Husein, salah satu pusat perdagangan yang ramai dikunjungi saudagar dan musafir dari mancanegara pada abad ke 16 adalah kota pelabuhan Barus.
Hamzah Fansuri, seorang ulama sufi, sastrawan dan cendekiawan terkenal baik di tingkat nasional, regional maupun mancanegara. Ulama Syeikh Hamzah Fansuri dikenal baik oleh kawan yang sealiran dengannya maupun yang tidak seprinsip dengan ajaran-ajarannya. Tidak dapat disangkal bahwa Hamzah Fansuri telah meletakkan dasar yang paling kuat pada bentuk sastra Melayu klasik, yang sampai sekarang masih dikagumi kekuatannya. Kekuatan syair Hamzah Fansuri terletak pada kemampuannya memadukan antara seni sastra dengan berintikan ajaran agama, khususnya tauhid. Kekuatan ini belum ada di negeri Melayu sebelumnya. Selanjutnya ajaran-ajaran agama di seluruh nusantara dipelajari lewat bahasa Melayu, tidak lagi dari bahasa Arab seperti sebelumnya. Siapa pun yang ingin belajar Islam haru paham bahasa Melayu lebih dahulu. Oleh karena demikian sampai sekarang, dalam hal-hal yang berkaitan dengan ajaran agama Islam, mereka menggunakan bahasa Melayu, dari Aceh sampai dengan Mindanau.
Syeikh Hamzah Fansuri diperkirakan telah menjadi penulis pada masa Kesultanan Aceh diperintah oleh Sultan Alauddin Ri’ayat Syah Sayid al-Mukammal (1589-1604). Ia banyak melakukan pengembaraan untuk mencari makrifat Allah Swt. Ketika pengembaraannya selesai, ia kembali ke Aceh dan mengajarkan ilmunya kepada murid –muridnya. Mula-mula ia berdiam di Barus lalu ke Banda Aceh. Kemudian kembali lagi ke Singkil serta mendirikan dayah (pesantren) Oboh Simpangkanan, Singkel.
Riwayat hidupnya yang sedikit itu dan pengembaraannya ke banyak tempat di ketahui melalui syair-syairnya. Syair Hamzah Fansuri merupakan syair-syair Melayu yang tertua. Bersama-sama dengan Syeikh Syamsuddin al-Sumatrani. Hamzah Fansuri adalah tokoh aliran wujudiyah (penganut paham wahdatul wujud). Ia dianggap sebagai guru Syamsuddin al-sumatrani. Syamsuddin kerap kali mengutip ungkapan-ungkapan Hazah Fansuri. Bersama dengan muridnya ini, Hamzah Fansuri dituduh menyebarkan ajaran sesat oleh Nuruddin Ar-Raniry, ulama yang paling berpengaruh di istana Sultan Iskandar Thani. Abdul Hadi WM. Memberikan komentar bahwa kecermelangan gaya penulisan Syeikh Hamzah Fansuri diakui sulit ditandingi oleh ulama sezaman dan sesudahnya. Syeikh adalah pemula yang menulis puisi tasawuf Islam Nusantara.
Hamzah Fansuri, yang diperkirakan hidup antara pertengahan abad ke-16 sampai awal abad ke-17, merupakan salah seorang tokoh besar yang pernah dilahirkan oleh sejarah keemasan masa lampau nusantara Melayu-Indonesia. Beliau dianggap sebagai tokoh yang paling berjasa dalam perkembangan bahasa dan kesusasteraan Melayu klasik yang pada akhirnya menjadi cikal bakal bahasa resmi bangsa Indonesia pada saat ini. Ketenarannya dalam bidang bahasa dan sastra telah mengantarkan beliau menjadi seorang tokoh yang selalu hidup dalam setiap kajian para intelektual baik dalam maupun luar negeri. Hamzah Fansuri merupakan penyair pertama di dunia Melayu yang memperkenalkan syair sebagai bentuk pengucapan sastra.Adapun kandungan dari syairnya berupa cerita yang panjang mengenai suatu hal yakni ajaran tasawuf wujudiyyah. Syair-syair Hamzah Fansuri sebagai variasi terhadap puitika ArabParsi yang diintegrasikan ke dalam system persajakan Melayu yang berkembang dalam bentuk sastra lisan.
Sebagai seorang sastrawan besar, Hamzah Fansuri telah melahirkan karya-karya monumental sebagai warisan intelektual dan budaya yang sangat berharga untuk generasi sesudahnya. Karya-karya sastra tersebut, baik dalam bentuk syair maupun prosa merupakan pelopor penulisan sastra sufi di nusantara ini. Hal ini disebabkan karena isi dari karya-karyanya tersebut mengandung nilai-nilai sufi yang sangat tinggi yang ditulis secara sangat sistematika dan memenuhi standar ilmiah.
Oleh karena itu, Hamzah Fansuri dikenal sebagai tokoh sastrawan sufi yang telah menjadikan sastra sebagai media untuk mengungkapkan ide-ide dan perasaan rindunya kepada Allah sang pencipta. Pengembaraannya yang jauh ke negeri-negeri Semenanjung Tanah Melayu, Pulau Jawa, India, Parsia, Arabia dan sebagainya, telah membuat Hamzah Fansuri mempunyai cakrawala yang sejauh ufuk langit, sehingga beliau menjadi seorang pengarang/sastrawan, yang karya tulisnya berisi padat dan penuh dengan butir-butir filsafat, tetapi halus dan enak dibaca. Sebagaimana lazimnya penyair Sufi, maka sajak-sajak Hamzah Fansuri penuh dengan rindu-dendam; rindu kepada Mahbubnya, Kekasihnya, Khaliknya, Allah Yang Maha Esa. Sedemikian rindunya, sehingga dia merasa seperti telah bersatu/menjadi satu dengan Kekasihnya itu, sehingga Hamzah seakan-akan berbicara dengan lidah Khaliknya, mendengar dengan telinga Khaliknya, melihat dengan mata Khaliknya, mencium dengan hidung Khaliknya, karena jasadnya telah luluh ke dalam Khaliknya, yakni Mahbub yang dirindukannya itu.
Adapun karya-karya Hamzah Fansuri berupa prosa dan syair, karya prosa Hamzah Fansuri, yakni:
a. Asrar al-‘Arifin Fi Bayani ‘Ilm al-Suluki wa al-Tauhid, (keterangan mengenai perjalanan ilmu suluk dan keesaan Allah) kitab ini membahas masalah ilmu tauhid dan ilmu tarekat, dalam kitab ini tersimpan ajarannya.
b. Sharab al-‘Ashiqin (minuman orangorang yang cinta pada Tuhan) kitab ini membicarakan masalah tarekat, syariat, hakikat, dan makrifat.
c. Al-Muntahi (orang yang mahir atau pakar) kitab ini membicarakan masalah tasawuf.
d. Ruba‘i Hamzah Fansuri (syair sufi, yang penuh butir-butir filsafat).

Sedangkan karyanya yang berupa syair, antara lain:
a. Syair si Burung Pingai
b. Syair Si Burung Pungguk
c. Syair Sidang Faqir
d. Syair Dagang
e. Syair Perahu
Syair-syair Hamzah Fansuri dapat digolongkan kedalam dua kelompok. Pertama, kurang lebih serupa dengan kitab tasawuf, yang secara langsung mendakwahkan ajaran sufi. Kedua, mengungkapkan ide-ide yang sama, tetapi secara tidak langsung, melalui citra-citra simbolik khas sufi. 20 Karya-karya Hamzah Fansuri, terutama syair memiliki karakteristik tertentu, karakteristik syair Hamzah, ialah:
1. Struktur lahirnya semua puisi Hamzah Fansuri berupa sajak empat baris dengan skema akhir AAAA, yang merupakan suatu bentuk puisi yang disebut syair dalam kesusastraan Melayu.
2. Hamzah Fansuri merupakan orang yang pertama kali menulis ilmu tasawuf dalam bentuk syair. Struktur batin syair-syairnya merupakan ungkapan perasaan fana, cinta ilahi, kemabukan mistik, pengalaman batin yang diperoleh penyair dalam melakukan perjalanan keruhanian (suluk). Puisi-puisi semacam ini menggunakan perumpamaan yang khas terutama yang berkenaan dengan anggur, kekasih, perjalanan, lautan dan lain sebagainya.
3. Banyaknya kutipan ayat-ayat mutashabihat al-Qur’an di dalam puisipuisi tersebut dengan fungsi religious dan estetis.
4. Dalam puisinya terdapat ungkapanungkapan dan citra-citra paradoks, suatu hal yang lazim dalam kesusastraan mistikal atau sufistik.
5. Sejumlah baris syair Hamzah Fansuri memiliki kesamaan dengan barisbaris puisi penyair Parsi seperti ‘Iraqi, Hafiz, Rumi, Mahmud al-Shabistari, al-Maghribi dan Jami.
6. Dalam syairnya terdapat kata ambilan dari bahasa Arab dan sejumlah kata Jawa. Ditambah dengan kutipan ayat al-Qur’an dan hadits.
Dilihat dari aspek estetika Hamzah telah melaksanakan tuntutan licentia poetrica (kebebasan penyair) secara utuh. Dilihat dari aspek perkembangan Islam, puisinya mencerminkan dahsyatnya proses islamisasi kebudayaan Melayu. Dilihat dari aspek bahasa Melayu, dengan munculnya Hamzah Fansuri dan penulis-penulis Melayu abad ke16 dan abad ke-17 yang lain, “destruksi” dan pembaharuan tersebut ternyata menyebabkan populernya bahasa Melayu di tengah bahasa bahasa Nusantara, sampai ia menjadi bahasa yang paling penting di kepulauan Nusantara, bahkan di Asia Tenggara. Namun naskah syair Hamzah Fansuri hanya sedikit yang sampai ke tangan kita pada saat sekarang ini. Dapat diduga syair-syair Hamzah telah musnah dalam pembakaran yang ditimbulkan oleh al-Raniri pada zaman Sultan Iskandar Thani. Mungkin juga disebabkan oleh sifat syair Hamzah itu sendiri yang penuh dengan kata-kata dan ungkapan Arab dan sukar dipahami.

D. Pengaruh Sastra Arab terhadap Karya Sastra Hamzah Fansuri
Syair-syair Hamzah Fansuri sebagaimana yang telah dijelaskan pada bagian terdahulu memiliki hubungan yang erat dengan sastra Arab.Keterkaitan syairnya itu terlihat dari aspek bahasa, dan aspek batin puisi itu sendiri. Indikator kuat yang menyatakan adanya hubungan antara sang penyair dengan dunia sastra Arab itu terlihat dari riwayat hidup Hamzah. Adapun indikator-indikator tersebut, yaitu: Pertama, dalam syair-syair yang ditulis Hamzah Fansuri, terdapat beberapa indikasi yang menyatakan hubungannya dengan dunia Arab dan tokoh-tokoh Sufi Islam. Kedua, berdasarkan pada fakta sejarah yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa Hamzah Fansuri tinggal dan menetap di sebuah wilayah yang banyak dikunjungi bangsa asing, termasuk bangsa Arab.Ketiga, Hamzah Fansuri selain belajar di Aceh di sekitar tempat kelahirannya, ia juga mengembara ke berbagai tempat, di antaranya adalah Arab. Ia juga mahir dalam berbagai disiplin ilmu, seperti fikih, tasawuf, falsafah, mantiq, ilmu kalam, sejarah, sastra, dan lain sebagainya. Selain itu ia juga menguasai bahasa Arab dengan fasih, serta menguasai bahasa Urdu, Parsi, Melayu, dan Jawa.
1. Aspek Bahasa
Pengaruh sastra Arab dari aspek bahasa yang terdapat pada syair Hamzah Fansuri terlihat dalam beberapa kategori, seperti pada kosakata (mufradat) baik yang diserap ke dalam bahasa Indonesia, istilah-istilah tasawuf, dan istilah-istilah sastra yang digunakan.Di bawah ini kata-kata bahasa Arab yang terdapat pada puisi Hamzah Fansuri, dalam syair Burung Pingai dan syair Perahu.
a. Syair Burung Pingai Syair
Burung Pingai bercerita tentang Burung Pingai sebagai simbol kedekatan hubungan manusia dengan Tuhannya. Di dalamnya, dijelaskan hakikat keberadaan manusia dalam hubungannya dengan Tuhan. Dengan pendekatan sufistik tasawuf falsafi, syair ini mendeskripsikan bagaimana wujud makhluk dalam satu kesatuan dengan Tuhan sehingga Tuhan berada dalam keseluruhan wujud ciptaan-Nya. Hal ini terlihat dalam syairnya berikut:

Thayr al-‘uryan unggas ruhani
Di dalam kandang hadrat Rahmani
Warnanya pingai terlalu safi
Tempatnya kursi yang maha ‘ali

Sungguhpun ‘uryan bukannya gila
Mengaji al-Quran dengan terula
Tempatnya mandi seungai Salsabila
Di dalam firdaus ra’su Zanjabila

Sungai itu terlalu ‘ali
Akan minuman thayr al-uryani
Setelah minum jadi hairani
Takar pun pecah belah serahi

Minuman itu terlalu larang
Harganya banyak artamu alang-alang
Badan dan nyawa jangan kau saying
Inilah harga arak yang garang

Thayr al-uryan mabuknya salim
Mengenal Allah terlalu alim
Demikianlah mabuk haruskan hakim
Inilah amal Sayyid Abu al-Qasim

Minuman itu tiada berbagai
Pada Ramadhan harus kau pakai
Halal thayyiban pada sekalian sakai
Barang minuman dia tiadakan lalai

Minuman itu terlalu safi
Yogya akan syurbat maulana qadi
Barang meminum dia Tuhan kita radi
Pada kedua alam ia Hayy al-Baqi

Minuman itu yogya kau permain
Supaya lupa engkau akan kain
Buangkan wujudmu cari yang lain
Inilah ‘uryan pada ahl batin

Jika engkau kasih akan nyawamu
Terlalu batil sekalian kerjamu
Akulah ‘uryan jangankan katamu
Orang yang ‘uryan bukan rupamu

Riya’dan khayal tiadakan qabil
Pada orang arif yang sudah kamil
Lain dari pada mabuk dan ilmu wasil
Pada ahl al-haqiqah sekalian batil

Riya’ dan khayal ilmu nafsani
Di manakah sampai pada ilmu yang ‘ali
Seperti Bayazid dan Mansur Baghdadi
Mengatakan Ana al-Haqq dan qawl Subhani

Kerjamu itu hai anak dagang
Pada ahl al-ma’rifah terlalu malang
Markab tauhid yogya kau pasang
Di tengah laut yang tiada berkarang

Hamzah Fansuri di negeri Melayu
Tempatnya kapur di dalam kayu
Asalnya manikam tiadakan layu
Dengan ilmu dunia dinamakan payu.

No Latin Arab Arti
1 ‘Uryan عرين Bebas atau telanjang
2 Ruhani روحني Bertalian dengan roh, keruhanian
3 Haqiqah حقيقة Intisari atau dasar, kenyataan yang benar
4 Hadrah حضرة Hadapan, yang mulia
5 Rahman رحمن Belas kasih, pengasih
6 Tayr طير Burung
7 Kursi كرسي Tempat duduk, kedudukan
8 Shurbah شربة minuman segar, minuman keras, air anggur
9 Rodi رضي Ridho; rela
10 Safi ﺻﺎﰱ Bersih, jujur, murni, tulus hati, sahabat sejati.
10 Ruh روح Roh: ruh
11 Bayan ﺑﯿﺎن nyata, terang
No Latin Arab Arti
12 ‘Ali عالي Tinggi
13 Hayran حيران Heran: merasa ganjil (ketika melihat atau mendengar sesuatu), tercengang, takjub, aneh, ajib
14 ‘Alim عالم Berilmu, saleh
15 Firdaus ﻓﺮدوس Taman kesenangan (surga)
16 Salim سليم Sehat, sempurna, tidak rusak
17 Hakim حاكم Orang yang mengadili perkara, pengadilan
18 ‘Amal عمل Amal: perbuatan (baik atau buruk),
19 Sayyid سيد Sayid: tuan
20 Qadi قاضي Kadi: hakim yang mengadili perkara
21 Maulana مولا Gelar kehormatan untuk Tuhan, gelar kehormatan untuk para Nabi, gelar kehormatan untuk para ulama besar atau sufi, tuan kami
22 Baqi باقي Kekal, abadi, baka, kelebihan, sisa
23 Hayy حي Hidup
24 Ahl اﻫﻞ Pemilik

No Latin Arab Arti
25 Batin بطن Batin: sesuatu yang terdapat di hati, sesuatu yang tersembunyi, semangat, hakikat
26 Batil باطل Batil: batal, sia-sia, tidak benar
27 Riya رياء Ria: sombong, congkak, bangga
28 Khayal خيال Khayal: lukisan atau gambaran di angan-angan fantasi
29 Qabil قابل Kabul: diperkenankan, memperkenankan
Kamil كامل Sempurna
30 Arif عارف Arif: bijaksana, cerdik, pandai, berilmu, paham, mengerti
31 Wasil وسيل Wasilah: ikatan, perhubungan, pertalian
Ana انا Saya
32 Nafsu نفس Nafsu: keinginan (kecenderungan, dorongan) hati yang kuat, hawa nafsu, selera, gairah, panas hati, marah, dan lain-lain
33 Haq حق Hak: benar, sebenarnya, sesungguh-sesungguhnya
Qaul قول Perkataan; ucapan
34 Subhan سبحان Maha Suci (untuk Allah)
35 Ma‘rifah معرفة Makrifat: pengetahuan, tingkat penyerahan diri kepada Tuhan, yang naik setingkat demi setingkat sehingga sampai kepada tingkat keyakinan yang kuat

b. Syair Perahu
Syair ini membandingkan kehidupan manusia dengan sebuah perahu yang berlayar di lautan yang sangat dalam. Dalam syairnya ini, Hamzah melambangkan kehidupan manusia saat ini bagaikan sebuah perahu yang sedang berlayar di lautan. Pelayaran itu menuju sebuah alam lain dari kehidupan manusia. Hal ini dapat dilihat di dalam bait syairnya berikut:

Inilah gerangan suatu madah
Mengarangkan syair yang terlalu indah
Membetuli jalan tempat berpindah
Disanalah i’tikat diperbetuli sudah

Wahai muda, kenali dirimu
Ialah perahu tamsil tubuhmu
Tiadalah berapa lama hidupmu
Ke akhirat jua kekal diammu

Hal muda arif budiman
Hasilkan kemudi dengan pedoman
Alat perahumu jua kerjakan
Itulah jalan membetuli insan

Perteguh jua alat perahumu
Hasilkan bekal air dan kayu
Dayung pengayuh taruh disitu
Supaya laju perahumu itu

Sudahlah hasil kayu dan ayar
Angkatlah pula sauh dan layar
Pada beras bekal jantanlah taksir
Niscaya sempurna jalan yang kabir

Perteguh jua alat perahumu
Muaranya sempit tempatmu lalu
Banyaklah disana ikan dan hiu
Menanti perahumu lalu dari situ

Muaranya dalam, ikanpun banyak
Disanalah perahu karam dan rusak
Karangnya tajam seperti tombak,
Ke atas pasir kamu tersesak.

Ketahui olehmu hai anak dagang
Riaknya rencam ombaknya karang
Ikanpun banyak datang menyarang
Hendak membawa ketengah sawang

Muaranya itu terlalu sempit
Dimanakan lalu sampan dan rakit
Jikalau ada pedoman dikapit
Sempurnalah jalan terlalu ba’id

Baiklah perahu engkau perteguh
Hasilkan pendapat dengan tali sauh
Anginnya keras ombaknya cabuh
Pulaunya jauh tempat berlabuh

Lengkapkan pendarat dan tali sauh
Derasmu banyak bertemu musuh
Selebu rencam ombaknya cabuh
La Ilaha Ila Allah akan tali yang teguh

Barang siapa bergantung disitu
Teduhlah selebu yang rencam itu
Pedoman betuli perahumu laju
Selamat engkau ke pulau itu

La Ilaha Ila Allah jua yang engkau ikut
Di laut keras topan dan ribut
Hiu dan paus dibelakang menurut
Pertetaplah kemudi jangan terkejut

Laut Silan terlalu dalam
Disanalah perahu rusak dan karam
Sungguhpun banyak disana menyelam
Larang mendapat permata nilam

Laut Silan wahid al kahhar
Riaknya rencam ombaknya besar
Anginnya songsongan (mem)belok sengkar
Perbaik kemudi jangan berkisar

Itulah laut yang mahaindah
Kesanalah kita semuanya berpindah
Hasilkan bekal kayu dan juadah
Selamatlah engkau sempurna musyahadah

Silan itu ombaknya kisah
Banyaklah akan kesana berpindah
Topan dan ribut terlalu ‘azamah
Perbetuli pedoman jangan berubah

Laut Kulzum terlalu dalam
Ombaknya muhit pada sekalian alam
Banyaklah disana rusak dan karam
Perbaiki na’am, siang dan malam

Ingati sungguh siang dan malam
Lautnya deras bertambah dalam
Anginpun keras, ombaknya rencam
Ingati perahu jangan tenggelam

Jikalau engkau ingati sungguh
Angin yang keras menjadi teduh
Tambahan selalu tetap yang cabuh
Selamat engkau ke pulau itu berlabuh.

No Latin Arab Arti
1 madh مدح Kata-kata pujian
2 I’tiqad اعتقاد Kepercayaan, keyakinan yang teguh
3 Tamsil تمثيل P؛ersamaan dengan umpama (misal), ibarat, lukisan sesuatu sebagai contoh.
4 ‘Arif عارف Bijaksana, cerdik, pandai, berilmu, paham, mengerti
5 Insan انسان Manusia
6 Taqsir تقصير Mengurangi atau memperpendek
7 Kabir كبير Besar, Yang Maha Besar
8 Ba‘id بعيد Jauh
9 Wahid واحد Satu, tunggal
10 Qahir قاهر Yang Maha Kuasa
11 Musyahadah مشاهدة Penyaksian
12 ‘Azamah عظامة Hebat, permai, amat sangat

Hamzah Fansuri di dalam syairnya tersebut secara jelas menyatakan bahwa karangannya tersebut ia namakan dengan syair. istilah syair diambil dari pembendaharaan kosa kata yang dalam bahasa dan sastra Arab disebut syi’r (شعر). Para sastrawan mendefinisikan puisi sebagai perkataan yang memiliki wazan (musikalitas) dan qafiyah (sajak), yang mengungkapkan tentang khayalan-khayalan dan gambaran-gambaran indah yang memberikan pengaruh. Jadi puisi merupakan salah satu medium yang dapat dipakai untuk mengungkapkan makna yang hendak disampaikan sang penyair. Puisi yang dijadikan medium tersebut merupakan satu bangunan menyeluruh yang merupakan perpaduan dari berbagai unsur yang ada, seperti tema syair, perasaan penyair, sikap penyair terhadap pendengar, dan amanat atau maksud penyair dalam menyampaikan syairnya.
Selain kata syair, di dalam bait tersebut ia juga menyebutkan salah satu tujuan dituliskannya puisi, yaitu sebagai madah atau pujian yang biasa digunakan oleh para sastrawan Arab dan termasuk salah satu tujuan penulisan syi’r. Dengan adanya kata madah dalam bait puisinya, maka menjadi dalil yang akurat, jika Hamzah Fansuri banyak dipengaruhi oleh sastra Arab. Kedua kata tersebut sangat jelas memberikan indikasi bahwa Hamzah Fansuri dalam menuliskan syair-syairnya sangat dipengaruhi oleh sastra Arab.
2. Aspek Instrinsik Puisi Hamzah Fansuri
Pengaruh sastra Arab terhadap syair-syair Hamzah Fansuri jika ditinjau dari aspek tema (aghrad al-syi’r), maka telihat dengan jelas tujuannya tersebut. Di dalam syi’r Arab dikenal dengan beberapa tujuan dari syi’r, seperti al-madh untuk memuji, al-hija’ untuk mengejek, al-ritsa’ sebagai ratapan, al-ghazal (cumbuan percintaan), dan lain sebagainya. Dalam syi’r sufi berdasarkan pada tema dan tujuannya ada beberapa corak syi’r yang berkembang berkaitan erat dengan paham tasawuf, seperti syi’r zuhud (ascetism poetic), (syi’r cinta ilahi), syi’r al-Mada‘ih al-Nabawiyah (syi’r pujian kepada Nabi), syi’r al-Hikmah wa al-Adab (syi’r hikmah dan moral), syi’r al-Du‘a (syi’r do’a) dan syi’r al-Tasbih (syi’r pensucian Tuhan).
Nampak jelas bahwa terdapat unsur-unsur sastra Arab pada syair-syair Hamzah Fansuri, maka tanpa disadari ia terpengaruh oleh corak sastra Arab, khususnya sastra sufi. Pengaruh syair-syair Hamzah Fansuri tidak hanya dari aspek tema syairnya, melainkan pengaruh sastra Arab terhadap gaya imajinasi syair-syair Hamzah. Bahwasanya Hamzah Fansuri sebagi seorang sufi yang menganut paham wahdatal-wujud, ia juga melakukan imajinasi. Imajinasi yang tinggi ini, pada akhirnya sulit untuk diapresiasikan dalam kata-kata karena keterbatasan bahasa manusia, sehingga memerlukan berbagai simbol dan perumpamaan. Dalam sastra Arab, penggunaan simbol-simbol dan perumpamaan-perumpamaan ini sudah menjadi lazim dalam bersyair.
Di dalam sastra Arab perumpamaan atau tasbih yang paling tinggi kualitasnya secara garis besar terbagi dua macam, yaitu majaz dan isti’arah, keduanya terangkum dalam kajian tasbih yang terdapat pada ilmu Bayan, dalam objek kajian ilmu Balaghah. Pada syair-syair Hamzah Fansuri perumpamaan itu, baik maja z maupun isti’arah, sangat banyak dijumpai. Seperti pada syair Burung Pinggai yang menggunakan simbol unggas yang digunakan sebagai perumpamaan dalam menggambarkan pengembaraan jiwa atau ruh dalam mencari kesempurnaan dirinya.
Semua syair yang diciptakan oleh Hamzah Fansuri dalam setiap baitnya bersifat simbolik dan perumpamaan. Thayr al-‘uryan, diartikan sebagai burung yang telanjang, namun Hamzah menjadikannya sebagai perumpamaan bagi jiwanya yang bebas mengembara. Hal ini dapat diketahui dari indikator (qarinah) yang terdapat pada kata yang ada setelah itu, yakni unggas ruhani. Pada kata berikutnya ia menyebutkan kata kandang sebagi perumpamaan bagi jiwanya yang ada pada wadah tertentu yang diberikan Tuhan. Hampir semua kata dan kalimat yang terdapat dalam syair-syair Hamzah mengandung perumpamaan (tasybih

E. Kesimpulan
Di dalam syair-syair Hamzah Fansuri terdapat beberapa indikator yang menyatakan hubungannya dengan dunia Arab, tokoh-tokoh sufi Islam, serta pemikiran mereka. Berdasarkan fakta sejarah yang telah disinggung sebelumnya, Hamzah Fansuri tinggal dan menetap di sebuah wilayah yang banyak dikunjungi bangsa asing, termasuk Arab. Kemudian Hamzah Fansuri selain belajar di Aceh tempat kelahirannya, ia juga mengembara ke berbagai tempat, di antaranya adalah Arab. Ia juga mahir dan fasih dalam berbagai disiplin ilmu, seperti fikih, tasawuf, falsafah, mantiq, ilmu kalam, sejarah, sastra, dan lain-lain. Dalam bidang bahasa ia menguasai dengan baik seluruh sektor ilmu Arabiyah, fasih dalam ucapan bahasanya itu, dan juga menguasai bahasa Urdu, Parsi, Melayu, dan Jawa. Karya-karya Hamzah Fansuri kebanyak dipengaruhi oleh sastra Arab. Hal ini dapat dilihat dari syair-syairnya yang banyak menggunakan kosakata Arab, dan juga menggunakan istilah-istilah tasawuf yang berbahasa Arab.Begitu juga pada aspek tujuan atau tema (aghrad al-syi’r) dan juga dari aspek imajinasi (khayal) sangat dipengaruhi oleh sastra Arab. Indikasi-indikasi ini cukup untuk membuktikan bahwa ada hubungan yang erat antara Hamzah Fansuri dan sastra Arab.Sehingga dengan demikian, terbukti bahwa sastra Indonesia pada fase tertentu tepatnya sebelum abad ke-20 pernah dipengaruhi oleh sastra Arab.Hamzah Fansuri yang dianggap sebagai pelopor kesusasteraan Melayu Klasik dalam syair-syair sufinya terbukti dipengaruhi oleh sastra Arab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here