PRAGMATIK DAN TINDAK UJAR

PRAGMATIK DAN TINDAK UJAR

A. Pendahuluan
Kegiatan berbicara merupakan kegiatan penting dalam kehidupan manusia. Kegiatan berbicara disebut juga sebagai percakapan. Dalam percakapan dibutuhkan minimal dua orang di dalamnya. Satu pihak sebagai penutur dan pihak lain sebagai mitra tutur dengan bahasa sebagai sarana berkomunikasi yang dipahami oleh keduanya. Bahasa yang dipahami bersama oleh penutur dan mitra tutur merupakan salah satu syarat terciptanya kelancaran dalam berkomunikasi.
Bertutur merupakan kegiatan yang berdimensi sosial. Seperti lazimnya kegiatan-kegiatan sosial lainnya, kegiatan bertutur dapat berlangsung secara baik apabila para peserta pertuturan itu semuanya terlibat aktif di dalam proses bertutur. Apabila terdapat salah satu pihak yang tidak terlibat aktif dalam kegiatan bertutur, dapat dipastikan bahwa peristiwa tutur tersebut tidak dapat berjalan dengan lancar. Dengan demikian, agar proses komunikasi antara penutur dan mitra tutur dapat berjalan dengan baik dan lancar, maka keduanya harus saling berkerjasama. Hal ini dimaksudkan agar lawan tutur dapat memahami maksud (implikatur) suatu ungkapan yang disampaikan oleh penutur, meskipun maksud tersebut tidak dapat disampaikan secara eksplisit.
Bahasa merupakan media utama yang dipakai dalam percakapan. Bahasa dapat digunakan untuk mengekspresikan emosi, menginformasikan suatu fakta, mempengaruhi orang lain, mengobrol, bercerita, dan sejenisnya. Ketika seorang penutur dan mitra tutur sedang berkomunikasi akan terjadi proses saling memahami makna tuturan yang disampaikan oleh peserta tutur. Makna dalam tuturan hendaknya memperhatikan konteks yang melingkupi tuturan, kepada siapa penutur sedang bertutur, dan dalam situasi yang bagaimana tuturan tersebut berlangsung.

B. Pragmatik
Menurut George Yule pragmatik merupakan studi tentang makna yang disampaikan oleh penutur (atau penulis) dan ditafsirkan oleh pendengar (atau pembaca). Dia juga menyebutkan empat definisi pragmatik, yaitu:
1. Bidang yang mengkaji makna pembicara;
2. Bidang yang mengkaji makna menurut konteksnya;
3. Bidang yang melebihi kajian tentang makna yang diujarkan, mengkaji makna yang dikomunikasikan atau terkomunikasikan oleh pembicara; dan
4. Bidang yang mengkaji bentuk ekspresi menurut jarak sosial yang membatasi partisipan yang terlibat dalam percakapan tertentu. Pentingnya pragmatik dalam linguistik, yaitu pragmatik merupakan satu-satunya tataran dalam linguistik yang mengkaji bahasa dengan memperhitungkan juga penggunanya.
Sedangkan definisi pragmatik menurut Chaer adalah keterampilan menggunakan bahasa menurut partisipan, topik pembicaraan, situasi dan tempat berlangsungnya pembicaraan. Sementara Wijana menjelaskan bahwa pragmatik merupakan kajian tentang cara bagaimana para penutur dapat memahami tuturan sesuai dengan konteks situasi yang tepat.
Berdasarkan beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa pragmatik merupakan kajian yang menghubungkan antara ujaran dengan konteksnya. Dengan kata lain, pragmatik ialah menelaah makna eksternal. Apabila seorang penutur dan mitra tutur saling berkomunikasi, maka terjadilah proses saling memahami makna dalam ujaran yang disampaikan oleh peserta tutur. Untuk memahami makna tuturan, peserta tutur hendaknya memperhatikan konteks yang melingkupi ujaran tersebut. Jadi, dalam berkomunikasi hendaknya memperhatikan kepada siapa tuturan tersebut dialamatkan, dimaksudkan, dan dalam situasi yang seperti apa tuturan itu berlangsung. Ilmu yang mengkaji hubungan antara ujaran dengan konteks ujaran adalah pragmatik.

C. Tindak Tutur
Hubungan antara tindak tutur dan pragmatik pada dasarnya merupakan suatu kesatuan yang erat. Karena keeratan itu sebenarnya tindak tutur salah satu fenomena dalam masalah yang lebih luas, yang lebih dikenal dengan istilah pragmatik.
Menurut Tarigan teori tindak ujar adalah bagian dari pragmatik. Pragmatik mencakup bagaimana cara pemakai bahasa menerapkan pengetahuan dunia untuk menginterpretasikan ucapan-ucapan. Komunikasi harus ada pihak pembicara dan pendengar. Komunikasi yang dilakukan dengan konteks yang jelas maka akan terjalin komunikasi yang baik dan lancar. Komunikasi yang lancar mempunyai tujuan yang jelas.
Dalam kajian pragmatik, situasi tutur yang terdapat dalam suatu tuturan sangat diperhitungkan. Maksud tuturan yang sebenarnya hanya dapat diidentifikasi melalui situasi tutur yang mendukungnya. Sehubungan dengan situasi tutur ini Rohmadi mengemukakan sejumlah aspek yang harus dipertimbangkan dalam rangka studi pragmatik. Aspek-aspek tersebut secara ringkas dijelaskan sebagai berikut:
1. Penutur dan lawan tutur
Aspek-aspek yang terkait dengan penutur dan lawan tutur adalah usia, latar belakang sosial ekonomi, tingkat pendidikan, jenis kelamin, tingkat keakraban, dan lain-lain. Konsep ini juga mencakup penulis dan pembaca bila keduanya berkomunikasi melalui media tulis.
2. Konteks tuturan
Konteks tuturan adalah konteks dalam semua aspek fisik atau setting sosial yang relevan dalam suatu tuturan. Konteks pemakaian bahasa dapat dibedakan menjadi empat macam. Pertama, konteks fisik yang meliputi tempat terjadinya bahasa dalam komunikasi. Kedua, konteks epistemis atau latar belakang pengetahuan yang sama-sama diketahui oleh penutur dan mitra tutur. Ketiga, konteks linguistik yang terdiri atas kalimat-kalimat atau tuturan-tuturan yang mendahului dan mengikuti tuturan tertentu dalam peristiwa komunikasi. Konteks linguistik disebut pula dengan istilah koteks. Keempat, konteks sosial yaitu relasi sosial dan latar (setting) yang melengkapi hubungan antara penutur dan mitra tutur.
3. Tujuan tuturan
Tujuan tuturan adalah maksud yang ingin dicapai oleh penutur dengan melakukan tindakan bertutur. Bentuk-bentuk tuturan yang dilakukan oleh penutur dilatarbelakangi oleh maksud dan tujuan tuturan. Bentuk-bentuk tuturan yang bermacam-macam dapat digunakan untuk menyatakan satu maksud atau sebaliknya satu maksud dapat disampaikan dengan berbagai bentuk tuturan.
4. Tuturan sebagai bentuk tindakan dan aktivitas
Pragmatik berhubungan dengan tindak verbal (verbal act) yang terjadi dalam situasi tertentu. Berkaitan dengan hal ini, pragmatik menangani bahasa dalam tingkatannya yang lebih konkret di bandingkan dengan tata bahasa. Tuturan sebagai entitas, mempunyai peserta tutur, waktu, dan tempat pengutaraan yang jelas.
5. Tuturan sebagai produk tindak verbal
Sesuai dengan kriteria keempat, tuturan yang digunakan dalam rangka pragmatik merupakan bentuk dari tindak verbal. Berpijak dari hal tersebut, tuturan dapat dibedakan dari kalimat. Kalimat adalah entitas gramatika sebagai hasil kebahasaan yang diidentifikasikan lewat penggunaannya dalam situasi tertentu.
Peristiwa tutur dan tindak tutur merupakan dua gejala berbahasa yang terdapat pada satu proses, yakni proses komunikasi. Peristiwa tutur lebih menitikberatkan pada tujuan peristiwa (event), sedangkan tindak tutur lebih menitikberatkan pada makna atau arti tindak dalam suatu tuturan.
Menurut Chaer suatu peristiwa tutur harus memenuhi delapan komponen tutur yang diakronimkan menjadi SPEAKING. Kedelapan komponen tersebut yaitu sebagai berikut:
1. S: (setting and scene) berkenaan dengan waktu dan tempat tutur berlangsung, sedangkan scene mengacu pada situasi tempat dan waktu, atau situasi psikologis pembicaraan. Waktu, tempat, dan situasi tuturan yang berbeda dapat menyebabkan penggunaan variasi bahasa yang berbeda.
2. P: (participant) pihak-pihak yang terlibat dalam pertuturan, bias pembicara dan pendengar (peserta tutur), penyapa dan pesapa, atau pengirim dan penerima (pesan).
3. E: (ends) merujuk pada maksud dan tujuan pertuturan. Peristiwa tutur yang terjadi di ruang pengadilan bermaksud untuk menyelesaikan suatu kasus perkara, namun, para partisipan di dalam peristiwa tutur itu mempunyai tujuan yang berbeda. Jaksa ingin membuktikan kesalahan si terdakwa, pembela berusaha membuktikan bahwa si terdakwa tidak bersalah, sedangkan hakim berusaha memberi keputusan yang adil.
4. A: (act squence) mengacu pada bentuk ujaran dan isi ujaran. Bentuk ujaran ini berkenaan dengan kata-kata yang digunakan, bagaimana penggunaannya, dan hubungan antara apa yang digunakan dengan topic pembicaraan.
5. K: (key) mengacu pada nada, cara, dan semangat dimana suatu pesan disampaikan. Dengan senang hati, dengan serius, dengan singkat, dengan sombong, dengan mengejek, dan sebagainya. Hal ini dapat juga ditunjukkan dengan gerak tubuh dan isyarat.
6. I: ( instrumentalities) mengacu pada jalur bahasa yang digunakan, seperti jalur lisan, tulisan, melalui telegraf atau telepon. Instrumentalities ini juga mengacu pada kode ujaran yang digunakan, seperti bahasa, dialek, fragam, atau register.
7. N: (norm of interaction and interpretation) mengacu pada norma atau aturan dalam berinteraksi. Misalnya, yang berhubungan dengan cara berinterupsi, dan sebagainya. Juga mengacu pada norma penafsiran terhadap ujaran dari lawan bicara.
8. G: (genre) mengacu pada jenis bentuk penyampaian, seperti narasi, puisi, pepatah, doa, dan sebagainya.
Keseluruhan komponen-komponen tutur tersebut diatas itulah yang disebut dengan peristiwa tutur. Pada dasarnya, peristiwa tutur merupakan rangkaian dari sejumlah tindak tutur yang terorganisasikan untuk mencapai satu tujuan.

D. Prinsip Kerjasama
Berbahasa adalah aktivitas sosial. Seperti halnya aktivitas-aktivitas social yang lain, kegiatan berbahasa baru terwujud apabila manusia terlibat di dalamnya. Di dalam berbicara, penutur dan lawan tutur sama-sama menyadari bahwa ada kaidah-kaidah yang mengatur tindakannya, penggunaan bahasanya, dan interpretasi-interpretasinya terhadap tindakan dan ucapan lawan tuturnya. Setiap peserta tindak tutur bertanggung jawab terhadap tindakan dan penyimpangan terhadap kaidah kebahasaan di dalam interaksi lingual itu.
Tarigan mengemukakan bahwa di dalam suatu percakapan biasanya membutuhkan kerjasama antara penutur dan mitra tutur untuk mencapai suatu tujuan yang diinginkan. Prinsip yang mengatur kerjasama antar penutur dan mitra tutur dalam tindak tutur dinamakan prinsip kerjasama (cooperative principle). Dalam rangka melaksanakan prinsip kerjasama, setiap penutur harus mentaati empat maksim percakapan (conversational maxim), yaitu maksim kuantitas (maxim of quantity), maksim kualitas (maxim of quality), maksim relevansi (maxim of relevance), dan maksim pelaksanaan/ cara (maxim of manner). Aturan empat maksim yang dikemukakan oleh sebagai berikut:
1. Maksim kuantitas (maxim of quantity): berilah informasi yang tepat, yakni;
a. Buatlah sumbangan/ informasi anda seinformatif mungkin.
b. Jangan membuat sumbangan/ informasi anda berlebihan dari apa yang dibutuhkan
Contoh:
1) A: siapa namamu?
B: Ani,
A: Rumahmu di mana?
B: Klaten, tepatnya di Pedan,
A: Sudah bekerja?
B: Belum, masih mencari-cari

2) A: Siapa namamu?
B: Ani, rumah saya di Klaten, tepatnya di Pedan. Saya belum bekerja, sekarang masih mencari pekerjaan. Saya anak bungsu dari lima bersaudara. Saya pernah kuliah di UGM, akan tetapi karena tidak adanya biaya saya berhenti kuliah.

Tuturan B pada contoh (1) di atas menunjukkan tuturan yang bersifat
kooperatif, yaitu memberikan kontribusi yang secara kuantitas memadai pada setiap tahapan komunikasi. Sedangkan Peserta tutur B dalam contoh (2) di atas menunjukkan tuturan yang tidak kooperatif dikarenakan memberikan kontribusi yang berlebihan dan belum dibutuhkan.
2. Maksim kualitas (maxim of quality): cobalah membuat kontribusi anda merupakan sesuatu yang benar, seperti;
a. Jangan katakan apa yang anda yakini salah.
b. Jangan katakan apa yang anda tidak tahu persis.
Contoh:
3) A: Ini sate ayam atau kambing?
B: Sate kambing.
4) A: Coba kamu Andi, apa ibu kota Bali?
B: Surabaya, Pak Guru.
A: Bagus, kalau begitu, Ibu kota Jawa Timur Denpasar, ya?

Contoh (3) di atas menjelaskan bahwa tuturan B menunjukkan tuturan
yang mematuhi maksim kualitas, karena B menyampaikan sesuatu yang nyata dan sesuai dengan fakta yang didukung dengan bukti-bukti yang jelas. Kemudian pada contoh (4) di atas, tampak seorang guru A (guru) memberikan kontribusi yang melanggar maksim kualitas. Guru mengatakan ibu kota Jawa Timur Denpasar bukannya Surabaya. Jawaban yang tidak mengindahkan maksim kualitas ini diutarakan sebagai reaksi terhadap jawaban B (Andi) yang salah.
3. Maksim relevansi (maxim of relevance): jagalah kerelevansian.
Contoh:
5) A: Ani, ada telepon untuk kamu.
B: Saya lagi di belakang, Bu.

6) A: Pak ada tabrakan motor lawan truk di pertigaan depan.
B: Yang menang apa hadiahnya?

Pada contoh di atas, percakapan antara A dan B sepintas tidaklah berhubungan, tetapi bila dicermati, hubungan implikasionalnya dapat diterangkan. Jawaban B pada contoh tuturan (5) mengimplikasikan bahwa saat itu ia tidak dapat menerima telepon itu secara langsung. Ia secara tidak langsung menyuruh/meminta tolong kepada ibunya untuk menerima telepon tersebut.
Berbeda dengan tuturan A dan B pada percakapan (5) percakapan antara ayah dan anaknya pada tuturan (6) di atas terlihat melanggar maksim relevansi. Bila sang ayah sebagai peserta percakapan yang kooperatif, maka tidak selayaknyalah ia menyamakan peristiwa kecelakaan yang dilihat anaknya itu dengan sebuah pertandingan atau kejuaraan.
4. Maksim cara/pelaksanaan (maxim of manner): tajamkanlah pikiran, yakni;
a. Hindarilah ketidakjelasan ekspresi.
b. Hindarilah ketaksaan (ambiguitas)
c. Berilah informasi/ kontribusi singkat (hindari informai yang bertele-tele).
d. Tertib dan rapilah selalu.
Orang yang bertutur dengan tidak mempertimbangkan hal- hal di atas dapat dikatakan melanggar prinsip kerja sama karena tidak mematuhi maksim pelaksanaan.
Contoh:
7) A: Ayo, cepat dibuka!
B: Sebentar dulu, masih dingin

Wacana di atas memiliki kadar kejelasan yang rendah, karena berkadar kejelasan rendah dengan sendirinya kadar kekaburannya tinggi. Tuturan A sama sekali tidak memberikan kejelasan tentang apa yang sebenarnya diminta oleh si mitra tutur B. Dapat dikatakan demikian karena tuturan yang disampaikan B mengandung kadar ketaksaan yang cukup tinggi. Tuturan-tuturan demikian dapat dikatakan melanggar prinsip kerja sama karena tidak mematuhi maksim pelaksanaan.

E. Tujuan Tuturan
Rohmadi mengemukakan bahwa tujuan tuturan adalah maksud yang ingin dicapai oleh penutur dengan melakukan tindakan bertutur. Bentuk-bentuk tuturan yang dilakukan oleh penutur dilatarbelakangi oleh maksud dan tujuan tuturan. Bentuk-bentuk tuturan yang bermacam-macam dapat digunakan untuk menyatakan satu maksud atau sebaliknya satu maksud dapat disampaikan dengan berbagai bentuk tuturan. Dalam bertutur, manusia pastilah mempunyai tujuan. Tujuan yang dimaksud oleh penutur berupa pemberian informasi kepada lawan tutur.
Darjowidjojo mengemukakan bahwa tujuan tuturan terkait dengan unsur-unsur sebagai berikut:
1. Tindak Representatif
Menurut Rani tindak representatif atau tindak tutur asertif adalah tindak tutur menyampaikan proposisi yang benar. Hal itu berarti tindak tutur yang disampaikan oleh penutur lazimnya menghendaki respons dari mitra tutur. Yang termasuk tindak representatif antara lain tindak memberi informasi, memberi izin, keluhan, permintaan ketegasan maksud tuturan, dan sebagainya. Di bawah ini adalah contoh tuturan yang menunjukkan tindak representatif:
8) A: Buku itu bukan milik saya
B: Lalu milik siapa?
A: Saya tidak tahu.

Tuturan di atas merupakan contoh tuturan tindak representatif yang menunjukkan sebuah penegasan dan menjelaskan. Tuturan penutur (A) menjelaskan serta menegaskan kepada mitra tutur (B) bahwa buku tersebut bukan miliknya, (A) pun menegaskan bahwa ia tidak tahu siapa sebenarnya pemilik buku tersebut.
2. Tindak Direktif
Yang dimaksud dengan tindak direktif yaitu tindak yang di dalam tuturannya mengandung maksud supaya orang lain melakukan suatu tindakan tertentu. Tindak tutur direktif mencakup tindak tutur meminta informasi, tindak tutur meminta konfirmasi, tindak tutur menyampaikan saran yang memiliki fungsi turunan tindak tutur menyuruh, menghimbau, dan menasihati, dan tindak tutur menguji. Berikut ini adalah contoh tuturan tindak direktif.
9) A: Tolong belikan garam di warung Pak Aman!
B: Sekarang Bu?
A: Iya.

Tuturan di atas menunjukkan sebuah tuturan tindak direktif. Tuturan disampaikan oleh seorang Ibu yang hendak memasak kepada anaknya. Tuturan tersebut termasuk dalam tindak direktif karena penutur (A) menginginkan mitra tutur (B) untuk melakukan sesuatu (tindakan) seperti yang dimaksud dalam tuturan tersebut. Yang menjadi indikator dalam tuturan tindak direktif adalah adanya suatu tindakan yang harus dilakukan oleh mitra tutur setelah mendengar sebuah tuturan.
3. Tindak Ekspresif
Tindak ujaran ekspresif dipakai oleh penutur bila ingin menyatakan keadaan psikologisnya mengenai sesuatu, misalnya menyatakan, terima kasih, belansungkawa, menyampaikan ucapan selamat, dan juga mengumpat
10) A: Mengapa kamu belum menyerahkan PR?
B: Maaf Pak, PR itu belum selesai saya kerjakan.
A: Kapan bisa diserahkan?
B: Besok, Pak.

Percakapan di atas menunjukkan tindak ekspresif yang menyatakan permintaan maaf. Permintaan maaf itu disampaikan oleh seorang murid (B) kepada guru (A) karena (B) belum selesai ia kerjakan, (A) melakukan/mengekspresikan tindak ekspresif meminta maaf dengan menggunakan kata maaf.

F. Kesimpulan
Sebagai kata akhir dari paparan ini, penulis menyimpulkan bahwa dalam pragmatik umum senntiasa mengupas hal-hal yang bersifat lokal dan situasional serta dapat diatur dalam sosiopragmatik (sociopragmatics) dan pragmalinguistik (pragmalinguistics), karena memang kedua bidang ini merupakan cabang dari pragmatik umum yang memiliki hubungan yang sinergi. Sosio-pragmatik memiliki kesamaan dengan istilah ketepatan isi (appropriateness in meaning), yaitu sejauh mana fungsi komunikasi tertentu, sikap dan gagasan dianggap tepat sesuai dengan situasi yang berlaku. Hal ini berhubungan erat dengan aspek sosiologi. Bahkan, dalam berkomunikasi seorang penutur dituntuk untuk menguasai kajian lintas budaya (cross culture), hal ini dilakukan dalam rangka membangun prinsip-prinsip kerjasama dan sopan santun dalam proses komunikasi, sehingga tujuan komunikasi dapat dicapai secara efektif dan menghindari kesalahfahaman anatar penutur dan lawan tutur

DAFTAR PUSTAKA

Chaer, Abdul dan Leonie Agustina. 2004 Sosiolinguistik Perkenalan Awal. Jakarta: Rineke Cipta.
Chaer, Abdul. 2010. Kesantunan Berbahasa. Jakarta: Rineka Cipta.
Dardjowidjojo, Soejono. 2003. Psikolinguistik: Pemahaman Bahasa Manusia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Rani, Abdul dkk. 2006. Analisis Wacana: Sebuah Kajian Bahasa dalam Pemakaian. Malang: Banyumedia Publishing.
Rohmadi, Muhammad 2004. Pragmatik: Teori dan Analisis.Yogyakarta: Lingkar Media.
Tarigan, Henry Guntur. 1986. Pengajaran Pragmatik.Bandung: Angkasa.
Wijana, I Dewa Putu. 1996. Dasar-dasar Pragmatik. Yogyakarta: Andi.
Yule, George. 1996. Pragmatik (Terjemahan Rombe Mustajab). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

ANALISIS KONTEKSTUAL NON-LINGUAL
(PRAGMATIK/SOSIOLINGUISTIK)-TINDAK UJARAN

Dosen Pengampu:
Prof. Dr. Achmad Bachmid. Lc
Dr. Moch. Syarif Hidayatullah, M.Hum
Dr. Zubair, M.Ag

Disusun oleh:
Muamar Khadafi

PROGRAM STUDI MAGISTER BAHASA DAN SASTRA ARAB
FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here