Sastra dan fungsinya

A. Pendahuluan
Penyebaran sastra Arab pada dasarnya sangatlah berkaitan dengan penyebaran Islam di Dunia. Hal iini karena bahasa Arab yang merupakan bahasa umat islam menyebar bersama dengan menyebarnya umat islam. Tidak berbeda dengan yang lainya Nusantarapun terpengaruh oleh sastra Arab pada masa peralihan . Bahkan penyebaranya sangat masif dikarenakan masifnya penyebaran Islam ketika itu.
Nusantara, Masyarakat Nusantara kaya akan tradisi lama yang telah mereka warisi dari nenek moyang mereka. Sampai sekarang masayarakat Nusantara masih dapat menikmati berbagai khazanah budaya yang tidak bernilai harganya. Salah satu peninggalan nenek moyang tersebut adalah dalam bentuk karya sastra, baik karya sastra yang hidup di kalangan masyarakat umum maupun karya sastra yang berkembang di sana.
Karya sastra Nusantara yang sangat banyak perlu dikaji secara mendalam untuk melengkapi khazanah kesusastraan Nusantara masa kini.
Seperti disinggung diatas bahwa Nusantara terpengaruh oleh sastra Arab. Oleh karena itu alangkah baiknya membahas sedikit tentang sastra arab, perkembangannya dan sastra Arab di Nusantara. Selain itu sastra Arab yang dikenal dengan adab merupakan sastra yang kaya akan nilai-nilai yang ada di dalam kehidupan bermasyarakat. Ada madh, ritsa,i’tidzar, hija’ dan lainya. Jenis-jenis ini sering kita sentuh di dalam kehidupan bermasyarakat bukan dalam aksara namun dalam realita yang kemudian diaksarakan oleh para penyair.

B. SASTRA ARAB PADA ZAMAN PERMULAAN ISLAM
Penerimaan terhadap agama Islam di kalangan bangsa Arab, menyebabkan berkurangnya produktivitas bangsa Arab dalam berkarya sastra hal ini disebabkan karena mereka faham betul keluhuran bahasa yang ada di dalam AlQuran dan keindahannya hal ini dibuktikan dengan suatu riwayat yang menyebutkan bahwa alWalid bi Mughiroh seorang musuh besar Nabi Muhammad kala itu mendengarkan surat Toha yang dibacakan oleh Rasulullah kepadanya kemudian ia berkata” demi tuhan aku telah mendengar dari -Nabi- Muhammad kalimat yang tidak mungkin bersumber darimanusia ataupun jin” hal ini membuktikan betapa tinggi bahasa alquran yang merupakan mukjizat Nabi Muhammad .
Namun disamping itu alquran juga memberikan corak baru dalam produksi sastra bangsa arab kala itu, lebih ‘iffah santun bercorak akhlaqi dan lebih berbau agama. Jadi islam adalah agama bukan hanya aqidah semata namun membawa nilai-nilai luhur dalam hidup. Pada awal abad ke-7 M, setelah Rasulullah wafat dan kepemimpinannya diganti oleh khalifah yang empat, satu-satunya bentuk kegiatan penulisan yang berkembang ialah penyusunan dan penulisan mushaf al-Qur’an. Kendati demikian sebenarnya pada masa ini telah muncul beberapa penyair yang kreatif. Di antaranya ialah penyair-penyair yang disebut golongan mukhdram, artinya penyair yang hidup dalam dua zaman, zaman Jahiliyah dan zaman Islam.
Di antara mereka telah terdapat penyair yang dipengaruhi ajaran dan sejarah perkembangan Islam. Syair-syair tersebut mayoritas merupakan rekaman sejarah awal Islam, khususnya perjuangan Nabi Muhammad dan Sahabat. Di antara mereka terdapat orang yang dekat dengan Rasulullah seperti Hasan bin Tsabit, Ka`aab bin Zubair, Ka`ab bin Malik dan Labid bin Rabi`ah. Hasan bin Tsabit misalnya sering mendampingi Nabi dan tampil dalam perdebatan dengan para penyair yang gemar merendahkan dan mengejek Islam. Bersama-sama Labid bin Rabi`ah, Hasan bin Tsabit dianggap sebagai perintis sajak-sajak pujian kepada Nabi Muhammad.
Perubahan besar terjadi setelah munculnya penulisan mushaf al-Qur’an, yaitu pada masa khalifah Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib (610-661 M). Pengaruh langsung tampak pada berkembangnya kajian terhadap teks kitab suci, terutama dari segi bahasa dan sastra. Semenjak itu orang Arab juga mulai giat mengumpulkan puisi lama dan cerita lisan warisan nenekmoyang mereka. Gaya bahasa dan puitika al-Qur’an kemudian semakin menarik perhatian penyair yang pada gilirannya kelak mempengaruhi corak penulisan dan pola bercerita. Penamaan adab yang secara leksikal bermakna pendidikan kemudian berubah-ubah (mengalami perubahan makna) menjadi sastra Arab, puisi, orasi dan sejarah Arab.
Pada masa dinasti umayyah sastra mulai sedikit lebih berkembang kembali dengan namun masih dalam koridor ‘Iffah dan ghazal ghazal yang adapun masih terbilang ‘iffah tidak Fuhsy. Di masa ini ada beberapa penyair terkenal, diantaranya adalah al-Akhtol, al-Farozdaq, Jarir. Ketiga penyair ini terkenal dengan cirikhasnya masing masing Jarir terkenal dengan Hija’nya akhtol terkenal dengan loyalitasnya kepada diansti Umayyah dan Farozdaq terkenal dengan loyaliasnya kepada Ahlul Bait.
Masih banyak lagi penyair-penyair lain seperti Umac bin Abi Robi’ah, Abu Sohr al-Hudzali, al-Walid bin ‘uqbah.
Adapun pada masa Abbasiyah Syair mulai berkembang lebih pesat, kepedulian penguasa sangat mendobrak produktifitas syair di zaman ini.
Berikut adalah tabel periodisasi sastra Arab:
Periode Genre Ideologi Sastrawan
Klasik :
Jahiliyah
(122SH -1H /500-622M)
Puisi Imaginatif Geneologi Arab – Fanatisme
Mempertahankan Orisinalitas dan pokok-pokok struktur arab klasik
Ilmu Balaghah sebagai kritik sastra Formalisme.
Khalifah Islam – Fanatisme agama
Dinasti Muawiyah

Islam sampai Daulah Umayyah
(1-132H /622-750M) Prosa Rasional
Khitabah
Pertengahan :
Daulah Abbasiyyah (Era Kejayaan)
132-656H (750-1258M)
Munculnya Genre baru : Novel, Cerita, dll Ideologi politik Arab (damaskus)-ke Persi (bagdad)
Pengalihan bahasa
Daulah Turkiyah (Era Kemunduran)
(656-1220H /1258-1822M) –
Modern :
Pertengahan Abad 19
(1213-1312H /1798-1900M) Drama
Prosa Klasik dan Modern
Puisi Neoklasik, (al-Muhafidzun)
Gerakan Pembaharuan Barat (Madrasah Diwan)
Madrasah Al-Muhajir
Madrasah Al-Mujaddidun
Madrasah Al-Mughaaliinu
C. Kesusastraan Islam
Perkembangan agama Islam di nusantara pada hakikatnya bertalian dengan perkembangan Islam di dunia. Pada tahun 1196 M Gujarat memeluk agama Islam. Hal ini mengindikasikan bahwa para pedagang Gujarat yang datang ke Nusantara tidak murni beragama Hindu melaimkan juga sebagian dari mereka beragama Islam. Jatuhnya Baghdad ke tangan Mongol pada tahun 1258 M menyebabkan berhentinya perdagangan darat kala itu sehingga menyebabkna orang-orang Islam kala itu berlayar ke negeri timur jauh.
Faktor inilah yang menyebabkan semakin masifnya penyebaran Islam di Nusantara pada abad ke-13 M. Sejarah perdagangan di nusantara menyimpulkan bahwa Malaka yang pada awalnya sebuah kampung nelayan kecil adalah daerah penting dalam perdagangan laut. Hal ini karena letaknya yang strategis dan merupakan tempat persinggahan kapal-kapal yang berulang-alik dari benua India ke Tiongkok hingga akhirnya menjadi daerah yang besar dan ramai oleh para pedagang.
Malaka ramai oleh pedagang dari berbagai daerah, banyak dari mereka beragama islam, bahkan Malaka menjadi pusat kajian Isalm.
Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis menjadi titik baru bagi dakwah islam di Nusantara. karena para pedagang yang dulunya di Malaka mulai menyebar ke berbagai penjuru. Menyebarnya merekapun berarti menyebar pula sastra dan bahasa Arab.
Sastra Islam, maksud dari sastra Islam seperti yang dikemukakan oelh Liaw Yock Fang adalah sastra tentang orang Islam dan segala amal dan kesalehannya . Jika dikaitkan dengan sastra dalam bahasa Arab (Adab) maka akan kita temukan bahwa antara sastra adab dan sastra Islam adalah satu.
Sebagai karya sastra yang sebagian besar ditulis setelah datangnya agama Islam, karya sastra Nusantara banyak mengandung unsur-unsur Islam yang berkembang saat itu. Bahkan, dalam karya sastra sejarah Nusantara ini akan dipahami bagaimana warna keislaman yang terdapat dalam suatu masyarakat pendukung karya itu.
Sejak awal apa yang disebut adab dikaitkan dengan cara berbuat atau bertindak sesuai aturan sopan santun dan budi pekerti yang dianggap selaras dengan nilai-nilai Islam. Pada mulanya perkataan tersebut diartikan sebagai disiplin jiwa atau pikiran, sifat-sifat terpuji dan tanda seseorang yang menggunakan akal budi dalam setiap tindakannya. Dalam filologi lebih jauh ia diartikan sebagai karya sastra yang mengandung hikmah atau kebijakan falsafah. Dalam lingkup pengertian ini jelas perkataan adab terkait dengan jenjang pendidikan atau tingkat keterpelajaran seseorang .
Dalam bukunya sukron Kamil menjabarkan bahwa secara leksikal kata adab yang merupakan bentuk tunggal dari Adâb selain berarti juga berarti etika dan sopan santun. Sedangkan dalam bahasa Indonesia kata adab tidak diserap sebagai sastra melainkan sopan santunn, budi bahasa dan kebudayaan, kemajuan atau kecerdasan. Sedangkan Abdul Hadi mengatakan bahwa Adab mulai dikaitkan dengan kreativitas penulisan sastra pada abad ke-8 M. Dalam abad ke-9 M ia dikaitkan dengan disiplin lain baik ilmu-ilmu agama maupun ilmu pengetahuan umum. Penyair Arab terkemuka Mutannabi (915-965 M) mengaitkannya dengan orang yang piawai menulis syair. Pada abad ke-11 M Abu al-`Ala al-Ma`arri (973-1057 M) dalam bukunya Risalat al-Gufran menghubungkan kata adab dengan kemampuan rasional dan intelektual seseorang, termasuk dalam melahirkan karya sastra atau puisi. Namun dalam perkembangan selanjutnya kata adab sering digunakan untuk menyebut karya-karya bercorak didaktis, termasuk karya yang membahas masalah sosial, politik, hukum dan pemerintahan atau ketatanegaraan.
Pada abad ke-10 dan 11 M, ketika dunia intelektual Islam didominasi pemikiran kaum rasionalis (mu`tazila) karya-karya yang digolongan sastra adab biasanya karya yang lebih bercorak intelektual dibanding imaginatif. Karena itu kitab-kitab yang membicarakan masalah psikologi dan etika sepertiKitab al-Bayan karangan al-Jahiz (w. ) dimasukkan ke dalam kelompok sastra adab terkemuka.
D. Sastra Islam di Nusantara
Kata Nusantara menurut kamus besar bahasa Indonesia edisi V adalah nama untuk seluruh wilayah kepulauan Indonesia. Kata Nusantara ini adalah gabungan dari dua kata sansekerta yaitu Nusa yang berarti “pulau”dan Antara yang berarti “Luar” kata ini ddapat dari sumpah palapa patih Gajah Mada. Nusantara lama meliputi Indonesia dan Malaysia. Pada Abad ke-14-15 M, Sastra Islam Nusantara mulai sering muncul seiring semakin luasnya penyebaran agama Islam di Kepulauan Melayu. Bahasa Melayu yang menjadi lingua franca di Kepulauan Nusantara digunakan sebagai media dakwah dan bahasa pengantar di lembaga-lembaga pendidikan Islam. Sehingga pada abad ke-16 M, bahasa Melayu semakin mendapatkan posisi yang penting dan lebih tinggi daripada bahasa-bahasa etnik Nusantara lainnya. Kondisi ini berimplikasi pada semakin meningkatnya posisi kesusastraan Melayu yang mencapai puncak perkembangannya pada akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17 M dan bermunculannya tokoh seperti Hamzah Fansuri, Syamsuddin as-Sumatrani, Nuruddin ar-Raniri, dan lain-lain. Bahkan bahasa melayu yang dulunya hanya sekedar bahasa pergaulan berkembang pesat menjadi bahasa peradaban Islam.

Ada beberapa ciri khusus yang menonjol dari sastra Islam melayu
1. Sastra tertulis dalam bahasa melalyu dengan nilai-nilai Islam di dalamnya, dan banyak menggunakan kata serapan bahasa Arab.
2. Sebagian besar sastra yang tertulis adalah saduran atau terjemahan dari bahasa Arab atau Parsi. Penerjemahan dan penyaduran ini dilakukan oleh dua kelompok besar. Yang pertama adalah orang-orang |Nusantara yang belajar di tanah Arab yang sebagian besar menghasilkan kitab-kitab keagamaan . Sedang kelompok yang kedua adalah pedagang-pedagang dari India selatan yang tersebar di pelabuhan-pelabuhan yang banyak menghasilkan hikayat-huikayat yang berupa hiburan
3. Sebagian besar tidak diketahui pengarang atau penulisnya.
Didalam bukunya, Liaw Yock Fang menukil bahwa R.Roolvink dalam mengkaji sastra yang dipengaruhi oleh Islam dapat diidentifikasi dengan beberapa kategori berikut:
A. Cerita Al-Quran
Cerita Al-Qur’an adalah cerita yang mengisahkan cerita nabi-nabi atau tokoh-tokoh yang namanya disebut dalam Al-qur’an. Al-Kisai adalah seorang penulis cerita Al-Qur’an yang paling terkenal dengan ceritanya berjudul ‘Qisah Al-Anbiya’. Karakteristik dari cerita ini adalah bersifat didaktis yang kaya akan muatan nilai dan suri Tauladan, selain itu juga kuat akan muatan nilai keagamaan yang menjunjung ajaran tauhid. Yang menarik dari sebagian karya-karya tersebut adalah karena diterjemahkan tidak hanya ke dalam bahasa melayu saja melainkan juga ke dalam bahasa Jawa, Sunda, Aceh, Parsi, dan Hindustan seperti yang dapat kita jumpai dari karya berjudul Hikayah Raja Junjumah atau Tengkorang Elang.

B. Cerita Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihiu Wasallam
terdiri dari tiga jenis yaitu, pertama mengisahkan tentang riwayat nabi dari kelahiran sampai wafatnya. Dalam bahasa melayu jenis cerita pertama ini terdapat dua buah yaitu, Hikayah Muhammad Hanafiah dan Hikayah nabi. Walaupun cerita ini berasal dari sirah Nabi, namun karena karya sastra sangat mengedepankan nilai bahasa dan pemaknaan, maka ceritanya sudah banyak disusupi dengan cerita-cerita khayalan yang bertujuan untuk mengagungkan Nabi. Jenis kedua, meceritakan mengenai mukjizad nabi, cerita ini juga bersumber dari sirah dan hadis,beberapa contohnya yang terkenal di antaranya Hikayah Bulan Berbelah dan Hikayah Nabi Bercukur. Dan yang terakhir adalah karya berjenis Maghzi, sebagai jenis sastra yang betutur tentang peperangan pada masa Nabi dalam usaha meneggakan Dinullah (Agama Allah).
C. Cerita pahlawan Islam
D. Sastra kitab

Berikut tabel periodesasi sastra Islam di Indonesia
Periodesasi Sastra Islam Indonesia
No Periode Nama Pengarang Tahun Karya Karakteristik
1 Abad Awal
14-16 – Abad 14-15 (Berakhir pada abad ke-16) Alegori Sufi: Syahi Mardan (Angling Darma) berdasarkan cerita dari India
Dewa ruci yang menggunakan tokoh bima dalam pewayangan (namun diganti dengan cerita-cerita teladan nabi) -Biasa disebut juga sastra Melayu, karena kebanyakan berkembang di daerah Sumatra yang berbahasa Melayu
-Awalnya kebanyakan berupa saduran dari karya sastra timur tengah terutama Persia
-Banyak nuansa sufisme/tarekat
-Digunakan sebagai medium dakwah yang terdiri dari empat aspek, yaitu :
Tasawuf :
-Eksalogis (rukun Islam)
-Memasukkan unsur-unsur Islam dalam cerita lokal
-Pengaruh Persia yang kentara
Hamzah Fansuri – –
Syekh Syamsuddin bin Abdullah Al Matsani 1630 M –
Nurrudin Arraniri 1658 M –
Saduran dari Persia
(tidak tersedia) Telah ada sejak abad 15-16 M dan Salinannya lagi pada Abad 17 Hikayah si miskin dan si kaya, hikayah marakarma, hikayah nahkoda muda, hikayah siti Sara, hikayah Ahmad Muhammad, hikayah berma Syahdan, Hikayah Indra putera, hiakyah Syar’I Mardu
Transisi – 18-19 Kisah Nabi dan Wali
Hikayah pahlawan islam Seperti: Iskandar Zulkarnaen, Amir Hamzah,
Akhir masa klassik dan sastra Islam modern

Daftar Pustaka
A.Teeuw, Sejarah Kesusastraan Melayu-Klasik
Liaw Yock Fang, Sejarah kesusastraan Melayu Klasik (Jakarta: Yayasan Pustaka OborIndonesia, 2011) hal. 179
Maharsi Resi, Islam Melayu VS Jawa Islam: Menelusuri Jejak Karya Sastra Sejarah Nusantara (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), hal 1.
Kamil,Sukron, Teori Kritik Sastra Arab: Klasik dan Modern (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2009), cet ke-2.
Syauqi Dhoif, Tarikh al adab al ‘Arobi volume 2 : al’Asru al-Islami (darul ma’arif) cet 10

http://pustaka-juned.blogspot.com/2012/03/lintasan-sejarah-islam-11.htm

Please rate this

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.