SASTRA ISLAM NUSANTARA - PROSA MELAYU ZAMAN KLASIK

1. HIKAYAT PETUALANGAN AJAIB

A. Hikayat Indra Putra

Hikayat Indraputra merupakan salah satu contoh gemilang tentang sintesis sastra, yang khas untuk periode klasik dalam sejarah melayu. Hal ini terlihat pada serangkaian motif-motif pengkhikayatan nya, baik yang berasal dari karya-karya India jawa maupun karya-karya Arab-Parsi.

Hikayat Indraputra bukan saja mementaskan teori keindahan islam yang utuh tetapi dengan susunannya, hikayat itu memperlihatkan prinsip-prinsip dasar estetika islam. Yaitu gayanya yang beraneka hiasan, dan pengutamaan komposisi yang terdiri dari rangkaian episode-episode berbanding dengan gerakan alur cerita secara logis.

Hikayat Indraputra dan hikayat-hikayat petualangan ajaib lainnya tidak hanaya menawan para penikmat sastra dengan keindahannya, dan menghibur hati seseorang yang menderita karena duka nestapa cinta atau hidup sehari-hari kadang-kadang cerita ini membawa tugas yang lebih serius, yang tidak selalu dipahami para umat islam yang ketat. Tuduhan mereka terhadap hikayat yang demikian sama seperti terhadap karya-karya Hamzah Fansuri dan para penyair sekelompoknya. Tangggapan negative itu sebenarnya timbul dari keengganan mereka menyelami pengertia-pengertian simbolik, yang dikandung oleh beberapau saja (tentu saja tidak semuanya semacam itu) hikayat semacam itu. Karena motif perciantan dan petualangan ajaib didalamnya, terkadang hanyalah lapisan kenyataan paling atas dari seluruh makna hikayat.

B. Hikyat Isma Yatim

Hindu-Muslim ini, menggabungkan cirri-ciri khas baik hikayat strukturnya bersifat linear maupun hikayat berbingkai.

Isi aktual Hikayar Maharaja Ali ditentukan kombinasi dua temanya yang pokok. Yang pertama tema Hikayat Isma Yatim berpusat pada adab, dapat diketahui dari uraian yang diberikan oleh pengarang didalam kata pengantarnya. Menurut uraian itu, maksud hikayat ini adalah : untuk member pelajaran tata susila kepada pembaca, menghiasi percakapannya dengan para raja denag aforisme-aforisme yang indah, memungkinkan pembaca untuk menjawab masala-masalah musykil dengan cara menunjuk pada preseden-preseden yang cocok dari hikayat-hikayat ini, serta sementara itupu dapat menghibur hati yang sedang dirundung lara. Semua motif pokok pada genre hikyat petualangan ajaib terdapat di dalam Hikayat Isma Yatim.

C. Hikayat Maha Raja Ali

Di dalam kelompok petualangan hikayat petualangan ajaib yang sama sekali bernada islam, termasuk antara lain Hikayar Maharaja Ali.karangan yang hampir kehilangan unsure-unsur sintesis tentang raja yang begitu mencintai keluarganya sehingga melupakan kewajibannya yang asasi, yaitu pemerintahan yang adil. Yang kedua tema tentang kesetiaan wanita. Justru jalin-jalinannya dua tema ini, serta pertentangan internalnya yang terpendam dalam tema yang pertama( yaitu cinta keluarga, termasuk saling cinta suami-istri, yang dinilai positif, vs. pelanggaran kewajiban karena cinta ini, yang dinilai negatif), melahirkan tekstur Hikayar Maharaja Ali, yang berasaskan konflik etika yang tajam dan sengit antara kewajiban dan perasaan.

Hikayar Maharaja Ali adalah sebuah karangan yang menandai Islamisasi secara defenitif atas genre hikayat petualangan ajaib, dan yag menggunakan pola nstruktur genre yang tua untuk mengungkapkan nilai-nilai asasi etika Islam, baik untuk kenegaraan maupun perseorangan. Nilai-nilai ini dinyatakan oleh pengarang dengan kemahiran sastra yang menakjubkan.

2. HIKAYAT TERBINGKAI

A. Kikayat Bayan Budiman

Menurut susunannya, karangan ini sangat berbeda baik dari hikayat-hikayat petualangan ajaib biasa, maupun dari Hikayat Isma Yatim yang juga syarat dengan unsur-unsur didaktis itu. Perbedaannya yang terpenting ialah, cerita-cerita di dalam hikayat ini satu sam lain tidak mempunyai urutan hubungan, dan tidak ada benang merah pengambaran seorang tokoh. Tetapi cerita-cerita dimasukkan atau disisipkan ke dalam sebuah cerita bingkai, yang menjadikan hikayat semacam ini (hikayat bingkai) menjadi suatu bangunan yang satu dan utuh.

Hikayat Bayan Budiman merupakan salah satu contoh berbingkai yang paling tua didalam sejarah sastra Melayu. Menilik naskah nya yang disimpan di perpustakaan bodleyan di oxford, dan telah disalin sekitar tahun 1600, hikayat ini pasti sudah dikarang tidak lebih lambat dari pertengahan abad ke-16 . juga patut diperhatikan, bahwa baik menurut daftar cerita-cerita sisipannya,maupun menurut isi cerita-cerita tersebut, Hikayat Bayan Budiman dalam versi Melayu sangat berbeda dengan versi-versi parsi yang mendahuluinya dan sudah dikenal pada masa sekarang.

Atas dasar deskripsi tentang keadaaan sosial yang menjadi latar belakang kejadian-kejadian dalam cerita-cerita Hikayat Bayan Budiman, serta juga kekhususan-kekhususan konsepsi etikanya, A. Jhons Mengajukan dugan, bahwa hikayat ini tidak lahir di dalam istana tetapi berasal dari tengah-tengah kaum saudagar. Menurutnya versi tertulis Hikayat Bayan Budiman tak lain tak bukan hasul pencatatan dari sebuah penuturan lisan yang ada pada waktu itu. Tetapi dugaan ini yang menarik untuk sementara belum mendapat dukungan pembuktian.

B. Hikayat Bakhtiar

Kemiripan versi panjang Hikayat Bakhtiar dengan prototipe Parsi tidak lebih banyak dari yang versi pendek. Versi panjang hikayat ini dimulai denga penyerangan terhadap raja Turkestan yang adil oleh raja lalim dari Negara tetangga. Sessudah itu dikisahkan tentang bersama kekalahan raja adil itu., pengembaraannya di tengah hutan bersama permai suri, dan kelahiran Bakhtiar di tengah hutan. Episod-episode nya adegan pin terakhir itu ditulis dalam gaya seperti adegan rimba raya dalam cerita panji. Selanjutnya adegan pindah ke kerajaan Turkistan. Wabah penyakit yang melanda negeri telah menewaskan sekalian lascar raja rbuka lalim, sehingga jalan terbuka bagi raja adil kembali ke takhtanya. Adapun Bakhtiar yang tinggal di tengan hutan ditenui oleh pengembala yang bernama rasda, dan diangkat anak. Setelah anak angkatnya dewasa, rasdas membawanya ke istana. Raja, yang sudah tidak mengenal lagi putranya itu, mengangkat punggawa kerajaan.

Dengan demikian versi panjang Hikayat Bakhtiar pada hakikatnya bukan sekedar hikayat padat yang tersusun rapi, seperti versi singkatnya. Versi panjang ini lebih mirip dengan cermin didaktis tebal yang penuh dengan nasehat-nasehat bagi para raja. Di dalam cermin ini lingkaran maslah-masalah yang luas, terutama masalah-maslah pemerintah yang tidak adiloleh kaenanya peranan cerita bingkai di dalam Hikayat Bakhtiar versi panjang ini dikurang-kurangkan secara radikal, sehingga ia menjadi semacam sarana untuk merangkum bahan-bahan yang beraneka ragam didalam sebuah komposisi yang longgar.

3. CERMIN DIDAKTIS’ BAGI RAJA (Hidayat)

A. Taj as-Salatin (Mahkota Raja-Raja) Karangan Bhukari al-Jauhari (atau al- Johori)

Taj as-Salatin menjadi bukti tentang kecendekiaan yang sanagt tinggi dari pengarangnya. Buku ini disusun atas dasar kompilasi dari tak kurang dari tiga puluh karangan-karangan Arab dan Parsi mengenai keagamaan dan politik, kebijakan kenegaraan dan kemasyarakatan, sejarah dan tata susila. Bahsa Taj as-Salatin mengandung turunan-turunan bahasa Parsi. Ini bisa dilihat dalam sisipan bentuk-bentuk puisi Parsi, yaitu masnawi, ghazal dan ruba’I, dalam penggunaa saj’, dalam kata pengantar atau eksordiumnya yang bercorak khusus, serta dalam pemilihan karangan-karangan yang dikutip. Semuanya itu menunjukkan tentang pribadi pengrang Taj as-Salatin, bahwa ia seorang pujangga cendekiawan Parsi (atau berbahasa Parsi).

B. Bustan As-Salatin (Taman Raja-Raja)

Taj as-Salatin pada pokoknya sebuah kitab teologi-etis. Makna yang ditunjukkan kitab ini ialah, bagiamana hukum Ilahi menegakkan harmoni dunia, yang di dalam kehidupan masyarakat diwujudkan dalam pemerintahan yang bersendi atas akal dan keadilan. Perjalanan sejarahnya pun, misalnya dalam gangenealogi raja-raja Iran sebelum Islam, pada hakkatnya tidak lain merupakan Ilustrasi untuk konsepsi etika yang dirumuskan oleh bukhari al-Jauhari itu. Malalui penghayatan konsepsi tersebut bangsa melayu diberi kemungkinan untuk masuk ke dalam golongan umat Islam yang berbudaya.

Adapun Bustan As-Salatin adalah sebuah kitab hidayat yang bersifat teologis historis. Di dalamnya dilukiskan gambaran  dinamis tentang penciptaan alam semesta dan kelanjutan prose situ, yang dimuitu sejarah dunia, namun terutama sejarah dunia islam. Pada pasal-pasal terakhir bab sejarahnya, Bustan As-Salatin Nurudin ar-Raniri tegas memasukkan sejarah bangsa melayu kedalam sejarah dunia yang dipaparkan sebelumnya. Dengan demikian dia seakan-akan menamatkan pekerjaan yang dimulai oleh pengarang sejarah melayu, yang kroniknya dari versi tahun 1612 diketahui dengan baik oleh syekh dari Gujarat ini.

Berdasarkan uraian tersebut dunia melayu, melalui sejarahnya yang bermula dari Iskandar Zurkarnain, mempunyai akarnya di dalam system budaya Islam. Barulah kepada bangsa Melayu seakan-akan dianjurkan konsepsi tentang etika sosial, tingkah laku raja-raja dan pembesar-pembesa Negara, seperti yang dicerikan di dalam Taj as-Salatin, juga tentangdasar-dasar pendidikan dan ilmu pengetahuan Islam.

4. SASTRA SEJARAH

A. Silsilah Raja-Raja Din Negeri Kutai

Di dalam Salasilah Raja-Raja Kutai ditulis, bahwa batara agung Dewa sakti turun dari langit dalam wujud bola emas yang bersinar. Sedangkan kronik Kalimantan yang lain, Hikayat Banjar, menyebutnya bernama Suryanata yaitu Raja Matahari; dan menambahkan juga, bahwa dialah yang dapat mengawani tuan putri yang lahir dari buh itu, karena matahari dan air merupakan pasangan yang sempurna. Menarik pula diperhatikan gema yang samar-samar dari tulisan pada tiang-tiang korban tersebut, yang terdengar di dalam mitos ini. Disebutkan di dalam tulisan itu tentang cikal-bakal dinasti yang memerintah, bukannya seorang tokoh (barangkali kepala suku) bernama khas Indonesia, tetapi Asywawarman yang bagaikan matahari telah menumbuhkan dinasti yang mulia itu.

Mitos ini tidak sekedar melukiskan perkawinan Raja Matahari dengan Putri Air saja. Lebih lanjut di ceritakan tentang anak yang lahir dari perkawinan mereka, yaitu paduka Nira ia telah memilih sebagai istrinya, seorang gadis yang ditemukan di dalam buluh betung sebagai putri bumi, yaitu Putri Paduka Sura. Keturunan mereka itulah yang nantinya menjadi Raja Kutai. Dengan demikian hak dinasti kutai atau takhta didasari kenyataan, bahwa cikal bakal dinasti ini merupakan pengajawantahan unsure-unsur kosmik, yaitu matahari, air dan bumi, dan sekaligus semua tingkatan alam semesta, yaitu dunia atas, duinia bawah, dan dunia tengah. Unsure-unsur dunia itu diikat dengan perkawinan suci, sebagai lambing kesatuan harmonis anatara alam semesta dengan proyeksinya di atas bumi, yaitu lembaga kemanusiaan.

B. Hikayat Patani

Hikayat Patani. Adalah sebuah kitab kronik yang bersusun campur Aaduk, tentang kesultanan Patani yang terletak di semenanjung malaka timur laut, dan di ubah dalam abad -17-18. Berdasarkan isisnya kitab kronik ini sangat berbeda dengan salasilah Raja-raja di Negri Kutai. Episode-episodenya yang yang bersifat mitos sngat pendek. Hikayat ini lebih banayak tertuju pada kisah tentang lahirnya kerajaan Patani dengan Negeri-negeri tetangga siam, Johor dan lain,  kejadia-kejadian di dalam dan di luar negeri semasa kekuasaan dinasti setempat dan dinasti yang berasal Kelantan, yaitu mulai pertengahan abad ke-16 sampai akhir abad ke-17. Walaupun kebanyakan kejadian yang dicatat di dalam kronik ini memang pernah benar-benar terjadi, namun dalam Hikayat Patani tidak hanya tertulis sebagai tulisan yang benilai Historiografi belaka, tetapi merupakan sebuah kaya yang bernilai sastra (belles-lettres).

C. Hikayat Marong Mahawangsa Sintesis

Awal hikayat ini disusul dengan bagian yang bersifat legendaries-historis yang menceritakan tentang negeri Lngkasuka yang timbul mendahului kerajaan kedah. Kota yang didirikan oleh Marong Mahawangsa ini cepat berkembang menjadi kota pelabuhan dagang yang makmur dan banyak penduduknya. Tetapi letak langkasuka yang terlalu dekat dengan langkapuri , yang berpenduduk gergasi atau raksasa, tidak hanya menentukan kesejahteraannya tidak juga menjajnjikan mala petaka kelak. Semuanya itu terjadi karena Marong Mahawangsa, putra dewa kayangan itu , ingkar dari kehendak ibu-bapaknya dan mengawini permpuan gergasi. Apalagi penduduk asli langkasuka itu pun para gergasi.

Padaumumnya tendensi keisaman di dalam Hikayat Marong Mahawangsa tersingkap dengan sangat jelas. Tendensi ini bukan hanya member warna pada isi hikayat dan pemilihan sumber sastranya saja, tetapi juga menyebabkan motif-motif mitologi diabaikan atau kehilangan makananya. Dalam hal ini misalnya motif kelahiran raja dan permai suri dari buluh dan buih. Dalam pada itu pertentangan dengan tradisi melayu asli, motif pemberontakan menentang raja lalim dibenarkan dan bahkan diberi tempat yang baik oleh pengarang. Secara menyeluruh tujuan Hikayat Marong Mahawangsa ialah menafsirkan makna sejarah yang tersirat dan menyusun semacam karang adab bercorak sejarah untuk member pendidikan dan nasehat bagi raja-raja.

5. EPOS SEJARAH KEPAHLAWANAN SINTESIS

Hikayat Hang Tuah

Hikayat Hang Tuah memang membangkitkan asosiasi dengan sejarah johor sekitar tahun 50-801n abat ke-17, pertama-tama berkaitan dengan permusuhan antara kesultanan-kesultanan Johor dan Jambi di Sumatra selatan. Menurut pendapat peneliti dalam melukiskan pertentangan antara malaka dan majapahit, yang mengambil yang mengambil sebagian besar tempat didalam hikayat itu, sebenarnya malaka merupakan lambang yang wajar untuk Johor, sedangkan Majapahit ialah lambing Jambi. Hubungan simbolis antara Majapahit dan Jambi juga tidak nampaknya dibuat-buat, karena para Raja dan bangsawan Jambi mempunyai nama dan sebutan gelar yang bergaya jawa, dan negerinya pun merupakan vassal keraan Mataram di Jawa.

Baca Juga :

Please rate this

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.