Semantik Dalam Kajian Makna Sosial

Kajian Makna dan Konstruksi Budaya

Oleh :

A m s i r .M.Hum

Semantik dalam kajian makna sosial

  1. Pengertian Semantik

Semantik adalah telaah makna. Semantik menelaah lambang-lambang atau tanda-tanda yang menyatakan makna, hubungan makna yang satu dengan yang lain, dan pengaruhnya terhadap manusia dan masyarakat. Oleh karena itru, semantik mencakup makna-makna kata, perkembangannya dan perubahannya. Jadi semantik adalah adalah ilmu yang mempelajari tentang makna sebuah kata.[1]

 Kata semantik ini kemudian disepakati sebagai istilah yang digunakan untuk bidang linguistik yang mempelajari hubungan antara tanda-tanda linguistik dengan hal-hal yang ditandainya. Atau dengan kata lain, bahwa semantik itu adalah bidang studi dalam linguistik yang mempelajari makna atau arti dalam bahasa. Oleh karena itu, kata semantik dapat diartikan sebagai ilmu tentang makna atau tentang arti, yaitu salah satu dari tiga tataran analisis bahasa : fonologi, gramatikal, dan semantik.[2]

Semantik mengandung pengertian “studi tentang makna”. Studi yang mempelajari makna merupakan bagian dari linguistik. Seperti halnya bunyi dan tata bahasa, komponen makna dalam hal ini juga menduduki tingkat tertentu. Maksudnya apabila komponen bunyi menduduki pertama, tata bahasa pada tingkat kedua sedangkan komponen makna menduduki tingkat yang terakhir. Hubungan ketiga komponen tersebut karena bahasa pada awalnya merupakan bunyi-bunyi abstrak mengecu pada lambang-lambang yang memiliki tatanan bahasa memiliki bentuk dan hubungan yang mengasosiasikan adanya makna.[3]

 Objek studi semantik adalah makna bahasa. Lebih tepat lagi, makna dari satuan-satuan bahasa seperti kata, frase, klausa, kalimat, dan wacana. Bahasa memiliki tataran-tataran analisis, yaitu fonologi, morfologi, dan sintaksis. Bagian- bagian yang mengandung masalah semantik adalah leksikon dan morfologi.[4]

2. Makna

 Makna adalah apa yang kita artikan atau apa yang kita maksudkan. Ullmann dalam buku Mansoer Pateda “Semantik leksikal” mengatakan, “ada hubungan antara nama dan pengertian; apabila seseorang membayangkan suatu benda ia akan segera mengatakan benda tersebut. Inilah hubungan timbal-balik antara bunyi dan pengertian, dan inilah makna kata tersebut.hubungan timbal-balik antara bunyi dan pengertian, dan inilah makna kata tersebut.[5]

Bagan 1 : Pembagian makna menurut tarigan

Menurut Tarigan membagi makna atau meaning atas dua bagian yaitu makna linguistik dan makna sosial. Selanjutnya membagi makna linguistik menjadi dua yaitu makna leksikal dan makna struktural.[6] Sedangkan dalam karya ini hanya membahas tentang kajian semantik dari sudut pandang makna sosial saja.Seperti yang akan dijelaskan pada poin ketiga di bawah ini.

3. Makna Sosial (kultural)

Sosiologi adalah bidang ilmu yang mengkaji kelompok masyarakat yang lebih luas dalam perkembangan ekonomi dan sosial yang heterogen. Hubungan semantik dengan dua ilmu ini adalah setiap kata yang dihasilkan oleh penuturnya, akan menggambarkan makna bahasa dalam suatu kelompok masyarakat tertentu beserta budayanya. Hanya saja hubungan semantik dengan sosiologi mengarah pada kehidupan masyarakat sosial.

Makna sosio-budaya sangat erat kaitannya dengan kultur budaya dan hubungan sosial di masyarakat. Soemarno memberikan contoh banyak sekali baik yang berkaitan dengan hubungan kekeluargaan, cara pandang terhadap dunia kehidupannya, istilah stereotif, peristiwa budaya, istilah bahasa maupun masalah sapa menyapa.[7] Misalnya, penerjemahan ‘Laane’, ‘Wa oti’, ‘Waina’, ‘Mancuana’ sampai penggunaan kalimat ‘Bolimo Karo Somanamo Lipu’. Tanpa diuraikan dengan jelas, para konsumen hasil terjemahan akan kesulitan memahami istilah-istilah yang menyangkut masalah budaya tersebut. Disamping itu, Machali menyebut makna sosio-budaya sebagai makna sosiokultural, yaitu “makna yang terbentuk oleh budaya setempat atau juga mempunyai muatan sosial tertentu”.[8] Contohnya adalah kalimat “Ibu Rumah Tangga” yang tidak ada dalam budaya “barat” sehingga tidak ada kalimat seperti “ Mother House ”. Untuk makna yang bermuatan sosial adalah misalnya kata “wife” dalam bahasa inggris; kata ini banyak digunakan oleh mereka.

Contoh lainnya:

Kata “Waoti” (dalam bahasa Buton) dengan kata “Daeng” (dalam bahasa Makassar). Kata “Laode” akan menggambarkan identitas kelompok masyarakat Buton, sedangkan kata “Daeng” menggambarkan identitas masyarakat Makassar. 

Daftar Pustaka

Abdul Chaer, Pengantar Semantik Bahasa Indonesia, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1995.)

Aminuddin. Semantik, (Bandung: Sinar Baru. 1988.)

Pateda Mansoer, Semantik Leksikal, (Jakarta: Rineka Cipta. 2001.)

Tarigan H.G, Pengajaran Semantik, (Bandung : Angkasa. 1985.)

Soemarno, T. Sekitar masalah budaya dalam penerjemahan, (Surabaya: Makalah dalam Kongres linguistik Nasional. 1997)

Machali, R. Pedoman bagi penerjemah, (Jakarta: PT Grasindo. 2000)


[1]Abdul Chaer, Pengantar Semantik Bahasa Indonesi. (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1995.) hlm. 5.

[2]Abdul Chaer, Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. hlm. 6

[3]Aminuddin. Semantik. (Bandung: Sinar Baru. 1988.) hlm. 15.

[4]Aminuddin. Semantik. hlm. 6

[5]Mansoer Pateda, Semantik Leksikal.( Jakarta: Rineka Cipta. 2001.) hlm 45.

[6]H.G. Tarigan, Pengajaran Semantik. (Bandung : Angkasa. 1985.) hlm 11.

[7]T. Soemarno, Sekitar masalah budaya dalam penerjemahan. (Surabaya: Makalah dalam Kongres linguistik Nasional, 1997).  Hlm. 3

[8]R. Machali, Pedoman bagi penerjemah.(Jakarta: PT Grasindo.2000).  Hlm 25

Please rate this

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.